Satu Dekade Tulus Mendengar Album Gajah

Mar 29, 2024
Tulus Gajah

Pada satu titik, sepuluh tahun lalu, saya kira sebagian besar orang yang memutuskan berpisah setelah menjalani hubungan beda agama, mendengar sembari menangis lagu berjudul “Sepatu” yang dinyanyikan oleh Tulus. Album Gajah, yang dirilis pada 19 Februari 2014 menjadi penanda, juga ikhtiar, bahwa barangkali ada beberapa hubungan yang layak dijalani tapi tak bisa dilanjutkan.

Album Gajah adalah jangkar, ia membuat banyak penggemar Tulus diam sejenak, mendengar lagu-lagu indah sembari merenungi apa yang terjadi dalam hidup. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika pertama kali mendengar lagi “Tanggal Merah”. Dibuka dengan cabikan bass yang berat, ketukan jemari yang indah, lantas vokal unik Tulus masuk menarik segala perhatian dengan lirik yang subtil, jazz yang adiluhung!

“Kikis tepat perlahan semua beban, Nanti ‘kan datang lagi itu senyuman, Ini waktumu dengan dirimu, berbahagialah”

Natalia Bulan, ingat sekali kapan ia pertama mendengar Tulus. September 2013, jelang 20 tahun, dan ia tidak sadar jika Album Gajah sudah berusia 10 tahun. Bulan masih merasa bahwa album ini baru saja rilis, atau mungkin, seiring berjalannya waktu kadang kita tak sadar jika hal yang kita sukai tumbuh dan usianya bertambah. “Time flies so fast dan terbayang lagi bagaimana awal mula Tulus mulai merintis dunia musik dan namanya belum sebesar sekarang. Those good old days,” katanya.

Album Gajah adalah jangkar, ia membuat banyak penggemar Tulus diam sejenak, mendengar lagu-lagu indah sembari merenungi apa yang terjadi dalam hidup

Musik Tulus meramu berbagai genre dengan sentuhan jazz yang kental. Hasilnya adalah album pop megah dengan kualitas produksi yang arkaik. Lirik dan musik yang dibuat saling melengkapi yang kemudian menjadikan seluruh album Gajah sulit untuk diabaikan. Sembilan lagu yang ada di dalamnya dibuat begitu rapi, sehingga nyaris tak ada yang bisa dilewatkan begitu saja.

Album ini dibuka dengan “Baru” dengan dentuman keras dan lirik yang menghadirkan sikap bangga akan diri sendiri. Musik yang gegas, suara dentuman, menjadi paduan penting. Lagu ini jadi indah, karena menggambarkan seseorang yang telah berubah dan berkembang lebih baik usai mengakhiri hubungannya. Lagu ini adalah perayaan, bagi mereka yang ingin tegas mengumumkan bahwa tak ada lagi ruang kendali bagi sang mantan. 

Menurut Bulan kekuatan lagu Tulus terletak pada kemampuannya menulis lirik yang indah. “Bumerang itu lagu tentang patah hati, tentang orang yang ditinggal sosok terkasihnya dengan cara yang menyakitkan dan bisa jadi kejadian yang menyedihkan. Tapi, Tulus lewat Bumerang itu kok bisa jadi sosok yang kuat dan nggak apa-apa disakitin sama orang terkasih itu,” katanya. 

Dengan hati yang lain, Nama yang lain. Sibuk merakit bumerang, ‘Tuk menyerangmu Berbalik menyerangmu,”

Musik Tulus meramu berbagai genre dengan sentuhan jazz yang kental. Hasilnya adalah album pop megah dengan kualitas produksi yang arkaik. Lirik dan musik yang dibuat saling melengkapi yang kemudian menjadikan seluruh album Gajah sulit untuk diabaikan

Album kedua Tulus, “Gajah,” dipilih sebagai panggilan Tulus di masa kecil. Panggilan ini awalnya dirasa sebuah olokan, kemudian seiring bertambah usia, kebijakan, serta perasaan menerima atas apa yang terjadi, Tulus malah membuat Gajah menjadi sebuah hikayat. Lagu yang bertutur tentang masa kecil hingga dewasa. Tulus merebut narasi “Gajah” sebagai ejekan, menjadi “Gajah yang besar dan berani berperang sendiri, Punya otak cerdas, aku harus tangguh,

