Slank Memang Kampungan, Terlalu Manis untuk Dilupakan

1598
Ilustrasi: Rio Adiwaluyo

“Tolong beliin kaset Slank yang baru,” ujar saya. Kabar Slank merilis album kedua membuat kelojotan; ingin sesegera mungkin saya mendengarkannya!

Kala itu, 1991, masa Sekolah Menengah Pertama, saya sedang tidak bisa keluar rumah karena sakit demam, dan merasa beruntung bahwa Kampungan segera datang. Ketika kaset itu betul-betul tiba, sulit memberi tenggang waktu untuk tidak langsung memutarnya. Tapi yang lebih sulit lagi adalah untuk tidak langsung jatuh hati padanya— rasa yang ampas endapannya masih bisa saya hirup hari ini, bahkan seiring usia ketika menyimak Slank bukan lagi persoalan penting bagi hidup seorang bapak-bapak berusia 40 tahunan seperti saya.

Tapi dulu, keluarnya kaset Slank memang terasa penting bagi saya. Momentum yang ditunggu.

Sama seperti kebanyakan remaja pada masa itu di Indonesia, saya mengenal nama Slank lewat debut album mereka, Suit… Suit… He… He.. (Gadis Sexy) yang rilis pada 1990, bukan dari pentas-pentas mereka sebelumnya, meskipun kelompok musik ini sudah terbentuk sejak 1983—sangat masuk akal bila termasuk melewati periode membawakan lagu “Jump” dari Van Halen.

Suatu malam pada 1990, di Radio Suara Kejayaan (SK), sebuah radio di Jakarta dengan konsep humor yang berperan membesarkan nama-nama grup komedi seperti Bagito, Patrio, dan Empat Sekawan, saya justru menemukan musik rock Indonesia yang berbeda dengan apa yang umum dikenal pada era itu.

Saya terlambat mendengarkan acara itu, hingga langsung mendengarkan “Memang”, lagu kedua di album debut Slank, melewati lagu pembuka “Suit.. Suit…He..He..(Gadis Sexy)” yang aura suaranya mengingatkan pada “Girls, Girls, Girls” dari Motley Crue.

Lagu “Memang” memiliki segenap amunisi dahsyat: sound effect provokatif, tema gitar yang menyenangkan (dengan ancang-ancang acapella bersahaja), piano honky tonk yang luber dan leluasa, hingga lirik pernyataan identitas yang lugas. Selera saya membuka tangan lebar-lebar dan memberikan tempat yang tersendiri: saya mau mengambil musik itu!

Album debut Slank datang dengan paket artistik yang lebih segar dan relevan bagi mereka yang mendekati “kebal” pada mayoritas gaya musik rock ala perhelatan festival Log Zhelebour dan Logiss Record 1980an.

Para personil Slank bergantian menjawab pertanyaan penyiar. Nama Bimbim nampaknya langsung menempel di kepala saya. Satu persatu lagu-lagu Slank diputar dan saya sudah tahu bahwa misi terdekat adalah mengunjungi toko kaset langganan untuk sebuah album rock Indonesia yang istimewa, tepat di tengah era anak muda keranjingan Guns N’ Roses dan gelombang hard rock terkini lainnya, atau bagi kalangan yang memiliki kecenderungan pada music yang lebih cepat dan ekstrem, thrash metal dari Metallica, Anthrax, dan Kreator.

Album debut Slank datang dengan paket artistik yang lebih segar dan lebih relevan bagi mereka yang sudah mendekati “kebal” pada mayoritas gaya musik rock ala perhelatan festival Log Zhelebour dan Logiss Record 1980an, atau menjamurnya “lady rocker”. Sementara, misalnya, debut album ROXX belum kunjung datang.

Pada 1988, veteran rock Indonesia, God Bless merilis album Semut Hitam bersama Logiss Record, dengan memasukkan pengaruh hard rock 1980an dari David Lee Roth sampai Bon Jovi, hingga melibatkan tinta dingin Iwan Fals untuk menulis beberapa lirik lagu, sambil masih bersama cita rasa khas God Bless yang terbangun sejak era 1970an, telah menjadi cetak biru termutakhir akan seperti apa rekaman musik rock Indonesia berbunyi. Album itu memang terdengar paripurna dan sangat laris, seolah semua rekaman berikutnya mengacu padanya. Sementara kedatangan debut album Slank dua tahun kemudian terdengar separuh anomali dari itu semua.

Ya, baru separuh. Bagaimana proporsi bunyi album debut Slank bahkan tercitra pula dari dua foto pada sleeve coveralbum itu: satu foto di antara mereka memakai jaket kulit hitam, satu lainnya memakai kaos dan celana Hawaii.

Di sampul album itu juga, Slank menulis manifesto mereka:

Slank itu adalah

Anak muda,
Slenge’an,
Seenak-enaknya,
Apa adanya,
Ada keberaniannya,
Ada juga keyakinannya,
Sedikit agak sembarangan,
Sedikit agak sembrono,
Tapi yang penting
punya sikap….

(walau masih belajar)

Itu saja….

