Resensi: Murphy Radio – Murphy Radio

Oct 8, 2018

Sebuah album yang menyajikan sesi ‘percakapan musik’ yang menarik!

Artis: Murphy Radio
Album: Murphy Radio
Label: ATMOS Initiative
Tahun: 2018
Ranking Indonesia: 9.5/10

Seperti apa contoh musik yang indah? Ada banyak. Bisa jadi musik folk sederhana, gitar akustik yang melagukan lirik-lirik yang menyentuh hati. Musik rock yang menggugah semangat untuk bertepuk dan mengepalkan tangan, atau musik pop yang membuat orang larut dalam romantika cinta. Dan di antara berjuta warna musik yang indah tersebut bisa juga terselip musik tanpa kata-kata yang menyajikan permainan harmoni instrumen saja.

Murphy Radio adalah band yang masuk dalam kategori di atas tersebut. Namanya sukses mencuri perhatian kami setelah mereka mengirimkan single dan albumnya ke kantor redaksi kami. Dan betapa beruntungnya kami bisa melihat aksi mereka di Synchronize Fest, namun sayangnya mereka tampil di Gig Stage yang kecil. Seharusnya mereka layak untuk mendapatkan sound system yang memadai dalam sebuah stage yang besar.

Mendengarkan album debut Murphy Radio, jelas kelihatan bahwa ini adalah band yang mengedepankan skill dan perhitungan yang cermat, bahkan hanya untuk mendengarkannya saja tak bisa sambil lalu. Harus menyimak ketimbang mendengar.

Murphy Radio, penyembah skill dari Samarinda.

Komposisi instrumental yang dihadirkan Wendra, Aldi dan Amrullah ini jelas lahir dari tempaan di ruang-ruang kelas, sebuah musik kelewat kompleks, ada konsentrasi yang besar di sana, juga dinamika yang menarik. Dan karena bermodal tiga instrumen, gitar, bas dan drum maka nyata sekali bahwa menyimak album ini seperti mendengar sebuah ‘percakapan harmonis instrumen’ ketimbang sebuah karya yang njelimet tak tentu arah.

Para musisi cocok untuk menyantap album ini, meskipun orang awam juga sah-sah saja. Sekadar referensi, anda yang sudah terlebih dulu mendengar karya gitaris muda seperti Gerald Situmurang di Gerald Situmorang Trio, Murphy Radio bisa jadi jadi seperti versi sekuelnya.

Memang butuh waktu untuk menguraikan keindahan musiknya, namun lama-lama dinikmati pasti juga bisa jatuh cinta. Jika tidak pada pandangan pertama, mungkin kedua dan ketiga.

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; redaktur pelaksana di Pophariini, penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat beberapa album.

Eksplor konten lain Pophariini

Band Pop Punk Bulukumba, Filthy Muck Beri Motivasi di Single Baru

Band pop punk asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, Filthy Muck merilis single ke-2 tahun ini dalam tajuk “Dreams and Fantasies” hari Kamis (23/05). Di bulan Februari lalu, mereka merilis sebuah lagu kolaborasi bersama ENKO1995 berjudul …

Wawancara Arswandaru ALI: Tur Eropa dan Permintaan Global

“Kami berusaha untuk tidak ‘yang penting main aja di luar negeri’, tanpa mendiskreditkan venue mana pun di luar negeri,” ujar Arswandaru, basis ALI.