Untuk Bulan, cara Tulus menulis lirik yang unik dan berbeda dari musisi lainnya bahkan sejak di album pertama, membantunya tumbuh sebagai manusia. “Perspektif berpikir saya jadi makin meluas, saya merasa, oh menjadi beda dari yang lainnya itu nggak apa-apa loh, menjadi diri sendiri itu asyik loh, pada akhirnya kamu juga menemukan orang-orang yang bisa menerima perspektif itu,”

Dalam kenangannya, Bulan mengingat jika Tulus hadir di era musik Indonesia sedang tumbuh di antara lahirnya boyband dan band-band pop melayu. Keputusan Tulus untuk tidak mengikuti arus saat itu, malah bisa memenangkan hati banyak orang dan melahirkan banyak penggemar baru. “Tulus adalah satu-satunya musisi yang berhasil membuat saya mau nonton aksi panggungnya secara langsung dan mematahkan pemikiran saya bahwa nonton konser adalah hal yang sia-sia,” katanya. 

Untuk Bulan sebagai penggemar cara Tulus menulis lirik yang unik dan berbeda dari musisi lainnya bahkan sejak di album pertama, membantunya tumbuh sebagai manusia. “Perspektif berpikir saya jadi makin meluas, saya merasa, oh menjadi beda dari yang lainnya itu nggak apa-apa loh.

Satu yang pasti dan terlihat dari Tulus adalah konsistensi dalam menulis lirik lagu. Ia memiliki ciri khas tersendiri yang tak dapat ditiru orang lain. Bulan juga menyebut bahwa Tulus membuat karya yang diciptakan dari hati. “Nantinya juga akan kena ke hati para pendengarnya dan saya merasakan itu. Saya merasa Tulus tidak pernah main-main dalam berkarya, selalu memberikan yang terbaik buat para pendengarnya,” katanya. 

Komentar Bulan ini bukan tanpa alasan, kesuksesan Tulus terbukti tidak hanya secara komersial, tetapi juga apresiasi kritis. Berkat “Gajah,” Tulus meraih 9 nominasi dalam Anugerah Musik Indonesia 2015 dan memenangkan 5 penghargaan termasuk Album Terbaik, Album Pop Terbaik, Artis Solo Pria Pop Terbaik, Karya Produksi Terbaik untuk lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya,” dan Pencipta Lagu Pop Terbaik untuk lagu “Gajah.”

 

Cerita Dari Dapur Rekaman

Tulus menulis dan membuat rekaman album pertamanya setelah menabung selama enam bulan. Di masa akhir kuliah, ia dibantu Ari Renaldi, seorang produser untuk membuat rekaman. Setelah ditolak oleh lima label rekaman arus utama, Tulus dan Ari lantas memilih jalur independen sebagai jalur distribusi. Dengan kualitas lirik yang aduhai, aransemen musik yang rapi, Tulus jadi soloist yang melesat melalui lagu-lagu seperti “Teman Hidup” dan “Sewindu”.

Ari Renaldi menyebut proses produksi album Gajah sebenarnya tidak ada yang khusus. Lebih banyak brainstorming dan mikir ke ide yang terawang-awang. “Waktu itu bahasannya malah lebih visual ketimbang musikal. Ketimbang memikirkan nada, atau progresi chord, atau instrumen apa yang sebaiknya ada, kami lebih membayangkan apa yang muncul di kepala kami secara visual, seperti suasananya dalam mobil convertible berjalan menyusuri tebing, dengan bukit sebelah kiri tapi dengan pemandangan laut di sebelah kanan, misalnya,” katanya.

