Siasat Pekerja Musik dan Penggemarnya di Masa Pandemi

433
Ilustrasi Toma Kako

Begitu banyak menu nada di handphone. Mari dukung dan nikmati musik Indonesia dengan rebahan ceria. Dan jika harus keluar rumah, mungkin bisa kenakan merchandise masker band kegemaran kita.

David Bayu, vokalis Naif, salah satu band favorit sepanjang masa, datang juga ke Youtube. Dia membuat set studio untuk disaksikan publik dalam format video bernama David Bayoutube. Nampaknya kita bisa mendapatkan banyak lagu-lagu Naif dari beragam kurun waktu dimainkan di sana, atau bahkan penampilan musisi lainnya dari berbagai era. Mesin waktu pun sudah sulit ditentukan perjalanannya: masa lalu, sekarang, atau esok hari?

Membuka episode pertamanya dengan artikulasi kekikukan penayangan saluran pribadi, juga tentunya keramahan yang hangat, David menyapa dan menghibur bersama suara pulen, gitar akustik yang montok dan jernih, dan lagu-lagu indahnya—menyanyikan “Bunga Hati” (dari album Let’s Go, 2008) dan “Jauh” (Naif, 1998).  David pun bercerita bahwa “Jauh” dapat dikatakan sebagai lagu pertama Naif, tercipta secara spontan dalam sebuah jam session berperalatan seadanya, dan beruntung sempat direkam.

Tanpa channel Youtube yang baru dibuatnya itu, mungkin tidak pernah bisa saya mendengarkan lagu-lagu itu dinyanyikan David hanya dengan gitar akustik, sambil saya goler-goler di kasur. Dan entah apa lagi yang akan dipersembahkannya esok hari saat kamera kembali dinyalakan.

Selain tentang David dan Naif, belakangan ini juga ada kabar dari masa lalu yang membuat saya riang; Waiting Room merilis ulang album pertamanya, yang pertama kali edar pada 1997, dalam format fisik dan digital di 2020. Tak hanya rekaman musik, mereka pun menjajakan merchandise dengan desain dari masa awal dirilisnya album self-titled itu: ilustrasi legendaris karya tangan seniman Motulz yang menjadikan album ini dijuluki dengan nama “Buaya Ska”.

Sedikit banyak, tampaknya ada pemantik dari perusahaan rekaman Aquarius Musikindo, tempat dahulu Waiting Room merilis album kedua (Propaganda, 2000) dan ketiga (Music, 2002) di bawah sub label itu, Independen Records (dengan A&R yang sama, Dodo Abdullah, juga membentuk Pops Records dengan orientasi rilisan lebih ke wilayah indie pop), yang kini mengaktifkan divisi publishing-nya untuk area rilisan digital dan mengontak para roster mereka dari era rilisan fisik untuk membuat kontrak medium baru. Bersama ajakan itu, Waiting Room pun serasa kepalang sekalian mewujudkan merilis kembali album self-titled mereka. Dan, hey, sebelum pandemi terjadi, pada 1 Februari 2020, unit ska Sentimental Moods merilis cover version lagu Waiting Room paling popular dari album debut Buaya Ska, “Ruang Tunggu” di official channel Youtube mereka, seolah-olah jadi pertanda.

Sementara itu, dua vokalis Waiting Room, yang kemudian berkiprah dengan band dan proyek musiknya masing-masing; Buluk (Superglad, Kausa) dan Eka Annash (The Brandals, Zigi Zaga), di hari ini pun bisa kita temui pada saluran Youtube mereka masing-masing.

Buluk membuat Cabul (Catatan si Buluk) yang mengundang beragam tamu untuk mengobrol bersamanya, dari seniman visual Hana Madness, manajer band Wendi Putranto, sampai pelawak Cing Abdel dan Komeng. Sementara dari barisan musisi, Cabul menghadirkan sosok dari beragam genre—salah satunya, yang sulit dibayangkan kita akan mendapatkan wawancara panjangnya meskipun dia seorang musisi kampiun, adalah hadirnya sosok Denny Chasmala.

