192

Resensi : Mooner – O.M.

Sampul album Mooner - O.M.

Seri petualangan rock Rekti yang rawan jadi adiktif dan digilai ketika band utamanya tengah istirahat.

Artist: Mooner
Album: O.M.
Label: Bhang Records
Peringkat Indonesia: 8/10

Apa bedanya Mooner dengan The SIGIT? Ini pertanyaan klasik yang mungkin Rekti, pentolan The SIGIT yang kebetulan bassist Mooner sendiri akan bosan mendengarnya.

Oke, serius deh kalau itu ditanyakan lagi ke saya, apa bedanya Mooner dengan The SIGIT? Saya mungkin akan punya banyak definisi, Mooner bisa saja lebih cuek, lebih feminim, lebih ngaco, dll, Saya rasa, dua album Tabiat juga O.M., album barunya sudah cukup menjadi alasan yang kuat mengapa saya beralasan demikian.

Kilas balik, Detourn adalah mahakarya yang memisahkan The SIGIT dengan band-band seangkatannya seperti The Brandals bahkan mungkin Kelompok Penerbang Roket. Sebuah set album tematis yang kuat. Lagu seperti “Gate of 15th” adalah karya rock progresif yang punya penulisan yang teratur dan nampak dipikirkan matang-matang, berbeda dengan komposisi macam “Black Amplifier” yang cenderung direkam sekali jalan saja.

Baca juga:  Resensi: Kelompok Penerbang Roket – Galaksi Palapa

Mooner, di lain pihak adalah seri petualangan rock Rekti yang menarik. Seperti ada upaya-upaya ingin mengenang kembali energi di Visible Idea The SIGIT dengan ide-ide liar dari segala lini, baik penulisan lirik dan aransemen serta eksplorasi sound yang liar. Hal ini yang mungkin tak akan bisa diterima oleh The SIGIT sudah sebegitu ajegnya.

Dari lirik misalnya, tak terpikirkan bahwa Rekti akan menulis dan menyanyikan lirik bahasa Indonesia karena cap bule yang sudah melekat di dirinya. Untuk itulah ia memiliki Shella yang menjadi corong lirik di band ini.

Dari departemen gitar, Absar Lebeh punya karakter ‘kocokan’ dan ‘lick-lick’ berbeda dengan gitaris Fahri Icksan. Ini mengapa Rekti, lebih membebaskan Absar mengatur riff-riff yang ada sehingga lagu seperti “Gasang” bisa terdengar berbeda, Rekti pun bebas meliuk-liukan bassnya sebegitu enaknya, hingga lagu ini adalah sebuah lagu keren dari Mooner, meskipun bisa saja akan biasa saja jika ini masuk salah satu tracklist The SIGIT.

Baca juga:  Resensi: Pangalo! - Hurje!: Maka Merapallah Zarathustra

Ambil saja “Lamun Ombak”, kentara sekali bahwa lagu ini mungkin bukan sesuatu yang bisa diterima The SIGIT. Bagaimana mungkin sebuah lagu punya ‘kamar-kamar’ yang sebegitu kompleks. Atau “Umara” yang menyajikan perubahan mood yang sebegitu slebornya yang kalau dipikir-pikir bagaimana mungkin kocokan rock 6 menit yang cepat tiba-tiba di menit ke-2 bisa mendadak ‘loncat jurang’ menjadi balada yang sedih? Sebuah pertanyaan komposisi yang mungkin saja bisa ditolak Farri. Ini sama halnya dengan “Renjana”, nomor favorit saya di album kedua ini yang malah terdengar sangat feminim untuk menjadi sebuah komposisi rock yang cadas.

Satu-satunya kekurangan dari album kedua ini adalah absennya atraksi vokal Shella seperti yang dilakukannya album pertama lewat komposisi seperti “Ingkat” atau “Buruh/Pemburu”. Seharusnya saya bisa mendengar Shella yang melengking ala Suzy Quatro atau Grace Slick ketimbang mendesah yang rawan kabur sedikit karena tertimbun musik. Namun di luar itu, lewat semua eksplorasi juga hadirnya Shella, Mooner (jangan-jangan) sangat bisa mendapatkan fans rock perempuan ketimbang The SIGIT.