Ari Renaldi menyebut proses produksi album Gajah sebenarnya tidak ada yang khusus. “Waktu itu bahasannya malah lebih visual ketimbang musikal. Ketimbang memikirkan nada, progresi chord, atau instrumen apa, kami lebih membayangkan apa yang muncul di kepala kami secara visual

Dalam lagu “Satu Hari di Bulan Juni”, misalnya dibuat dengan nuansa jazz yang aduhai, teduh, seperti sore hari jelang malam di tepi pantai, lanskap kejauhan memperlihatkan mentari yang mulai turun. Sepasang kekasih yang menaiki mobil di tepi tebing dan merayakan cinta yang hangat. Sang kekasih bersandar, meletakkan kepala di pundak kekasihnya. Semua akan baik-baik saja, bisik mereka.

“Peluk aku, Merdu kudengar debar jantungmu, Oh tenang sayang semua kan baik-baik saja.”

Pada proses Ari Renaldi mengakui bahwa daya tarik terbesar itu dari lirik-lirik yang diciptakan Tulus. Teknik yang digunakan Tulus lahir dari pemahaman luar biasa terhadap menghadirkan nuansa dari tema dan nuansa untuk kemudian dihadirkan kepada pendengar. “Banyak lirik yang sangat tak biasa, tapi terdengar ‘masuk’. Tema-temanya pun mengangkat hal-hal yang tidak terpikirkan banyak orang tapi orang bisa merasa terwakili kisahnya,” katanya. 

Gaya penulisan semacam ini dikenal sebagai teknik, Evocative Imagery. Penulis menggunakan bahasa yang hidup dan deskriptif untuk menciptakan gambaran yang menarik indera, memungkinkan pembaca untuk memvisualisasikan adegan dan berempati dengan lirik yang ditulis. “Bahkan untuk tema cinta pun, tidak ada yang terpikir untuk membuat lagu cinta dengan analogi sepatu. Ketika makna cinta itu mencintai apa adanya, ini malah bilang jangan,” kata Ari.

Ari Renaldi mengakui bahwa daya tarik terbesar itu  lahir dari lirik-lirik yang diciptakan Tulus dan pemahaman luar biasa terhadap menghadirkan nuansa dari tema dan nuansa untuk kemudian dihadirkan kepada pendengar.

Meski demikian, bukan berarti album Gajah bukan tanpa tantangan. Misalnya apa saja sih yang harus dipersiapkan secara teknis, apa yang perlu dikembangkan secara musikalitas, tapi lebih dari itu, bagaimana cara agar bisa lepas dari citra album pertama? “Tantangan sebenarnya ada, cukup klise sih, yakni membuat album dengan lagu-lagu yang lebih baik dan lebih sukses dari album pertama, mungkin secara kualitas, ataupun secara bisnis. Standar banget lah,” katanya.

Usaha Ari dan Tulus bagi saya sukses belaka. Misalnya pada “Lagu Untuk Matahari”, yang dibuka dengan piano dan nuansa lagu gospel yang riuh belaka. Membuatmu ingin berdiri dari kursi, mengangkat tangan, memejamkan mata, lantas berteriak “Bicara bersorak, hey! Lakukan yang kau suka, Hidupmu, Bukan hidupnya,” sungguh segar membayangkan lautan manusia berteriak Hey! Di tengah-tengah konser.

Secara teknis, Ari mengaku coba belajar hal-hal yang mungkin tidak biasa dilakukan secara musikal, seperti mencoba berbagai genre musik dan pendekatan aransemen. Ia juga mengembangkan teknik proses penciptaan lagu dan aransemen yang bersanding dengan lirik, sesederhana menjaga agar liriknya tersampaikan sebaik mungkin. 

“Bahkan untuk tema cinta pun, tidak ada yang terpikir untuk membuat lagu cinta dengan analogi sepatu. Ketika makna cinta itu mencintai apa adanya, ini malah bilang jangan,” kata Ari.

“Kalau non teknis, banyak. Belajar mengendalikan suasana proses produksi sehingga mood terjaga, belajar mendengarkan dan saling mendengarkan, belajar membayangkan, dan terutama, belajar menjadi lebih berani. Berani berekspresi dan percaya bahwa kita pasti ada tempatnya,” katanya.