Pada salah satu episode Cabul, hadir juga Andy /rif, yang bercerita tentang merilis single sekaligus video klip-nya dengan cara “rumahan” di era di rumah saja. Selain bernyanyi, Andy memainkan sendiri beberapa instrumen musiknya. Tidak ada studio profesional dan tim kerja yang besar; sesuatu yang menarik untuk dilakukan oleh vokalis seterkenal Andy /rif. Hasilnya bisa kita dengar dan saksikan di channel Youtube Andy /rif, bahkan sekalian behind the scene-nya!

Pada episode lainnya, Cabul mengundang Aca, vokalis band hardcore veteran Jakarta, Straight Answer. Berbeda “gelanggang” dengan /rif yang mulai mendapat pengikut dari bermain sebagai home band di café dan mencapai popularitas nasional via major label, Straight Answer menjadi sangat dikenal luas dan dekat dengan beragam scenemelalui konsistensi rangkaian gigs underground yang dimulainya sejak 1996, hingga sampai juga ke berbagai negara di Asia dan Eropa, serta tentu suara semangat dari album-albumnya yang dirilis secara independen.

Hari ini, otomatis tidak ada tur dan pertunjukan akhir pekan bagi Straight Answer. Tapi Aca punya tawaran menarik lainnya: sebuah channel Youtube bernama “Teman Makan” yang berisi resensi tempat-tempat makan enak favoritnya.

Di awal video, Aca memperkenalkan dirinya secara humble sekaligus antusias, “Halo, gue Aca.  Musik dan makan adalah bagian dari hidup gue. Selamat datang di Teman Makan. Ah, suap!”

Aca kerap mengajak beberapa tamu untuk makan bersamanya. Arah suapan lebih pada jajanan pinggir jalan, warteg, atau rumah makan kecil, tapi ngiler yang dihasilkan saat kita menontonnya begitu membara. Kala menyaksikannya sembari leyeh-leyeh, sampai video selesai, saya jadi terpikir untuk menggunakan handphone yang sama untuk memesan Gofood.

Di episode yang lain lagi, Buluk di Cabul tentu saja pernah mengundang pasangan siaran radionya dahulu, Jimi Multhazam (The Upstairs/MORFEM/Jimi Jazz). Pada sekitar permulaan pandemi, Jimi bersama MORFEM merilis CD single/mini album “Binar Kawan Sebaya” yang disambut cukup meriah oleh para pendengarnya. Jimi Jazz memproduksi merchandise. The Upstairs sempat manggung virtual. Dan Ngobryls, channel Youtube bersama karibnya, Ricky Malau terus berjalan; episode terfavorit saya sepertinya saat mereka mengundang Ipang (Plastik/BIP)—penyanyi bersuara hebat yang terbilang jarang diwawancarai.

Sementara itu, bila Buluk berlari memproduksi video-videonya, rekannya sesame vokalis Waiting Room, Eka Annash belum lama ini memulai channel Youtube-nya sendiri: Diskas! (Diskusi bareng Eka Annash). Di episode perdana, Eka mengundang Sir Dandy—seniman, singer-songwriter, sekaligus vokalis Teenage Death Star. Selain memulai DIskas!, Eka juga sedang mempersiapkan album terbaru dari The Brandals dan menggarap rencana album solonya.

Di luar saluran-saluran Youtube di atas, kita masih bisa menemukan Video Legend, channel Youtube milik Ahmad Dhani. Ketika di salah satu episodenya Dhani, Andra, dan Arri Lasso mengobrol bersama tentang masa sebelum hingga awal Dewa 19, saya senyum-senyum sendiri karena terbayang suasana sebuah zaman ketika panggung pentas sekolah diisi para remaja membawakan Casiopea hingga munculnya Nirvana dan Ugly Kid Joe. Tapi apa yang saya temukan di Youtube tentang Ahmad Dhani bermusik justru peristiwa yang belum lama terjadi, penampilan langka ketika Dhani bernyanyi dan bermain solo keyboard, tampil menjadi tamu bagi Rhoma Irama dan Soneta di sebuah acara televisi membawakan nomor bertajuk “Ghibah”.