Atau ada yang mau nambahin…
Silahkan…

 

Mari kita bandingkan dengan apa yang mereka tulis pada sampul album berikutnya, Kampungan…

Slank itu adalah
Anak muda,
Slenge’an,
Seenak-enaknya,
Apa adanya,

Semakin ada keberaniannya,
Semakin ada keyakinannya,
Sedikit agak sembarangan,
Sedikit ada sembrono,

Tapi yang penting punya sikap….

Itu saja….

Ada yang mau nambahin…
Silahkan…

 

Setelah amunisi awal diledakkan pada debut album, Slank semakin mantap menjadi Slank.

Sampul album Kampungan menggunakan kertas gabus yang bisa disetrika untuk memindahkan gambar ke bahan kaos. Foto personil adalah monokrom lima wajah mereka; salah seorang memakai topi Chicago Bulls, salah seorang hanya menampilkan rambut gondrongnya menutupi seluruh wajah dengan kaca mata hitam dan rokok menyala di sela tutupan rambut tersebut. Juga ada gambar kecil seperti “salam tiga jari”, tapi jempol dijepit jari tengah dan manis. Sementara lirik-lirik dicetak di material semacam kertas roti atau kertas koran. Pada saat Kampungan rilis, sulit menemukan desain dan material sampul album sehebat itu, mungkin di negara manapun.

Album Kampungan adalah “ultimate Slank” yang semakin menancapkan attitude kesenian mereka, yang diteruskan dan dikembangkan dengan sangat mengesankan pada album-album Mereka kemudian

Album ini rilis pada 1991, tahun yang sama ketika Guns N’ Roses merilis album ganda Use Your Illusion yang bertabur hits dan video musik, Metallica mengeluarkan “Black Album” yang bisa menjangkau lebih lebar pendengar baru, dan Nirvana melepaskan Nevermind yang dalam sebentar waktu akan mengubah arah permusikan dunia—tahun yang gaduh dalam rock—dan Kampungan (juga mungkin album Cikal dari Iwan Fals) terdengar “aman-aman saja” berada di antara gempuran dari luar itu. Suara Slank begitu terciri, dan bahkan menyegarkan musik rock Indonesia.

Slank di album Kampungan adalah “ultimate Slank” yang semakin menancapkan attitude kesenian mereka, yang diteruskan dan dikembangkan dengan sangat mengesankan pada album-album kemudian: Piss (1993) dan Generasi Biru (1994)—tahun-tahun penuh pancaroba pada rock akibat kiprah keren Nirvana yang menjebol kemapanan suara sebelumnya hingga membawa rombongan suara berlainan pada sirkuit utama musik rock, termasuk konsekuensi bahwa juga diikuti kebanalan band-band sekadar pengisi ruang industri— yang dilalui Slank tanpa hambatan sama sekali, kemudian menurun pada Minoritas (1996).

Slank adalah gerombolan rockers yang kasual dan leluasa, tanpa beban atas pakem-pakem musik pop dan rock itu sendiri. Dapat cukup dipetakan bahwa Bimbim, yang lebih tua dari para personil lainnya dan sangat mengidolakan the Rolling Stones, adalah mesin notasi pop yang alami, lengkap dengan sudut pandang dan cara tutur liriknya yang mudah untuk dirasakan. Kaka adalah sound vokalis terkini dari tradisi rock Indonesia. Pay menjelma sebagai alternatif “guitar hero” dari pilihan-pilihan yang mapan—sebelum datang rekaman sosok Mitend dari Netral yang mencuri perhatian. Bonky bermain efektif, tanpa basa-basi. Sementara Indra Q, pemain keyboard favorit saya, jelas-jelas jeli dan jail suara, sesuatu yang juga saya dapatkan pada Chandra dari Naif yang muncul di industri pop pada 1998.

Slank Circa 90an (Ki-ka: Kaka, Pay, Indra, Bimbim dan Bongky) / Dok. Istimewa

Bagi saya hari itu, masa-masa SMP dan SMA, hingga hari ini: Bimbim dan Indra Q adalah kunci, walau pastinya semua personil punya peran penting, baik yang mudah terpapar bagi pendengar maupun yang berlangsung di balik layar.

Di masa empat rekaman pertama Slank, saya menghidupi mereka. Memainkan lagu-lagunya bersama gitar kopong dengan kemampuan bermain tak persis, sampai pada membawanya di pentas 17 Agustusan dekat rumah. Hingga bela-belain berganti berbagai moda transportasi untuk menonton pertunjukan mereka.

Beberapa tahun kemudian, ketika Slank berganti formasi dan diikuti perbincangan panjang tentang formula Slank era rekaman awal dan seterusnya, berlangsung terus bisa jadi sampai sekarang, saya tidak seantusias itu membicarakannya dan sudah sedikit mendengarkan Slank—yang lama maupun baru—termasuk nomor terfavorit saya pasca tak ada Bonky-Indra-Pay: “Orkes Sakit Hati”. Saya pun sudah berubah. Hanya bunyi rekaman-rekaman mereka yang dengan sendirinya telah berbicara.

 

____