138

Resensi : Jono Terbakar – Warisan

Jono Terkabar
Album Jono Terbakar - Warisan

Artist: Jono Terbakar
Album: Warisan
Label: Sangat Records
Peringkat Indonesia: 7/10

Akhirnya, Sir Dandy dan Bin Harlan punya kloningannya di Kota Gudeg

Apa yang membuat sebuah album itu disebut keren? Jawabannya: bisa banyak atau tidak ada. Atau jangan-jangan keren itu adalah istilah refleks ketika seorang jurnalis seperti saya mendengar satu elemen di kejutan tatkala mendengarkan rekaman-rekaman tersebut. Hal yang persis kejadian ketika mendengar lagu “Cino” dari album Warisan karya musisi lo-fi folk, Jono Terbakar.

Di track ketiga ini yang dilantunkannya dalam bahasa Mandarin (apakah ini beneran atau hanya bahasa karangannya saja), saya sekilas mendengar seperti sebuah tembang jangly pop 80-an ala Edwyn Collins dalam tatanan produksi sound seadanya.

Baca juga:  Resensi : Idhar Resmadi - Jurnalisme Musik Dan Selingkar di Wilayahnya

Meski demikian, di luar musik sebetulnya yang membuat saya terkejut justru adalah hal kecilnya. Sebuah insiden kecil yang terjadi detik-detik menjelang masuk ke menit kedua, ketika terjadi ketidaksingkronan gitar, drum, bass dan melodi satu dua detik sebelum akhirnya bertemu kompak di menit kedua. Saya menyebutnya “Kerusuhan kecil yang keren!”

Balik ke album, mungkin saja anda belum pernah mendengar album ini, jangankan mendengarnya, melihat penampilannya juga mungkin belum pernah. Itu mengapa ketika kali pertama didengarkan, album ini mungkin bisa dianggap enteng, begitu juga orangnya. Sosok pria kurus, kacamata yang selalu menenteng gitar kemanapun ia berada. Namun di balik gesturnya, mas Jono punya konsep bermusik dan kehidupan yang luar biasa.

Baca juga:  Resensi: Barasuara – Pikiran dan Perjalanan

Album kompilasi ini adalah cara yang baik untuk mengerti dirinya. Sejak 6 tahun perjalanan karyanya, Jono melahirkan 14 buah album (saya ulangi 14 buah) yang ia dibuat secara independen. Atas kegigihannya saja, musisi ini layak untuk diapresiasi, sesuatu yang musisi Indonesia yang bahkan sudah berusia 2 dekade tak terpikirkan sebelumnya.

Dan ya, semua lagunya terkesan dibuat seadanya, baik tema, lirik dan musik. Kalo ini, saya jadi teringat Sir Dandy atau Harlan, dua musisi yang memang terkenal dengan kesan unik tersebut. Terkesan asal-asalan namun ternyata berkonsep. Urakan tapi sebenarnya justu adalah keteraturan yang tersembunyi.

Ada enambelas lagu di album ini yang punya judul yang akan membuat kita tersenyum: ada “Atos” (dalam bahasa jawa artinya Keras) sebuah lagu tentang konflik soal minum teh, “Es Teh Panas”, “Tersepona” (maksudnya Terpesona), “Yaqin”, “Sepatu Sporty” dan masih banyak judul kocak lainnya yang menggoda untuk disimak.

Baca juga:  Resensi: Sisitipsi - Minta Lagi

Saya bisa saja mengulas satu persatu dari lagu-lagu ini, namun layaknya mendaki gunung, pasti saya akan ngos-ngosan untuk mengulas rupa-rupa gagasan musik dari mas Jono ini. Jika suasana sedang tidak karuan, saya bisa berhenti di lagu keempat.

______