Slank Memang Kampungan, Terlalu Manis untuk Dilupakan

2809
Ilustrasi: Rio Adiwaluyo

“Tolong beliin kaset Slank yang baru,” ujar saya. Kabar Slank merilis album kedua membuat kelojotan; ingin sesegera mungkin saya mendengarkannya!

Kala itu, 1991, masa Sekolah Menengah Pertama, saya sedang tidak bisa keluar rumah karena sakit demam, dan merasa beruntung bahwa Kampungan segera datang. Ketika kaset itu betul-betul tiba, sulit memberi tenggang waktu untuk tidak langsung memutarnya. Tapi yang lebih sulit lagi adalah untuk tidak langsung jatuh hati padanya— rasa yang ampas endapannya masih bisa saya hirup hari ini, bahkan seiring usia ketika menyimak Slank bukan lagi persoalan penting bagi hidup seorang bapak-bapak berusia 40 tahunan seperti saya.

Tapi dulu, keluarnya kaset Slank memang terasa penting bagi saya. Momentum yang ditunggu.

Sama seperti kebanyakan remaja pada masa itu di Indonesia, saya mengenal nama Slank lewat debut album mereka, Suit… Suit… He… He.. (Gadis Sexy) yang rilis pada 1990, bukan dari pentas-pentas mereka sebelumnya, meskipun kelompok musik ini sudah terbentuk sejak 1983—sangat masuk akal bila termasuk melewati periode membawakan lagu “Jump” dari Van Halen.

Suatu malam pada 1990, di Radio Suara Kejayaan (SK), sebuah radio di Jakarta dengan konsep humor yang berperan membesarkan nama-nama grup komedi seperti Bagito, Patrio, dan Empat Sekawan, saya justru menemukan musik rock Indonesia yang berbeda dengan apa yang umum dikenal pada era itu.

Saya terlambat mendengarkan acara itu, hingga langsung mendengarkan “Memang”, lagu kedua di album debut Slank, melewati lagu pembuka “Suit.. Suit…He..He..(Gadis Sexy)” yang aura suaranya mengingatkan pada “Girls, Girls, Girls” dari Motley Crue.

Lagu “Memang” memiliki segenap amunisi dahsyat: sound effect provokatif, tema gitar yang menyenangkan (dengan ancang-ancang acapella bersahaja), piano honky tonk yang luber dan leluasa, hingga lirik pernyataan identitas yang lugas. Selera saya membuka tangan lebar-lebar dan memberikan tempat yang tersendiri: saya mau mengambil musik itu!

Album debut Slank datang dengan paket artistik yang lebih segar dan relevan bagi mereka yang mendekati “kebal” pada mayoritas gaya musik rock ala perhelatan festival Log Zhelebour dan Logiss Record 1980an.

Para personil Slank bergantian menjawab pertanyaan penyiar. Nama Bimbim nampaknya langsung menempel di kepala saya. Satu persatu lagu-lagu Slank diputar dan saya sudah tahu bahwa misi terdekat adalah mengunjungi toko kaset langganan untuk sebuah album rock Indonesia yang istimewa, tepat di tengah era anak muda keranjingan Guns N’ Roses dan gelombang hard rock terkini lainnya, atau bagi kalangan yang memiliki kecenderungan pada music yang lebih cepat dan ekstrem, thrash metal dari Metallica, Anthrax, dan Kreator.

Album debut Slank datang dengan paket artistik yang lebih segar dan lebih relevan bagi mereka yang sudah mendekati “kebal” pada mayoritas gaya musik rock ala perhelatan festival Log Zhelebour dan Logiss Record 1980an, atau menjamurnya “lady rocker”. Sementara, misalnya, debut album ROXX belum kunjung datang.

Pada 1988, veteran rock Indonesia, God Bless merilis album Semut Hitam bersama Logiss Record, dengan memasukkan pengaruh hard rock 1980an dari David Lee Roth sampai Bon Jovi, hingga melibatkan tinta dingin Iwan Fals untuk menulis beberapa lirik lagu, sambil masih bersama cita rasa khas God Bless yang terbangun sejak era 1970an, telah menjadi cetak biru termutakhir akan seperti apa rekaman musik rock Indonesia berbunyi. Album itu memang terdengar paripurna dan sangat laris, seolah semua rekaman berikutnya mengacu padanya. Sementara kedatangan debut album Slank dua tahun kemudian terdengar separuh anomali dari itu semua.