Resensi: Danilla – Fingers

447

Berbagai tema mendapatkan perhatiannya di lagu ini. Politik, kekuasaan, sosial, isu perempuan, hingga tentunya percintaan. Dan sangat menyenangkan mendengarkan semua itu dibalut petikan gitar elektrik basah, sepi dan menenangkan. Begitu minimalis, namun memberi ruang yang sangat cukup untuk karakter vokal alto Danilla yang begitu hangat. Sehingga musik yang tadinya sudah menenangkan, bagai mendapatkan dosis penenenang tambahan.

Hal itu bisa disimak melalui liukan bluesy vokalnya di “Thumb”, vokal lirihnya di “Index”, desah yang hangat dan menenangkan di “Middle” dan “Ring”. Dan kembali bluesy di lagu penutup “Pinky” yang ketika disimak seksama progresi kord dan notasi vokalnya ternyata merupakan satu lagu utuh dengan “Thumb”.

Bila dibandingkan album kedua Lintasan Waktu, Fingers terasa tidak semuram album sebelumnya. Fingers yang lebih minimalis dan menenangkan ini pun menandai babak baru Danilla selain sebagai penyanyi sekaligus juga gitaris. Karena semua layer instrumen gitar di album ini dimainkan dan diaransemen sendiri olehnya. Soal aransemen ini juga patut digaris bawahi. Karena langkah besar lainnya adalah ia mengaransemen dan menjadi produser tunggal album mininya ini sendiri. Nama produser/gitaris Danilla, Lafa Pratomo yang biasanya menjadi bayang-bayang sosoknya hanya mengisi 1 bagian gitar dan mengerjakan proses mixing-nya saja.

Hal lain yang jadi perhatian adalah bila di album sebelumnya berbahasa Indonesia, kali ini lirik lagu yang ditulis seluruhnya berbahasa Inggris, dan berhasil dieksekusi dengan baik. Baik lirik maupun pengucapannya tanpa terdengar ganjil. Sehingga album mini ini menambah panjang kebisaan seorang Danilla. Sebagai singer/billingual-songwritter, sekaligus gitaris/produser yang cukup menjanjikan.

 

____