784

Resensi: Barasuara – Pikiran dan Perjalanan

Dinamika lagu-lagu di album Pikiran dan Perjalanan ini dirasa terlalu padat. Padahal berkenan sekali apabila Barasuara memperlakukan lagu penutup “Tirai Cahaya” di bagian akhir lagunya tanpa digempur lagi dengan distorsi gitar dan cymbal drum. Meskipun itu berarti mengulangi formula lagu “Taifun”. Atau merelakan lagu “Haluan” yang bernunansa ragga/dance-hall ala Jamaika ini menjadi lagu Barasuara yang sepenuhnya joget-able dan fun seperti umumnya musik Jamaika. Tapi alih-alih chorus-nya kembali membara, dengan perubahan mood lagu naik turun dan tidak menyisakan ruang untuk kejutan.

Keseluruhan album ini terdengar dibuat begitu sempurna. Bahkan terlalu sempurna sehingga kurang manusiawi. Padahal penting memberikan ruang untuk kesalahan dan kesederhanaan. Seperti memberikan ruang bagi lirik–lirik puitis Iga agar tidak bertabrakan dengan megahnya musik dan aransemen Barasuara. Kedua hal yang jadi kekuatan dan kelebihan Barasuara itu di album ini sangat disayangkan malah jadi saling berteriak dan berlomba meminta perhatian. 

Barasuara. Foto: Provoke!

Meskipun begitu tidak bisa dipungkiri bila album kedua ini Barasuara merupakan salah satu pencapaian estetika tertinggi dalam musik rock di Indonesia, bahkan mungkin dalam beberapa dekade ke belakang. Belum ada grup musik rock lain di Indonesia yang bisa menyaingi pencapaian estetika seperti Barasuara. Baik dari segi lirik, aransemen hingga detail produksi. Dan bila bicara estetika dalam musik rock, rasanya tidak berlebihan jika menyandangkan Barasuara di era sekarang dengan apa yang pernah terjadi pada band legendaris 90an, Dewa di tahun 2000an. Terutama dari segi pencapaian estetika, pasar dan terutama ambisi.

Terlepas dari berbagai masukan di atas, Barasuara sudah melakukan PR nya dengan baik. Pencapaian estetika yang ambisius, musiknya tetap membara dan membakar, riff-riff dan notasi vokalnya yang anthemic dan catchy as f*ck, lirik puitisnya yang semakin tinggi, sehingga bisa cukup dinikmati ‘tipis-tipis’ saja. Vokal Iga pun banyak berkembang. Lebih bernyanyi dan bisa lebih sangar.

Dalam Pikiran dan Perjalanan Barasuara jelas memilih untuk terus tancap gas, bersenang-senang di panggung dengan energinya dan menghibur para Penunggang Badai. Karena sekali lagi nama adalah doa. Tidak terbayang bila Barasuara harus menahan emosinya agar tidak meledak-ledak apalagi harus lebih kalem dan menenangkan. Karena nama adalah doa, dan kalau benar itu terjadi mungkin Barasuara harus mengganti namanya dengan: Teduhsuara. Dan Penunggang Badai mau tidak mau menjadi: Penunggang Semilir.

 

Baca juga:  Resensi : Gabriel Mayo - In Between

____