81

Resensi: Irvanpopish – Bandung Pop Darlings

Penulis: Irfanpopish
Judul: Bandung Pop Darlings
Penerbut: EA Books
Peringkat Indonesia: 8/10

Pure Saturday menyebar dari Bandung ke banyak kota di Indonesia lewat debut albumnya yang didistribusikan melalui Majalah Hai pada 1996. Suar, vokalisnya, sempat menjadi salah satu sampul majalah itu. Artikel berlembar-lembar tentang Pure Saturday dengan tema “Pop Underground dari Bandung” dihidangkan. Edisi-edisi Hai pun dilengkapi kupon untuk bisa membeli kaset mereka via mail order. Radio-radio mulai memutarkan single “Kosong”, begitu pula kehadiran video musiknya di televisi.

Kesemua itu terjadi ketika informasi anak muda belum banyak terpencar, dan Hai menjadi satu-satunya media cetak lokal yang dibaca oleh banyak remaja pecinta musik. Dari sebuah nama di Bandung, mendadak Pure Saturday dikenal dan dibicarakan di mana-mana.

Pengaruh Pure Saturday sangat besar bagi teman-teman yang relatif seangkatan dengan mereka maupun generasi setelahnya. Bagi saya pribadi, kaset Pure Saturday itu berputar terus menerus, sambil membayangkan untuk mulai menulis lagu dan merekam album band saya sendiri. Lagunya seperti apa? Ya, masih terpengaruh gaya musik Pure Saturday juga!

Baca juga:  Attracts - Asam Haram

Sekitar setahun-dua tahun sebelumnya, Britpop memang mulai berkibar, dengan nama-nama seperti Oasis, Blur, dan Suede sebagai eksponennya. Pulp, yang secara umur band jauh lebih dahulu dibandingkan Oasis atau Blur, juga menuai sukses komersial tertinggi di era tersebut, melalui album Different Class pada 1995. Beberapa tahun sebelumnya, setidaknya The Cure sudah mulai mencuri perhatian beberapa remaja di Indonesia, dengan dirilisnya album Wish yang memuat single “Friday I’m in Love” pada 1992.

Buku Bandung Pop Darlings memiliki banyak cerita tentang hal seputar indie pop dan Bandung. minimal salah satunya beririsan dengan hidup kita sendiri.

Mulai bermunculan band-band yang memainkan Britpop, membawakan lagu-lagu dari band-band kesukaan mereka. Serasa tiba-tiba, hadir Pure Saturday sebagai perwakilan lokal akan arus musik tersebut, dengan rekaman albumnya sendiri.

Baca juga:  Resensi : Polka Wars - Bani Bumi

Di kemudian tahun, saat saya menjadi manajer band Efek Rumah Kaca, kami pernah mengadakan kompetisi/festival video musik Efek Rumah Kaca untuk promo album Kamar Gelap. Saya datang menemui Majalah Hai untuk menyelenggarakannya bersama-sama. Dari mana ide datang ke Hai? Kaset Pure Saturday!

Pengaruh Pure Saturday bagaikan sebuah paket lengkap, mulai dari gaya musiknya, lirik-liriknya (untuk lirik berbahasa Indonesia di lagu “Kosong” dan “Coklat”), estetis sampul albumnya, hingga cara berpromosi dan mengedarkan karyanya.

Setelah haru biru Pure Saturday itu, satu per satu “kehebohan sektoral” datang dari Bandung, sesuatu yang dikenali oleh anak-anak muda “tertentu”: 347 sebagai clothing line, Fast Forward sebagai indie label yang merilis band-band indie pop internasional, Ripple dan Trolley sebagai majalah “alternatif”, serta Poptastic! sebagai acara DJ indie pop. Hingga “pecah” lagi sesuatu yang seperti Pure Saturday dahulu, gaung pop yang begitu terdengar: Mocca dengan debut albumnya My Diary, band Indonesia pertama yang dirilis oleh Fast Forward Records.

pembaca bisa men-Stabilo bagian-bagian buku yang menjadi “miliknya” juga, sambil mengintip “hidup orang-orang lainnya”, sesama penghidup indie pop

Debut album Mocca, My Diary, terjual hingga sekitar 100.000 copies. Pendengarnya dari dulu hingga kini, tersebar dari generasi MTV sampai Youtube dan Spotify. Bertolak hanya dari angka penjualan fisik album itu saja, bisa dibayangkan betapa banyaknya mereka di Indonesia yang hidupnya pernah bertemu dengan indie pop, atau indie pop dan Bandung. 

Buku Bandung Pop Darlings: Catatan Dua Dekade Skena Indie Pop Bandung (1995-2015) memiliki banyak sekali cerita tentang banyak hal seputar indie pop dan Bandung, bukan hanya nama-nama contoh yang disebut di atas—minimal salah satunya beririsan dengan hidup kita sendiri.