Segala channel Youtube para musisi itu, dan masih banyak lagi contoh lainnya, meskipun tidak semuanya relatif baru dibuat, tentu adalah salah satu cara musisi untuk bertahan di era sulit mengadakan pertunjukan. Hari ini, maksudnya sebelum terjadi pandemi, umumnya pendapatan utama musisi datang dari panggung, dari sebesar apa mereka bisa mendatangkan orang/penonton. Ketika kerumuman dihindari, bisa jadi pekerja musik adalah salah satu profesi yang paling terakhir terpulihkan secara ekonomi.

Lalu, bila hal itu terjadi pada NOAH, potensi apa yang bisa disematkan pada band sebesar itu? Merayakan ulang tahunnya yang kedelapan, lebih dari mencoba bertahan, Noah bersama perusahaan rekamannya, Musica Studio’s bukan saja siap mengadakan pertunjukan live streaming, merilis album dan merchandise, tapi bahkan membuat lelang sebuah piringan hitam edisi khusus yang hasil penjualannya sepenuhnya digunakan untuk mendukung ekonomi para pekerja panggung musik. NOAH pun sampai berkeliling ke berbagai channel Youtube para pesohor Indonesia untuk mengampanyekannya, dan hasilnya piringan hitam edisi khusus itu laku ratusan juta rupiah.   

Lalu bagaimana nasib para pemusik kafe? Belum lama ini tersiar kabar digodoknya program POSe Musicafe Festival yang diprakasai oleh sejumlah kalangan: musisi, promotor, pihak soud system, lightning, multimedia, hingga pemilik kafe. POSe Musica Festival akan digelar dengan metode live streaming melalui stasiun televisi.

Inisiatif juga berlangsung sampai di bawah tanah; ekspresi dan berjejaring masih terus dilangsungkan meski pandemi melanda. Label indie pop Indonesia, Shiny Happy Records sejak awal pandemi masih terus melangsungkan “Our Secret World: Quarantine Session” di mana setiap pekannya band indie pop dari berbagai penjuru dunia (Indonesia, Amerika, Swedia, Cina, Denmark, Jepang, Australia, Singapura, Filipina, Thailand, Yunani, dan entah mana-mana tempat) tampil bergantian dalam video live performance di Facebook Page Shiny Happy Records.

Di masa pandemi ini pula diadakan ASEAN Music Showcase Festival 2020 secara virtual. Berlangsung dua hari, festival ini diprakasai bersama oleh sejumlah promotor independen dan scenester di negara-negara ASEAN. Musisi/band dari Indonesia yang turut tampil adalah Bangkutaman, Jirapah, Rangkai, dan Tanayu.

Dari sisi distribusi rekaman, masa pandemi pun melahirkan the-storefront.club , sebuah initiative digital distributionyang fokus menjual rilisan-rilisan digital independen, baik single maupun album, sebagai sarana untuk mendukung musisi/band independen dalam berkarya, dengan metode pembayaran yang relatif mudah diakses.

Pandemi? Semua terkena dampaknya. Industri musik dengan berbagai sirkuit bermainnya, bisa jadi salah satu yang paling babak belur. Sekali lagi, karena umumnya bertumpu pada mengumpulkan orang/penonton dalam sebuah pertunjukan, dan kini harus berubah haluan. Upaya-upaya yang dilakukan boleh jadi belum bisa menggantikan apa yang berlangsung sebelumnya, tapi memang rasanya butuh terus “tipis-tipis” bergerak, berbenah untuk berinovasi dan beradaptasi. Termasuk butuh dukungan penikmat musik itu sendiri, meski tentunya berbagi prioritas dana di masa ekonomi terkini.

Akhir kata, pekerja musik dan penggemarnya sama-sama berstrategi.

 

____

1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] luar merugikan banyak pihak dan sendi kehidupan di semua lini, ternyata ada hikmah baik dari pandemi ini. Salah satunya adalah keinginan yang kuat untuk mendapatkan hiburan, baik games, film, tak […]