 

Kesuksesan Bisnis dan Artistik

Seiring dengan waktu, melalui proses bersama Ari dan Tulus, kriteria lebih baik dari album pertama kemudian jadi sangat cair. “Itu kan agak tidak jelas ya, apa harus lebih mewah, aransemen yang lebih rumitkah, lirik yang lebih puitis atau bombastis, atau mungkin malah harus mudah dicerna, gampang dimainkan kah, atau malah harus ikut selera pasar,” kata Ari. 

Akhirnya setelah mempertimbangkan banyak hal, Ari dan Tulus bersepakat bahwa untuk album ini, lebih baik kita menjadi diri kita saja, dan apa yang dibuat saat itu adalah cerminan jujur kita secara karya pada saat itu. Ini yang kemudian membuat album Gajah punya makna yang dalam bagi para kontributornya. “Saat itu juga tantangan menjadi seperti ada jawabannya, dan membuat hampir seluruh proses pembuatan album ini, berkesan,” kata Ari.

Hasilnya bisa dilihat dari sisi musikal, lanskap dan spektrum musik yang dibuat sangat beragam, jika tidak liar idenya. Ada yang bernuansa Motown, ada yang semacam folk cenderung country, ada yang bereksperimen dengan doo-wop dan disko 70an. “Bahkan ada lagu yang rencananya akan hanya diiringi bas betot, walau pun ujungnya dikasih piano juga, soalnya kasihan pendengarnya nanti. Bisa jadi hal hal itu yang menjadi daya tarik. Mungkin,” kata Ari.

“Gajah” menjadi album dengan penjualan tertinggi Demajors, mengungguli Endah N Rhesa. Di pasar digital, “Gajah” mencatat prestasi sebagai satu-satunya album berbahasa Indonesia yang masuk 10 besar penjualan album versi iTunes Asia

Pada awalnya, untuk album Gajah Demajors mencetak 5.000 keping CD untuk interval pertama, dengan total produksi mencapai 60.000 kopi dalam waktu dua bulan setelah perilisan. “Gajah” menjadi album dengan penjualan tertinggi di bawah Demajors, mengungguli penjualan Endah N Rhesa. Di pasar digital, “Gajah” mencatat prestasi sebagai satu-satunya album berbahasa Indonesia yang masuk dalam 10 besar penjualan album versi iTunes Asia.

Kepopuleran lagu-lagu Tulus saat itu juga membuatnya memenangkan piala Anugerah Planet Muzik 2014 sebagai “Male Single of The Year”. Kemudian kesuksesan ini tak hanya dirasakan di Indonesia, Tulus melangkah ke pasar internasional dengan merilis lagu “Sepatu” di Jepang melalui iTunes pada 10 Oktober 2015 dengan bantuan Hiroaki Kato untuk menerjemahkan lirik ke bahasa Jepang.

Kini setelah satu dekade mendengar Tulus menyanyikan lagu dalam Album Gajah, berapa banyak dari kita yang tumbuh jadi lebih baik? Merelakan dengan lebih ikhlas, dan jadi lebih dewasa? 

 

Penulis
Arman Dhani
Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Mengoleksi piringan hitam, buku, dan sepatu. Saat ini sedang menyelesaikan buku Melawan Perintah Ibu (EA Books) dan Usaha Mencintai Hidup (Buku Mojok). Bisa ditemui di IG dan Twitter. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Konser Sheila On 7 Tunggu Aku di Berlanjut ke 5 Kota di Indonesia

Awal April 2024, Antara Suara selaku promotor Sheila On 7 Tunggu Aku di Jakarta (TADJ) mengunggah video promosi pertama yang mengisyaratkan Adam, Duta, dan Eross akan melanjutkan konser tunggal mereka ke kota lain.   …

5 Kuliner Pilihan Nadhif Basalamah

Penyanyi solo Nadhif Basalamah yang makin dikenal lewat “penjaga hati” mengunjungi Mad Haus untuk mempromosikan single “tiba-tiba jum’at lagi” bulan Februari lalu yang tayang dalam video Bertemuhariini.    Berbicara soal menyanyikan lagu bernuansa pop …