336

Resensi Anjing Dub – Gembira

Artist: Anjing Dub
Album: Gembira
Label: Dub House Records
Peringkat Indonesia: 7/10

Perkenalkan Anjing Dub, duo asal Bandung yang memainkan musik dub asal Jamaika yang mengawang-ngawang dengan sentuhan reverb dan echo yang basah di mana-mana.

Adalah Daniel Usman personil band reggae kugiran, The Paps asal Bandung yang menjadi pilar duo ini. Dengan mengajak seorang aktivis penggagas taman kota, Terranova Waksman sebagai vokalis, Anjing Dub dibentuk pada 2013. Awalnya mereka meng-cover lagu-lagu populer ke dalam musik Jamaika dengan nuansa dub dan elektronik yang kental. Salah satunya adalah “Your Love Is King” milik Sade, dan “Send Me A Postcard” milik Shocking Blue.

Setelah wara-wiri membawakan lagu cover dalam versi Jamaika baik di panggung-panggung maupun mengunggahnya di internet melalui akun Soundclound resmi mereka, nama mereka kemudian bergaung cukup keras terutama di kalangan penggemar musik Jamaika.

Baca juga:  Resensi: rrefal - Sweet Sweet Palm Sugar

Di penghujung 2018 kemarin Anjing Dub lalu resmi merilis singel perdananya berjudul “Gembira”. Di awal 2019 ini album penuh berjudul sama, Gembira dirilis dalam bentuk CD dan kaset, serta tersedia dalam bentuk streaming digital pada tanggal 1 Mei kemarin.

Telah lama wara-wiri di panggung dengan format Live PA, Anjing Dub mengemas musiknya dengan bentukan yang kurang lebih sama sama. Menggunakan sampling drum dengan menggunakan instrumen bass dan kibor sesungguhnya dan di sini Daniel bertindak sebagai produser albumnya sendiri. Album ini dirilis oleh Dub House Records, kolektif yang aktif dan banyak membuat acara-acara bertema musik Jamaika di Bandung.

Album Gembira memuat 10 lagu dengan lirik bahasa Indonesia dan Inggris. Durasi lagu-lagu yang terbilang pendek. Sehingga bila ditotal hanya berdurasi hampir 30 menit. Album perdana ini dibuka dengan lagu berjudul “Dancing To Your Life” yang memiliki ketukan drum disko dengan bassline nge-punk. Cukup mengecoh untuk memilih lagu pembuka yang unsur dub-nya tidak. Namun ternyata unsur dub-nya baru muncul ketika Terranova bernyanyi dan ditingkahi suara synthesizer serta vokal dan bebunyian kibor yang berkejar-kejaran menggunakan efek reverb dan echo yang sangat ‘becek’ seperti pada musik dub pada umumnya.

Baca juga:  Resensi: Heavy Metal Parents: Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an

Formula itu yang kemudian lazim ditemui pada keseluruhan album perdana Anjing Dub ini. Musik mengawang-awang, dengan notasi vokal ganjil yang menghantui, ditingkahi dengan suara synthesizer dan kibor yang berkejaran dengan efek reverb dan echo khas musik dub dan tentunya bassline cathcy khas musik reggae/dub. Vokal Terra sendiri terdengar cukup unik. Sama sekali tidak terpatok mengikuti pada notasi vokal ala musik Jamaika tradisional pada umumnya. Seringkali juga bernyanyi fales, namun karena vokalnya sudah berkarakter, jadi masih aman untuk dinikmati.

Dari sisi lirik lagu-lagu Anjing Dub yang banyak berbicara tentang keseharian, ada satu lagu berbeda yang cukup menarik perhatian. Adalah lagu “Keledai Kedelai” yang berbicara tentang kaum buruh. Lirik lagu ini sontak lekas langsung menarik perhatian. Simak liriknya di bawah ini:

Baca juga:  Resensi: Niki - wanna take this downtown?

Selamat pagi matahari / Pagi ini sudah siap mengabdi / Dengan wajah yang ceria / Keledai siap bekerja / Menjadi alat produksi, bercocok tanam bertani, keledai bekerja keras dengan otak yang cerdas.

Ayo sarapan pagi / Makan tahu tempe dan nasi / Wajib setiap hari walau tidak produksi sendiri / Produk dalam negeri, Lebih baik kita beli  / Walau semua monopoli, negara sesuka hati.

Keledai Kedelai, Jadilah kita orang pandai / Keledai Kedelai tapi lebih enakan santai.