Stop Melabeli Musik Lawas Indonesia Dengan “City Pop Indonesia”

5162
Stop Melabeli Musik Lawas Indonesia Dengan
Ilustrasi @abkadakab

Label “city pop Indonesia” adalah bola liar yang tengah menggelinding di antara anak muda trendi pecinta musik terutama musik lawas Indonesia 80/90an. Lucunya hal ini menggembirakan sekaligus juga memprihatinkan.

Sebelumnya Pophariini sempat membahas perihal “city pop Indonesia” ini. Musik pop Jepang 80an sarat nostalgia dan nuansa perkotaan yang terfusi oleh genre funk, jazz, disko, boogie cocok untuk diputar di mobil menemani jalan-jalan di bawah lampu kota.

Ide tulisan ini muncul dari rutinitas mengulik musik lawas Indonesia yang tiap minggu kerap diperbaharui katalognya di digital streaming provider (DSP) Spotify. Selain perlahan semakin lengkap, penemuan lainnya adalah kini begitu banyak playlist lokal berlabel “city pop Indonesia” yang menggembirakan, namun juga memprihatinkan.

Menggembirakan karena kita bisa ambil bagian dari tren city pop yang menjangkiti dunia sejak 2010 kemarin. Dan juga katalog musik lawas Indonesia kini terdokumentasikan dengan baik, dan para penikmat musik berbagai usia menjadi lebih mawas pada katalog musik lawas Indonesia.

Di sisi lain mengherankan karena ada pergeseran signifikan dalam pemahaman city pop itu sendiri. Selain menemukan nama-nama yang lazim dilabeli city pop, saya juga menemukan nama yang membuat tertawa karena menemukan nama lintas genre yang melenceng dari konteks city pop, dan cenderung salah kaprah.

Di sisi lain mengherankan karena ada pergeseran signifikan dalam pemahaman city pop itu sendiri

Dalam playlist city pop Indonesia kita lazim menemukan nama besar seperti Fariz RM, Chrisye, Candra Darusman dan Utha Likumahuwa. Ini masih sah bila mengacu kepada definisi city pop sebagai musik pop 80an dengan nuansa funk, jazz, disko, boogie. Tapi tidak seberapa dibandingkan nama-nama yang ditemukan berikut. Siap?

Ini nama-nama lintas genre yang saya temukan dalam salah satu playlist city pop Indonesia di Spotify: Koes Plus, Base Jam, Dewa 19, Yuni Shara, Stinky dan, unit SKA, Tipe-X. Bila itu belum cukup, ada unit hardrock 90/2000an, Edane dan unit emo-rock ibu kota, Killing Me Inside. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat pada mereka, saya tak kuasa untuk tidak berdecak, wow.

Cukup absurd melihat nama itu masuk dalam kriteria city pop. Bayangkan jika ada pecinta musik mancanegara ingin mengetahui city pop Indonesia dan menemukan band metal, ska, hardrock dan bahkan grup proto pop-melayu, Stinky di dalam kategori ini. Semoga ia bisa baik-baik saja menerima definisi city pop yang bisa berbeda sendiri di Indonesia ini.

Sebetulnya tidak sepenuhnya salah bila melihat ini terjadi di era informasi tanpa batas seperti sekarang. Di era media sosial siapapun sah dan bisa menjadi kurator atas seleranya sendiri. Apalagi dengan terminologi genre musik yang sudah semakin kabur seperti jaman sekarang. Perihal kurasi tanpa batas ini juga terjadi di Youtube, ketika semua orang bebas meng upload mixtape nya sendiri dengan label “city pop Indonesia”.

Perihal pelabelan city pop ini juga sempat mengusik benak duo Diskoria. Melalui obrolan via aplikasi Zoom, salah satu personilnya, Merdi Simanjuntak heran Diskoria dikategorikan city pop.

Baca juga:  Bumi Jangan Marah: Memahami Bencana Lewat Musik

“Diskoria sih secara sadar pengen bikin disko ngepop lawas yang groovy plus visual retro aja. Tapi terus semua orang bilang ‘wah ini city pop revival Indonesia!’ Gue sih cuma bisa ketawa aja”,  ujar Merdi sambil tergelak.

Ditambahkan olehnya “City pop itu di luar saklek banget sih. Kalau diundang untuk bahas city pop kayanya gue juga ngga segitunya tau deh, gue prefer ngomong disko aja ketimbang city pop yang udah kaya agama, cult banget kalau di luar negri sana”

menemukan nama lintas genre yang melenceng dari konteks city pop, dan cenderung salah kaprah

Meskipun diakuinya Diskoria tetap memperhatikan dan mengikuti secara mendalam genre musik 80an Jepang ini, sebagai bagian pekerjaan mereka sebagai DJ.

Namun kenapa city pop bisa begitu diterima. Hingga media sebesar Dagelan pun merasa perlu membuat playlist city pop Indonesia di Spotify?

“City pop itu bisa cocok karena peralihan adaptasi sama budaya modern perkotaan. Jadi orang kita masih butuh musik-musik urban. Walaupun nge-funk, tapi slightly ada mellow, chill, ada sentuhan galau melayunya jadi mungkin itu yang membuat city pop masuk di orang kita”, dijelaskan Merdi lagi.

Namun perihal pelabelan ini tidak selamanya salah. Ada beberapa musisi jaman sekarang yang dilabeli city pop; Mondo Gascoro, Kurosuke, Coldiac, serta Tokyolite, Ikubarru dan Spring Summer. Nama-nama yang terakhir mengakui dipengaruhi musik Jepang 80an itu. Jadi bila pelabelan city pop Indonesia itu harus terjadi, ini adalah contoh yang tepat. Sementara apakah Fariz RM, Chrisye, Chaseiro dan Candra Darusman apakah mereka pernah mendengarkan genre yang dikomandoi oleh Tatsuro Yamashita, dkk ini?

