687

Rekomendasi PHI. Detik Waktu: Perjalanan Karya Cipta Candra Darusman

Di ranah musisi pop dan rock era 70an, sebenarnya, ini jujur menurut saya ya, nama Candra Darusman sebenarnya tak terlalu diperhitungkan. Tak cuma Candra, artis solo sebenarnya dianggap biasa-biasa saja.

70an adalah era group, era band. Jelas saja, saat itu Koes Plus masih berjaya, belum Panbers, Favorites, dll. Lanjut di era Hard Beat aka musik keras, grup-grup rock menggempur; AKA, God Bless, sampai Black Brothers semua hadir dengan lagu-lagu terbaiknya.  

Menginjak akhir 70an, saat group rock memudar karena mulai main dangdut, melayu dan lagu-lagu menye yang tak jelas juntrungannya. pelan-pelan kejayaan grup rock mulai pudar. Di situlah artis solo menemukan ruangnya. Soundtrack Badai Pasti Berlalu menemukan momennya, satu per satu artis solo mulai dilirik dan dikontrak, nama-nama dari Yockie, Chrisye, dan Fariz, Guruh Soekarno Putra muncul. Mereka-mereka sangat mendominasi sirkuit dan panggung pop dan rock juga jazz di kota-kota besar.

Lalu dimanakah posisi Candra Darusman? Kalau boleh dibaratkan, posisi Candra Darusman ada di Universitas Indonesia. Dibalik bangku kuliah dan rindang serta hijaunya pohon waktu itu, Candra dan teman-teman Chaseiro membuat sirkuit jazz di sana di pertengahan 70an bernama Jazz Goes To Campus (JGTC) yang masih lestari. Hingga kini, sirkuit JGTC tambah besar dan besar.

Chaseiro sendiri mulai dikenal dari kompetisi vokal grup Radio Amigos tahun 1978. Album pertamanya, Pemuda baru dirilis tahun 79 disusul Bila di tahun yang sama oleh Musica Studios, label yang sama menaungi karya-karya Candra Darusman dua tahun setelahnya.

Saya sendiri tak menemukan catatan-catatan panggung Candra Darusman kecuali beberapa penampilannya di TVRI. Di Musica saat itu albumnya hanya dua, Indahnya Sepi (1981) dan Kekagumanku (1983). Era itu pun namanya terlibas dengan rekaman-rekaman Chrisye – Yockie, ladang emas Musica. 

Meski demikian, meski bekal 2 album, namun buat scene jazz dan pop, dua album ini adalah ‘cawan emas’ bagi kolektor-kolektor rilisan fisik diluar sana. Piringan hitamnya sendiri jadi rebutan di mana-mana, selain juga kasetnya.

Baca juga:  Resensi : Foolish Commander - The Undying Recital