Sumpah Generasi Pandemi

1753

Rangkaian orasi motivasi positif yang disuguhkan tersebut alih-alih memberikan sebuah jalan keluar bagi generasi pandemi, justru membuat mereka menjadi kencanduan untuk mendengarkan narasi itu sendiri. Para praktisi toxic positivity mengambil keuntungan ekonomis dari berbagai konten berbayar, jumlah views, like dan subscriber. Sedangkan, para pengikut setia materi toxic positivity cenderung hanyut dalam buaian realitas subyektif yang tidak berlandas pada realitas tantangan yang ada. Pada masa pandemi sendiri berdasarkan survei online yang dilakukan oleh penulis bersama dengan Taufan Akbari Ph.D dengan lebih dari 1000 partisipan muda menemukan bahwa lebih dari 60 persen generasi pandemi mengalami kegelisahan mental. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila selama masa pandemi lini masa media sosial selalu bertaburan iklan dari para trainer motivasi.

 

Tidak lupa Bahagia

Pada kenyataannya, sepanjang riset yang penulis lakukan terhadap generasi muda Indonesia selama lebih dari 10 tahun, jarang sekali terdapat inisiatif kreatif dan kewirausahaan yang hanya berlandaskan orientasi profit semata. Inisiatif kreatif dan kewirausahaan oleh generasi muda Indonesia selalu diwarnai oleh iktikad persahabatan, gotong-royong, kelestarian komunitas, aktualisasi diri, dan keinginan membahagiakan sesama. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Varkey Foundation pada tahun 2017 berjudul ‘What the world’s young people think and feel’ diantara 20 negara yang telah di survei, generasi muda Indonesia termasuk generasi muda yang paling bahagia di dunia, dengan skor 90 diatas Israel, Cina, Amerika Serikat, Rusia, Britania Raya, Korea Selatan, dan Prancis.

jarang sekali terdapat inisiatif kreatif dan kewirausahaan yang hanya berlandaskan orientasi profit semata

Pada nuansa krisis sebagaimana pandemi Covid-19 saat ini, kebahagiaan intrapersonal dan kolektif dari generasi muda merupakan sebuah elemen penting bagi keberlangsungan sebuah generasi. Generasi pandemi Indonesia tidak boleh melupakan bahwa kebahagiaan merupakan salah satu ciri kekuatan mereka. Menurut Viktor Frankl, seorang ahli psikologi humanistik, menemukan kebahagiaan di tengah penderitaan adalah sebuah keberhasilan yang akan memberi dampak positif bagi mental secara jangka panjang. Kemampuan seorang anak muda untuk tersenyum dan ‘menertawakan’ sebuah masalah, bencana, atau kondisi yang memprihatinkan merupakan keterampilan mental untuk menemukan ‘meaning through suffering’ (makna di balik penderitaan).

Generasi muda pandemi Indonesia saat ini sebenarnya menunjukkan ciri kegigihan mental tersebut selama masa pandemi Covid-19, mulai dari berbagai inisiatif sosial seperti dapur darurat, pengumpulan dana bantuan, membangun tempat mencuci tangan bagi umum, inisiatif untuk kembali bersepeda hingga kembali berkebun. Kekuatan mental generasi pandemi akan tetap lestari apabila para anak muda senantiasa mencari dan menemukan makna kebahagiaan di tengah krisis. Makna tersebut akan melahirkan kreativitas begitu pula sebaliknya. Kreativitas lantas akan menjadi tools of survival secara ekonomi.

Baca juga:  PHI Kaleidospop: Cuplikan Promosi Band Indonesia 2018

 

Pandemi di Masa Revolusi Kemerdekaan

Generasi pemuda-pemudi revolusi pada awal abad 20 juga mengalami pengalaman yang hampir sama dengan yang dialami oleh generasi pandemi saat ini. Pemuda-pemudi revolusi pada masanya tengah berusaha melepaskan diri dari pasar yang berorientasi profit belaka. Para pemuda-pemudi berusaha mengubah kondisi di mana kekuasaan kolonial dimanfaatkan untuk mengoptimalkan keuntungan dan monopoli. Tak hanya itu, menurut Richard Robison penulis buku ‘Indonesia The Rise of Capital’ para pemuda-pemudi revolusi juga tengah menghadapi sebuah ‘disrupsi teknologi’ serupa dengan kondisi generasi pandemi saat ini. Yaitu, pada masa revolusi mereka berhadapan dengan industrialisasi yang tengah memasuki fase baru, perluasan industrialisasi di sektor perkebunan, privatisasi, dan pembangunan sarana transportasi secara masif oleh kolonial.

Tidak berhenti di sana, pemuda-pemudi revolusi juga pernah mengalami masa-masa pandemi, yaitu pada tahun 1918 ketika Indonesia dilanda Spanish Flu atau masyarakat Jawa menyebutnya pagebluk. Pada masa itu Bung Karno masih berusia 17 tahun, sedangkan Bung Hatta sekitar 16 tahun. Mereka juga menghadapi krisis yang sama, yaitu hoax, kekisruhan antara aparat keamanan dengan kalangan pengusaha, hingga ketidakpatuhan terhadap protokol kesehatan. Sejarah mencatat lebih dari 4 juta penduduk di Jawa menjadi korban dari Spanish Flu. Pemuda-pemudi revolusi juga mengalami duka dan kesedihan yang sama dengan yang dialami oleh generasi pandemi saat ini.

Generasi muda pandemi Indonesia saat ini sebenarnya menunjukkan ciri kegigihan mental tersebut selama masa pandemi Covid-19, mulai dari inisiatif sosial, kembali bersepeda hingga berkebun

Akumulasi pengalaman getir-pahit selama ‘coming of age’ dari pemuda-pemudi revolusi justru mewarnai kepribadian mereka, hingga suatu hari mereka bersatu dan melahirkan ‘Sumpah pemuda’ pada kongres pemuda II, 28 Oktober 1928. Sumpah untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu lahir dari proses perdebatan panjang yang dipantau secara represif oleh aparat pemerintah kolonial. Sumpah tersebut merupakan sebuah produk dari sebuah imajinasi kolektif generasi muda yang memiliki ikatan batin berupa pengalaman getir-pahit hidup di era yang penuh tekanan dan ketidakpastian pada awal abad 20.

Baca juga:  Meraba Wajah Industri Musik Semasa Pandemi
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
Didip
Didip
6 months ago

Beres banget ini…
Spanish flu 1917-1918 — 1928 sumpah pemuda — 1945 bangkit
Kopit19 2020 — 2030 ??? — 2047 Indonesia muda semua negara Laen kebanyakan Lansia.
Wuah semoga pop hari ini panjang umur at least sampe 2047 biar semua menganga liat arsip artikel dr pak doktor kembali keakar ini.