“Ngga sih, karena ini kan istilah jaman sekarang. Om Fariz bisa fasih nyeritain musik pop Indonesia dan pengalamannya di era 80an. Tapi tentang city pop mungkin beliau ngga terlau paham. Lagian juga refrensi yang dia dengarkan itu Gino Vannelli, Chic/Nile Rodgers dan Lionel Richie. Mereka itu musisi-musisi Amerika yang dulu juga didengarkan musisi city pop Jepang itu juga. Jadi intinya musisi Jepang dan musisi kita itu sama-sama dengerin musik yang sama. Musik jazz funk boogie aja”, begitu pendapat Merdi soal hal ini.

Terlepas dari salah-betulnya city pop Indonesia, fenomena ini menarik. Bahwa ada kebutuhan untuk melabeli musik lawas lokal bernuansa kota dengan label city pop Indonesia. Selain itu para penikmat musik Indonesia ini begitu bangga dengan musik lawasnya dan juga ingin menjadi bagian dari tren global yang tengah ramai di internet ini. Soal pelabelan ini juga ditambahkan oleh Merdi,

“Mungkin mereka belum punya pengetahuan utuh apa itu city pop. Lebih ke pemujaan unsur nostalgia sih. Dan unsur ini menarik banget. Kalau musik up-tempo jelas, disebutnya disko. Ini musiknya pop, asal iramanya groovy, enak buat goyang, mid-tempo yang ngga terlalu disko, langsung disebutnya city pop”

gempita city pop di Indonesia itu lebih dari sekedar genre semata. Lebih ke perayaan musik lawas Indonesia

Perihal nostalgia ini juga menarik dan ganjil sekaligus. Bagaimana generasi muda saat ini bisa merasa terhubung saat mendengarkan city pop 80an, 90an dan merasakan perasaan nostalgia yang sebenernya nihil. Karena mereka belum lahir dan tidak merasakan langsung bagaimana lagu itu berjaya pada masanya.

Baca juga:  Wawancara Khusus Seputar Kembalinya Sic Mynded

Perihal nostalgia, rasa memiliki, sehingga bebas melabeli ini sah terjadi tanpa perlu memahami esensi musik city pop sendiri. Contoh lainnya adalah sebuah podcast yang mengundang biduan belia, Vira Talissa untuk berbicara tentang city pop. Karena musik Vira sempat dilabeli city pop, karena lagu “Down in Vieux Cannes”. Mungkin karena kental bernuansa musik barat (Prancis). Padahal Prancis memiliki areanya sendiri, French pop. Meskipun kalau ditilik masih sesuai definisinya karena secera umum city pop adalah respon terhadap musik barat dari persepsi kacamata Jepang (Asia).

Perihal city pop sebagai persepsi Asia akan dunia barat dan modernisme ini juga menarik. Label city pop semata ditemui pada negara-negara Asia saja. Karena sekali lagi, city pop Jepang sebagai empunya lahir dari respon mereka terhadap moderinitas barat yang tak terbendung di era tersebut. Karena selain “city pop Indonesia” ada juga “city pop Thailand”, “city pop Filipina” dan “city pop Malaysia”.

Pada akhirnya city pop hadir sebagai respon dan perpektif Asia terhadap musik barat dengan modernisasinya

Selain di luar negara Asia kita tidak akan menemukan fenomena city pop terlebih di negara barat. Pengecualian untuk negara Brazil yang punya nama sendiri, Música Popular Brasileira (MPB). Musik urban pop perkotaan Brazil era post bossa nova dengan sentuhan musik lawas Brazil seperti samba, bossa nova dengan pengaruh Amerika seperti jazz dan rock.

Ini membawa pada kenyataan kalau ternyata gempita city pop di Indonesia itu lebih dari sekedar genre semata. Lebih ke perayaan musik lawas Indonesia. Seperti ditambahkan Merdi, “Di kita anak sekarang itu lagi gelora nostalgia back 80s, 90s dan terekspos lagi musisi lama Indonesia, terus terpengaruh. Mengesankan city pop naik lagi. Padahal city pop versi kita lebih ke Fariz RM, Chrisye dan musik pop groovy lainnya. Buka mengacu ke Tatsuro Yamashita, Mariya Takeuchi dkk.”

Pada akhirnya city pop hadir sebagai respon dan perpektif Asia terhadap musik barat dengan modernisasinya. Karena tidak ada city pop di luar Asia. Lantas apakah pelabelan city pop Indonesia ini patut? Mengingat musisi lawas Indonesia seperti Fariz RM dkk. dan musisi city pop Jepang, Tatsuro dkk. sama-sama merespon modernisasi Barat lengkap dengan musik funk, jazz, disko dan boogie dari Amerika.

Pelabelan city pop Indonesia pada lagu lawas Indonesia ini juga patut dipertanyakan karena fakta bahwa musisi-musisi lawas legendaris Indonesia yang dilabeli city pop ini belum tentu tahu siapa itu Tatsuro Yamashita, Mariya Takeuchi dkk. Karena peran Fariz RM, dkk. maupun Tatsuro Yamashita, dkk sesungguhnya sama berjasanya untuk perkembangan musik di negaranya masing-masing.

Maka itu mari beri penghargaan yang patut pada musisi lawas Indonesia dengan stop melabeli musik lawas Indonesia dengan sekedar “city pop Indonesia”.

 

____

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments