Resensi: Irvanpopish – Bandung Pop Darlings

• Oct 14, 2019

Seperti buku-buku musik bertema scene lainnya di dunia, kedekatan personal selalu punya makna berbeda dibandingkan mereka yang “di luar sana”, meskipun siapa saja tentu bisa mendapatkan sesuatu darinya. Satu yang tak terpungkiri adalah bahwa mereka yang mendengarkan indie pop, pernah atau bahkan masih menghidupinya, bisa merasakan kenikmatan lebih dari membaca buku ini.

Buku tentang musisi, atau apalagi scene musik tertentu, merupakan tulisan sejarah, yang bisa saja kita bicarakan secara akademis. Membahasa dari aspek psikologi sampai sosiologi. Politik sampai kesenian. Tapi bagi yang beririsan sacara personal dengannya (walaupun dari jarak yang berjauhan), buku seperti itu juga adalah hiburan yang tersendiri. Dan hiburan itu, bisa jadi, adalah nilai terbesarnya.

perjalanan kisah dua dekade di buku ini menunjukkan segala sesuatu bisa terus dikembalikan pada permulaanya, sambil terus dikembangkan seluas memandang lautan

Buku-buku seperti Please Kill Me: The Uncensored Oral History of Punk karya Legs McNeil dan Gillian McCain, Spirit of ’69: A Skinhead Bible karya George Marshall, atau Our Band Could Be Your Life karya Michael Azerrad tentu lebih berarti bagi mereka yang menyukai musik-musik yang bersinggungan langsung dengan buku-buku itu. Bahkan bila kemampuan bahasa Inggris kita di kisaran Basic 4, buku-buku itu tetap mengundang minat.

Seperti itu pula Bandung Pop Darlings mengambil tempat.

Buku ini menarik untuk dikoleksi. Terlebih, porsi foto cukup seimbang dari keseluruhan jumlah halaman. Beberapa foto yang ditampilkan bahkan bisa jauh melebihi ekspektasi, termasuk sebuah foto Helvi Sjarifuddin dan Dxxxt di hari-hari jauh sebelum mereka membentuk Fast Forward Records (bersama rekan lainnya, Marine), tengah bersama veteran skateboard: Nala dari Street Spyders  dan Ardy dari Apolonia. Ada juga foto Lusi Mersiana dari Kubik tampak samping—menunduk dan bermain bas. JIka bisa lebih banyak lagi foto yang ditampilkan, buku ini tentu akan jadi lebih tebal lagi, tapi sekaligus lebih menarik.

Sampai di sini, sebetulnya resensi sudah bisa berhenti. Terlalu banyak detail tentang buku ini akan menjadi spoiler—kita tahu bahwa spoiler tak hanya berlaku bagi film yang sedang tayang di bioskop, melainan macam-macam hiburan lainnya, termasuk buku tentang sebuah scene musik pop. Mendapatkan sendiri apa-apa yang ada di dalam buku ini akan lebih menambah kenikmatan saat bercengkerama dengannya, ketika cerita-cerita itu membawa kita bagaikan mesin waktu, dibandingkan sudah terlalu banyak “bocoran” yang diketahui sebelum membuka lembar-lembar halamannya.

Sementara bagi pembaca yang memang sama sekali tak pernah bersinggungan sedikit pun dengan indie pop, atau indie pop dan Bandung, atau bahkan sama sekali tak pernah bersinggungan dengan “musik underground”, saya tidak berani merekomendasikannya secara penuh, sebaik apa pun penulis buku berkisah. Sebesar apa pun usaha penulis sampai harus mewawancarai hampir 100 orang untuk merampungkannya, mendengarkan begitu banyak musik indie pop yang begitu disukainya, dan entah berapa literatur yang dibaca untuk memantapkan fondasinya. Kecuali bila rasa ingin tahu pada hal-hal di luar diri pembaca cukup besar. Jika tidak, boleh jadi jenuh sudah datang dari sebelum setengah hidangan buku. Bandung Pop Darlings sudah melebih dari “pintu masuk” yang biasa, dia cukup komplit untuk dipahami keseluruhannya.

Lalu, dengan kondisi industri musik Indonesia yang sudah jauh berbeda dibandingkan masa-masa awal indie pop dikenal dan berkembang di Indonesia, dengan Bandung sebagai salah satu kota pentingnya, apakah buku ini masih relevan dibaca bila tanpa pernah bersinggungan dengannya?

Jawabnya: cara-cara klasik dalam bermusik (termasuk di kancah independen) selalu punya keampuhannya. Sementara perjalanan kisah dua dekade di buku ini pun menunjukkan, bahwa segala sesuatu bisa terus dikembalikan pada permulaanya, sambil terus dikembangkan seluas memandang lautan.

Mungkin ini cuma indie pop, tapi seru.

Oh, ya, boleh dipeluk efek samping individual dari membaca buku ini. Dalam kasus saya, dipasang kembali piringan hitam The Pastels dan Talulah Gosh, serta diputar lagi rekaman-rekaman Blossom Diary.

 

____

 

 

 

Penulis
Harlan Boer
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Boys Don’t Write Rock n Roll milik Nuran Wibisono dan Bandung Pop Darlings milik Irfan Poppish kali ini penerbit EA books kembali merilis kumpulan tulisan tentang musik dari […]

Eksplor konten lain Pophariini

PHI Tips: Memilih ‘Abang-abangan’ Skena Panutan

Sosok abang-abangan skena penting untuk kehidupan bermusikmu. PHI Tips kali ini membantu kalian memilih kriteria abang-abangan skena yang bisa jadi panutan. 

.Feast dan Narasi Multisemesta Terbarunya

Nampaknya dalam waktu dekat ini .Feast akan segera merampungkan perjalanan dari album kedua mereka, Membangun dan Menghancurkan. Hal tersebut diperjelas di hari Senin (21/06) lalu, ketika .Feast resmi mempersembahkan deretan akun Instagram yang masing-masing …