Resensi: Heavy Metal Parents: Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an

520

Penulis: Yuka Dian Narendra, Gita Widya Laksmini
Judul: Heavy Metal Parents. Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an
Penerbit: Octopus Publisher
Peringkat Indonesia: 8/10

Jargon “generasi menolak tua” yang digadang-gadang oleh band metal Seringai sejak 2004 kini menjadi realistis bagi generasi tertentu. Dan buku ini mampu menjelaskan alasan hal itu secara detail.

Buku Heavy Metal Parents: Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an ini ditulis dosen/penulis sekaligus metalhead, Yuka Narendra dan dibantu sesama metalhead, Gita Widya Laksmini. Buku setebal 260 halaman ini berisi pengamatan mereka atas perkembangan genre musik metal di Indonesia terutama penggemarnya di era 80an. Pemilihan genre ini tidak lepas dari kesamaan minat mereka dan sebagai sesama penggemar musik metal alias metalhead. Dan selain perkembangannya, subjek utama buku ini adalah identitas kultural para metalhead Indonesia era 80-an yang kini telah hidup mapan, menjadi orang tua serta memiliki anak.

pemaparan pembentukan identitas seseorang terhadap musik yang disukai  di buku ini bisa juga dipakai untuk mengkaji subkultur musik lain di Indonesia yang tengah populer saat ini seperti, KPop.

Menariknya buku ini adalah selain padat referensi dan teori dari berbagai pakar cultural studies subkultur seperti Dick Hebdige dan Stuart Hall, penulis juga turun langsung mewawancarai belasan metalhead Indonesia era 80-an dan secara terpisah mengumpulkan dan mendudukan para “orang tua metalhead” ini dalam sebuah focus group discussion (FGD). Hasilnya adalah sebuah kenyataan menarik bagaimana metalhead 80-an di Indonesia bisa berbeda dengan metalhead di belahan dunia lain. Situasi ini tentunya tak terlepas dari situasi budaya dan politik di Indonesia pada saat itu. Ketika Orde Baru membuka pintu terhadap globalisasi dan budaya populer barat yang sebelumnya ditutup rapat-rapat.

Kelebihan metalhead 80-an Indonesia yang berbeda ini menjadi salah satu hal yang dibahas secara menarik di buku ini. Bagaimana mereka mengonsumsi metal “palsu” melalui kaset metal impor bajakan yang dijual bebas di Indonesia, yang bahkan urutan lagunya berbeda dengan album aslinya, dan kadang diselipkan satu lagu band berbeda karena unsur efisiensi dari labelnya. Konsumsi metal “palsu” ini juga hadir melalui kaset video MTV yang sejatinya adalah rekaman dari tayangan siaran televisi. Mereka juga menikmati band-band metal “palsu” (cover version) yang rajin membawakan lagu-lagu metal. Semua kepalsuan ini justru membuat metalhead 80-an Indonesia menemukan ke “Indonesia”-annya dan menjadi berbeda.

Selain itu latar belakang sosial politik dan budaya Indonesia juga tidak luput dari pembahasannya. Bagaimana para metalhead 80-an di Indonesia ini berani tampil berbeda ketika Indonesia berada dalam masa Orde Baru yang serba represif dan mengutamakan keseragaman. Musik metal ini kemudian hadir menjadi corong pemberontakan dan sarana pembebasan aspirasi kaum remaja di era reformasi ’98. Ini pula yang menyebabkan cerita musik metal secara keseluruhan di Indonesia menjadi menarik, komplit dan begitu panjang.

Hal menarik lainnya adalah penjabaran posisi ahistoris metalhead 80-an yang mengenal metal secara berbeda dengan metalhead di belahan dunia lain karena keterbatasan informasi serta situasi politik di era 80an. Ahistorisnya karena sebagai subkultur, metalhead 80-an pada saat itu belum melakukan praktek-praktek yang selayaknya ada di dalam praktek subkultur pada umumnya. Dan metalhead 80-an ini juga tidak sempat turut serta menjadi bagian metalhead Indonesia jaman sekarang yang terbentuk justru dari tahun ’90/2000an. Sehingga bisa dibilang mereka tidak mengenal metalhead era sekarang. Padahal tentunya metalhead 80-an ini turut berperan pada eranya mengubah dari sekedar konsumsi budaya populer menjadi praktek subkultur yang penting.

Bagian favorit saya adalah pemaparan pembentukan identitas seseorang terhadap musik yang disukai yang begitu komprehensif dan detail serta disajikan dalam bingkai yang lebih besar. Sehingga bisa diterapkan tidak hanya di musik metal dalam konteks metalhead, tapi bisa juga untuk mengkaji praktek subkultur musik lain yang tumbuh di Indonesia seperti punk, reggae, britpop atau juga bahkan yang tengah populer saat ini seperti K-Pop.

Pada akhirnya, buku ini berhasil menjadi pedoman untuk memahami budaya subkultur musik populer yang berkembang di Indonesia, dalam hal ini musik metal

Bagian favorit lainnya di buku ini adalah ketika membahas perspektif psikologis seseorang ketika mendengarkan musik metal. Baik ketika jadi penyaluran jiwa remaja yang penuh gejolak, atau ketika mampu menjadi jawaban akan isu soal identitas diri, juga mendengarkan metal sebagai pembangkit mood, hingga sebagai kendaraan nostalgia bagi para metalhead 80-an. Terutama perihal musik metal sebagai pembentuk identitas diri, sekali lagi penjabaran pembentukan identitas kultural dalam bingkai besar ini menjadi highlight buat saya pribadi. Karena bisa diterapkan untuk menjabarkan pembentukan identitas subkultur genre musik tidak hanya menyempit pada genre metal semata.

Pada akhirnya, buku Heavy Metal Parents: Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an ini berhasil menjadi salah satu pedoman yang komprehensif dan ilmiah untuk memahami budaya subkultur musik populer yang berkembang di Indonesia, dalam hal ini musik metal. Untuk itu kita wajib berterima kasih kepada duo Yuka dan Gita atas buku Heavy Metal Parents ini.

 

____