182

Resensi: Elephant Kind – The Greatest Ever

Artist: Elephant Kind
Album: The Greatest Ever
Label: Cubs Club
Peringkat Indonesia: 8/10

Setelah album penuh City J (2016), dan 2 mini album, Promenades: A Short Film By Elephant Kind (2015) dan Scenarios: A Short Film by Elephant Kind (2014) band indie rock kebanggaan ibu kota ini kembali dengan album penuh berjudul The Greatest Ever yang dirilis Maret 2019 kemarin. Dengan kombinasi judul berani dan artwork nakal menggoda cukup membuat kami di Pop Hari Ini penasaran. Walaupun sebetulnya rasa itu sudah muncul dari sebelumnya ketika di akhir 2018 mereka merilis video musik singel pertama dari album ini yang berjudul “Sour”.

“Sour” yang sangat sendu hadir secara akustik. Dan visualnya dibalut video musik ciamik ini digarap sutradara Ibnu Dian yang sukses memadukan musik minimalis dengan video bergaya arthouse yang penuh makna. Di singel ke 2 “Pleaser” EK muncul lebih humoris melalui video musik dan sempilan lirik tentang Pondok Indah Mall dan gadis-gadis cantiknya. Jangan lupakan bagian seru ketukan jungly/Afrikanisme primitif khas EK di bagian bridge-nya dan ditutup dengan coda yang melayang-layang. Ciamik. Perkenalan album ini dilanjutkan dengan singel ketiga melalui video musik “I Believe In You” yang mempunyai bassline ter-catchy dalam album dan juga mungkin bassline ter-catchy di sepanjang awal musik Indonesia di 2019. Pun lagi-lagi di video ke 3 yang masih digarap juga oleh Ibnu Dian ini kita kembali disuguhkan visual berwarna kemerahan yang ternyata menjadi palette color album kedua mereka.

Baca juga:  Barasuara, Elephant Kind dan The Adams Berpesta Bersama

Pertanggung jawaban arah warna ini ternyata adalah artwork sampul album The Greatest Ever yang berwarna kemerahan dan terlihat nakal dengan wujud foto bungkus kemasan kondom. Warna kemerahan dengan pencahayaan yang sama diaplikasikan juga di foto-foto resmi EK, dan video musik. Sangat mengingatkan pada pencahayaan dan warna neon sign di area red district yang bisa disebut sebagai kawasan prostitusi ‘premium’. Karena pekerja seks ‘premium’ yang biasa ada di luar negeri ini diwajibkan membayar pajak ke pemerintah. Walaupun nuansa sensual dijajakan kental pada lirik, visual dan warna album ini namun ternyata The Greatest Ever tidak melulu bicara soal itu.

“I Believe In You” misalnya dikemas menjadi lagu patah hati yang joget-able sekaligus melamun-able (Got to let you go. We all need to grow. Though I do believe. Yes I do believe in). Lalu ada sindiran terhadap keoptimisan (?) di lagu paling upbeat “Better Days” (These are the better days. If not today must be tomorrow. If not today must be) dan “Watermellon Ham” yang bertempo di medium berbicara tentang cinta, ego dan seks tentunya. (Oh Submarine, and one bed motel. We settle this tonight. The old-fashioned way)

Baca juga:  Resensi: Seringai - Seperti Api

The Greatest Ever banyak memuat lagu balada bertempo lambat. Namun jebakannya adalah komposisi tersebut berpotensi membuat album ini terdengar monoton, meskipun disiasati dengan dinamika album yang tertata. Buktinya adalah mood kita yang dinaik-turunkan sedari lagu pertama “One” hingga lagu terakhir. Termasuk keputusan mengahiri lagu dengan balada “Lights Up” yang menyayat setelah “Better Days” yang paling joget-able.

Tapi karena EK memiliki vokalis yang benar bisa bernyanyi, keputusan tersebut sama sekali tidak salah dan malah membuktikan jika balada-balada tersebut malah jadi terdengar sangat bernyawa dinyanyikan oleh Bam Mastro sang vokalis. Balada-balada itu adalah “Feels” yang secara harfiah berbicara soal rasa dan emosi, “Maccas” yang sangat sensual, “Jim Halpert” yang singkat tapi juga humoris (I cant fuck with sneakers, cause I got Vans deal), dan harus sekali lagi disebut, “Lights Up” yang secara simultan berbicara soal zina/penciptaan dan kematian (Lights up tonight, While fornicating, When I’m done with this life).

Baca juga:  Resensi: Pijar – Antologi Rasa

Secara keseluruhan, band dengan vokalis pria yang bisa benar-benar bernyanyi apalagi dengan cengkok R&B adalah harta karun yang sangat langka dalam musik independen Indonesia. Ditambah drummer Bayu Adisapoetra yang selalu bermain pukulan-pukulan primitif yang meriah dan selalu memancing badan bergoyang. Kombinasi itu adalah 2 aset utama Elephant Kind saat ini. Dan semua itu disempurnakan oleh kehadiran bassis baru Kevin Septanto yang merespon groove yang diciptakan Bayu dengan baik membuat chemistry dan musik Elephant Kind di album ini terasa solid dan sulit dicari tandingannya.

Musik yang apik, berbicara soal sensualitas kehidupan, serta pengemasan visual dan grafis ciamik, ditambah penampilan para pria-pria ini yang memang sangat dikenal stylish dengan gaya berpakaian trendi baik di panggung atau sehari-hari, semua itu membuat Elephant Kind dengan The Greatest Ever-nya terdengar seperti tanpa cela. Dan menariknya mereka terdengar melakukan semua itu sambil tetap bisa bersenang-senang.

Elephant Kind, 2019 / dok. Elephant Kind

 

____