347

Rekomendasi PHI – Herry Sutresna “Setelah Boombox Usai Menyalak”

Pembaca, resiko sudah datang di awal. Dengan menyanggupi permintaan editor Pop Hari Ini untuk membuat tulisan rekomendasi terhadap buku Setelah Boombox Usai Menyalak, saya sekali lagi terkena hasrat belanja musik.

Sangat sulit untuk tidak membaca buku ini sambil menyimak lagu-lagu dan album yang disebutkan di sana, mulai dari membuka Youtube hingga kebelet ingin membeli rilisan-rilisan itu. Herry Sutresna, si pengarang buku, lebih dari suka, lebih dari mengerti, namun menjiwai apa saja yang ditulisnya.

Jadi. sambil menulis rekomendasi ini, saya sebetulnya menunggu-nunggu hari lebih siang lagi dan toko-toko musik buka di Blok M Square, Jakarta, untuk saya comot beberapa koleksi CD mereka.

Saya sudah membaca setiap tulisan di buku ini berkali-kali. Mulai dari tulisan berjudul “Bapa”, sebuah kisah personal tentang sang ayah, yang memang sangat cocok untuk dijadikan tulisan pembuka. Hampir seperti pondasi, memori yang dibagikan pada “Bapa” cukup memberi pemahaman asal muasal ketertarikan penulis kita terhadap seni dan juga politik, yang tak mungkin dipisahkan bila menyebut nama Herry Sutresna.

Baca juga:  Resensi: Kelompok Penerbang Roket – Galaksi Palapa

Nama itu sebetulnya pertamakali saya kenali dari lembaran sampul album kedua Pure Saturday,  (utopia) yang dirilis pada 1999, di mana tertulis bahwa judul lagu “Langit terbuka luas, mengapa tidak pikiranmu, pikiranku?” diambil dari puisi tanpa judul gubahan Herry Sutresna. Dan dari tulisannya di buku ini, kita pun paham bahwa Herry dan Adi, mantan personil Pure Saturday, adalah teman SMP. Adi yang memperkenalkan Herry pada Minor Threat, salah satu band hardcore punk yang sangat menginspirasi Herry (simak halaman 79: “Ian MacKaye is My Saviour” HC Punk Mixtape).

Tentu, kebanyakan dari kita mengenal Herry Sutresna dengan “nama bekennya”: Ucok “Homicide”. Kita tahu bahwa Homicide merupakan salah satu unit hiphop yang paling dikenali ciri khasnya, paling menginspirasi, paling dihormati keberadaannya. Maka tulisan-tulisan Herry Sutresna tentang hiphop yang dicintainya itu, sangat sebanding dengan musik-musik yang dibuatnya.  Terjadi bahkan pada penyunting buku ini, juga pada banyak teman-teman: kami jadi jauh lebih mengerti dan lebih menyukai hiphop karena tulisan-tulisan Herry Sutresna. Sudah seperti hafalan pada berbagai penerbitan, jika membutuhkan tulisan tentang hiphop, maka serahkanlah pada ahlinya; Herry Sutresna.

Baca juga:  Resensi Kunto Aji - Mantra Mantra

Herry menulis dengan gairah kesurupan. Persis seperti kita saat baru makan di restoran terenak di lidah kita dan segera merekomendasikannya kepada siapa saja dengan penuh semangat. Dengan latar belakang sebagai pembaca fanzine, begituah semangat menulis Herry bekerja. Bonus bagi kita sebagai pembaca, Herry bukan cuma seorang penggemar musik, tapi juga buku, senirupa, dan aktivisme. Dengan begitu, tulisan-tulisan musik personalnya yang penuh gelora itu bukan lagi hanya tulisan standar seorang penggemar musik yang sedang membagikan kecintaannya. Ada lebih banyak wawasan yang bisa kita baca, data-data dan emosi yang menakjubkan, terlepas dari setuju atau tidak kita pada opini-opininya.

Herry Sutresna adalah seorang pemusik, penulis, desainer grafis, dan beberapa hal lagi (termasuk pemilik Grimloc Records), yang kesemuanya dia lakukan dengan etos tinggi, Tulisan-tulisan di buku Setelah Boombox Usai Menyalak terbitan Elevation Books ini, mendapatkan segala elemen kehidupan penulisnya, hingga memiliki gaya tulisan yang tersendiri. Buku ini sangat berpotensi menjadi hal yang menarik bagi setiap pembacanya, saat pemutar musik berhenti atau menyala.

Baca juga:  Resensi : Sundancer - Musim Bercinta

 

*buku ini tersedia di PHI Store

 

____