Resensi: Isyana Sarasvati – LEXICON  

• Dec 10, 2019

Artis: Isyana Sarasvati
Album: LEXICON
Label: Sony Music Entertainment

Belakangan sosok Isyan viral di media sosial karena mewujudkan salah satu impiannya menirukan gerakan khas Tukul Arwana di televisi nasional. Setahun sebelumnya ia juga jadi cameo, mencuri perhatian dengan karakter kocaknya yang memiliki piaraan absurd bernama Sianjing dan Simonyet di film Milly dan Mamet (2018). Dengan imaji jenaka yang mendekati “bocor” itu, siapa sangka kalau Isyan sempat frustasi dan trauma menutup diri akibat media sosial.

Tapi Isyan berhasil mengatasi dengan merilis album ketiga LEXICON di penghujung 2019 ini dan mengejutkan banyak pihak. Karena berhasil meramu genre musik opera/klasik dengan rock/metal, dengan skill dan aransemen yang mumpuni serta mengangkat tema yang sangat personal.

LEXICON masih menawarkan denting piano dan liukan vokal Isyan. Namun kali ini minus nuansa urban, R&B joget-able dan sentuhan elektronik yang sebelumnya menjadi ciri Isyan. Gantinya kita akan disajikan nada-nada musik klasik era Victoria yang bahkan dibalut sentuhan rock/metal yang mengingatkan pada musik opera ala Queen.

Hal itu langsung mencuat melalui lagu pembuka “Sikap Duniawi”. Dalam 16 detik pertama Isyan langsung menghujani nada-nada opera/klasik sambil bernyanyi lantang hanya diiringi denting piano nan megah:

“Dengarlah wahai kawan-kawanku / Kini warna yang kelam hangus / Aku tahu kamu ‘kan bertamu / Selamat datang padaku yang baru”.

Menariknya lagu pembuka yang bernuansa seperti film musikal ini memiliki bagian reff catchy dan liriknya memompa semangat positif. Dan kemampuan Isyan memadukan kedua hal ini menjadi ramah di telinga tidak perlu diragukan lagi.

Di lagu kedua Isyan kemudian mengendurkan liang telinga dengan lagu balada yang sengaja ditulis tanpa huruf kapital, “untuk hati yang terluka” yang hadir seperti obat penawar dari sebuah ambisi.

“Jika kau tak dapatkan yang kau impikan / bukan berarti kau telah usai // Biarkan kegelapanmu / Menemukan titik terang baru / Basuhkan muka kembali / Memelukmu yang baru”

Lalu ada “Pendekar Cahaya” yang heroik dan berbau sains-fiksi. Membuat bertanya-tanya siapakah gerangan sosok sang pendekar yang berhasil mencuri hatinya dan menjadi dewa/dewi penyelamat bagi dirinya itu?

“Awal mula kita bersapa / Aku yakin kau jawabnya / Terasa dekat walau kali pertama bertatap mata // Datang dari mana / Pendekar cahaya?”

Setelah liang telinga mengendur telinga kita kembali dihajar oleh lagu yang cocok  dimainkan di festival musik metal. Bagaikan diberondong senapan mesin otomatis, lagu yang berjudul sama dengan albumnya “LEXICON” ini memang pantas mendapatkan perlakuan huruf kapital serta sekaligus menjadi tajuk album ketiganya. Isyan langsung memuntahkan isi kepalanya melalui gempuran drum dan gitar distorsi:

“Sang Nirwana / Menghadirkan mata-mata / Bersiap! // Yang ditanam mengapa berduri / Ingatlah karya pujangga / Cacian kini merajalela / Bisakah kita mengubah / Takdir kelabu, kubur jadi satu / Sambutlah kemarau tiba / Berguguran, tapi dikenang selamanya”

Simak pula bagian akhir lagu ini yang memuncak dengan permainan drum yang membabi-buta dan dengan bait lirik tegas:

“Yang berduri kok dirawat / Kau kira selamanya mereka akan percaya / Tapi maaf waktumu telah tiba”

Di lagu berikutnya Isyan mengendurkan tensi dan membuai dengan dentingan pianonya melalui “ragu Semesta” dengan untaian kata yang membuat kita kembali menebak-nebak, siapakah gerangan?

“Namun ragu semesta / Tak terlamun oleh manusia //Terus terang ku tak kuasa / Melihatmu terperangkap dalam kisah tak bermakna // Harapanku bersamamu / Biarlah menjauh / Mungkin kita ‘kan bertemu / Lain waktu di alam yang baru

Berikutnya “Lagu Malam Hari” yang juga membuai Isyana kembali membuktikan kepiawaiannya menulis lagu yang sentimentil dan kembali membuat bertanya-tanya siapakah gerangan yang ia maksud?

“Sejauh kumelewati beribu lautan / Dirinya yang menetap di setiap lamunanku // Ratusan ribuan bintang kupandangi / Tak menerangi / Namun senyumanmu tak bisa bohongi hati nurani / Kuinginkan dia / Menerangi setiap malamku”

Lalu ada “Biarkan Aku Tertidur” yang seperti kode S.O.S keras dari Isyan. Liriknya mengingatkan tentang kecemasan. Dan Isyan pun bernyanyi dengan lirih:

“Berhari-hari ku menyendiri / Melahirkan sejuta pikiran yang terkubur // Banyak yang kuinginkan / Tapi terbatasi oleh janji / Tak memberi jalan untuk aku menumpu // Aku kira sendiri memberikan arti / Tapi terlalu lama malah sakit hati // Lelah nafas ini / Ingin sejenak semua terhenti / Biarkan aku tertidur / Lepaskan laraku”

LEXICON ditutup dengan intrumental “Terima Kasih”. Seolah menggambarkan rasa syukur atas berlalunya hal-hal berat di dalam hidupnya yang ia anggap sebagai bagian perjalanan hidup. Isyan pun memainkan tuts piano dengan penuh dinamika di lagu penutup ini dengan menarik dan tidak lupa menyisipkan nada-nada gusar yang meliuk ke sana ke mari sebelum akhirnya ditutup dengan damai dan menenangkan.

