Slank Memang Kampungan, Terlalu Manis untuk Dilupakan

1598

Ya, baru separuh. Bagaimana proporsi bunyi album debut Slank bahkan tercitra pula dari dua foto pada sleeve coveralbum itu: satu foto di antara mereka memakai jaket kulit hitam, satu lainnya memakai kaos dan celana Hawaii.

Di sampul album itu juga, Slank menulis manifesto mereka:

Slank itu adalah

Anak muda,
Slenge’an,
Seenak-enaknya,
Apa adanya,
Ada keberaniannya,
Ada juga keyakinannya,
Sedikit agak sembarangan,
Sedikit agak sembrono,
Tapi yang penting
punya sikap….

(walau masih belajar)

Itu saja….

Atau ada yang mau nambahin…
Silahkan…

 

Mari kita bandingkan dengan apa yang mereka tulis pada sampul album berikutnya, Kampungan…

Slank itu adalah
Anak muda,
Slenge’an,
Seenak-enaknya,
Apa adanya,

Semakin ada keberaniannya,
Semakin ada keyakinannya,
Sedikit agak sembarangan,
Sedikit ada sembrono,

Tapi yang penting punya sikap….

Itu saja….

Ada yang mau nambahin…
Silahkan…

 

Setelah amunisi awal diledakkan pada debut album, Slank semakin mantap menjadi Slank.

Sampul album Kampungan menggunakan kertas gabus yang bisa disetrika untuk memindahkan gambar ke bahan kaos. Foto personil adalah monokrom lima wajah mereka; salah seorang memakai topi Chicago Bulls, salah seorang hanya menampilkan rambut gondrongnya menutupi seluruh wajah dengan kaca mata hitam dan rokok menyala di sela tutupan rambut tersebut. Juga ada gambar kecil seperti “salam tiga jari”, tapi jempol dijepit jari tengah dan manis. Sementara lirik-lirik dicetak di material semacam kertas roti atau kertas koran. Pada saat Kampungan rilis, sulit menemukan desain dan material sampul album sehebat itu, mungkin di negara manapun.

Album Kampungan adalah “ultimate Slank” yang semakin menancapkan attitude kesenian mereka, yang diteruskan dan dikembangkan dengan sangat mengesankan pada album-album Mereka kemudian

Album ini rilis pada 1991, tahun yang sama ketika Guns N’ Roses merilis album ganda Use Your Illusion yang bertabur hits dan video musik, Metallica mengeluarkan “Black Album” yang bisa menjangkau lebih lebar pendengar baru, dan Nirvana melepaskan Nevermind yang dalam sebentar waktu akan mengubah arah permusikan dunia—tahun yang gaduh dalam rock—dan Kampungan (juga mungkin album Cikal dari Iwan Fals) terdengar “aman-aman saja” berada di antara gempuran dari luar itu. Suara Slank begitu terciri, dan bahkan menyegarkan musik rock Indonesia.

Slank di album Kampungan adalah “ultimate Slank” yang semakin menancapkan attitude kesenian mereka, yang diteruskan dan dikembangkan dengan sangat mengesankan pada album-album kemudian: Piss (1993) dan Generasi Biru (1994)—tahun-tahun penuh pancaroba pada rock akibat kiprah keren Nirvana yang menjebol kemapanan suara sebelumnya hingga membawa rombongan suara berlainan pada sirkuit utama musik rock, termasuk konsekuensi bahwa juga diikuti kebanalan band-band sekadar pengisi ruang industri— yang dilalui Slank tanpa hambatan sama sekali, kemudian menurun pada Minoritas (1996).

Slank adalah gerombolan rockers yang kasual dan leluasa, tanpa beban atas pakem-pakem musik pop dan rock itu sendiri. Dapat cukup dipetakan bahwa Bimbim, yang lebih tua dari para personil lainnya dan sangat mengidolakan the Rolling Stones, adalah mesin notasi pop yang alami, lengkap dengan sudut pandang dan cara tutur liriknya yang mudah untuk dirasakan. Kaka adalah sound vokalis terkini dari tradisi rock Indonesia. Pay menjelma sebagai alternatif “guitar hero” dari pilihan-pilihan yang mapan—sebelum datang rekaman sosok Mitend dari Netral yang mencuri perhatian. Bonky bermain efektif, tanpa basa-basi. Sementara Indra Q, pemain keyboard favorit saya, jelas-jelas jeli dan jail suara, sesuatu yang juga saya dapatkan pada Chandra dari Naif yang muncul di industri pop pada 1998.