***

Secara gamblang di konfrensi pers-nya kemarin, Isyan mengungkapkan kalau LEXICON adalah kamus untuk mengenal lebih jauh dirinya. Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia mendeskripsikan LEXICON sebagai berikut:

Leksikon/lek·si·kon/ n Ling 1 kosakata; 2 kamus yang sederhana; 3 daftar istilah dalam suatu bidang disusun menurut abjad dan dilengkapi dengan keterangannya; 4 komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa; 5 kekayaan kata yang dimiliki suatu bahasa

Dan saya tidak terkejut bila album ketiga Isyan ini memenuhi beberapa definisi KBBI tersebut. Secara kosakata, album ini memiliki perbendaharaan nada-nada menarik. Secara kamus album ini adalah sarana untuk membaca dan mengenal sosok Isyan lebih dekat. Secara susunan, lagu-lagu di album ini yang memiliki alur dan dinamika yang rapih dari pembuka yang riuh hingga penutup yang tenang dan damai.

Lalu tentang makna bahasa dan pemakaian kata, Isyan dengan cerdik memainkan penggunaan huruf kapital dan kecil serta tanda titik. Seperti lagu “untuk hati yang terluka.” dengan tidak menggunakan huruf kapital seolah lagu ini non-formal dan diperuntukan untuk siapapun, dan tanda titik, menandakan hati terluka itu harus berhenti.

Lalu lagu “ragu Semesta” dengan huruf “S” kapital, seolah menegaskan posisi agung sang Semesta. “LEXICON” yang berhuruf kapital semua menggambarkan musiknya yang tegas, keras dan bising. Dan tentang kekayaan kata, Isyan pun banyak bermain kata-kata seperti “Namun ragu semesta / Tak terlamun oleh manusia” ataupun “Kini warna yang kelam hangus / Aku tahu kamu ‘kan bertamu”dan “Sang Nirwana / Menghadirkan mata-mata / Bersiap!”

Dan kata “Bersiap!” yang diberi imbuhan tanda seru ini seolah menjadi penanda akan  LEXICON yang kontemplatif, megah, romantis, dan juga cadas. Soal cadas ini menjadi jejak penting dalam karir penyanyi muda yang jenaka dan tidak pernah takut terlihat jelek ini.

Isyan dengan berani merilis lagu opera/klasik serta berdistorsi dengan irama yang paling menghentak dalam sepanjang karir bermusiknya. Namun hentakan ini yang membuatnya melesat melambung tinggi melampaui musisi-musisi lain di kelasnya yang masih bermain di area zona nyamannya. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan saat ini posisi Isyan sulit disamai oleh solois manapun baik pria dan wanita, bahkan di sepanjang musik Indonesia selama 2 dekade ke belakang.

Namun bukan berarti jalan LEXICON ini mulus. Karena mungkin tidak semudah itu membawakan dan memvisualkan materi ini ke atas panggung, terutama di panggung-panggung kecil. Karena dengan musik semegah ini, harapan kita sudah berkelana ke mana-mana membayangkan visual musiknya yang sangat wah. Tapi saya yakin Isyan dan tim akan bisa menemukan solusinya ke depan.

Lalu masih relevankah Isyan memikirkan pasar dan apresiasi? Melihat respon dari para Isyanation (julukan untuk penggemar Isyana) di medsos dan akun Youtube resminya yang begitu suportif, selain berhasil mengalahkan rasa trauma dan frustasi, sesungguhnya buah manis Isyan adalah kehadiran para Isyanation. Yang kini ganti memberikan suport dan energi positif balik pada sang idolanya yang sebelumnya telah menemani mereka selama ini. Kehadiran LEXICON ini adalah bentuk tanggung jawab lebih tinggi atas nama seni dan bentuk edukasi yang menyenangkan dari sosok sang seniwati bagi fansnya.

Dengan LEXICON Isyan telah berhasil mengatasi trauma, frustasi dan ketakutan pribadinya. Uniknya LEXICON yang juga yang sepintas terdengar seperti nama obat ini tidak saja berkhasiat menyembuhkan bagaikan obat untuk dirinya, tapi juga mampu menyembuhkan siapapun yang mendengarkannya dengan hati terbuka.

 

_____

Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] artis di industri musik Indonesia melakukan apa yang Isyana Sarasvati lakukan di tahun 2019 lewat Lexicon, albumnya yang paling personal sekaligus paling mewakili segala kemampuannya sebagai penyanyi, […]

Eksplor konten lain Pophariini

SIVIA Merilis Lagu Hening dalam “Serene”

Memasuki pertengahan bulan keenam, SIVIA kembali hadir dengan single terbarunya, “Serene”. Ini merupakan single kedua menuju peluncuran mini album yang akan datang, setelah dibuka nomor pertama “Are You My Valentine?” pada Februari 2021 lalu. …

Perjalanan Panjang Basboi dalam Album Debutnya

Setelah melalui rangkaian single-single yang dilepas secara eceran di beberapa waktu ke belakang, akhirnya Basboi resmi menutup rangkaian tersebut dengan album debutnya, Adulting For Dummies. Resmi dilepas pada hari Jumat (18/06) ini, Basboi menyuguhkan …