Sumpah Generasi Pandemi

1753

Generasi Pandemi

‘Generation Pandemic’ adalah judul utama dari majalah Time yang diterbitkan pada Juni 2020. Majalah Time melakukan investigasi dan menemukan bahwa krisis global telah menginterupsi cita-cita serta pandangan hidup dari hampir seluruh generasi muda di Amerika Serikat. Serupa namun tak sama, di Indonesia generasi muda yang kerap dilabel dengan sebutan Milenial dan Gen Z juga mengalami situasi yang sama. Para wisudawan dan wisudawati misalnya harus menjalani peristiwa penting kelulusan secara daring. Peristiwa wisuda yang selayaknya penuh nuansa romantisme, dilakukan secara berjarak tanpa haru-biru serta tekstur ingatan yang layak diceritakan di hari tua.

Generasi pandemi memulai babak baru dalam kehidupannya saat tatanan masyarakat hingga kekuasaan itu sendiri tengah porak-poranda oleh berbagai krisis. Mereka yang duduk di akhir bangku SD, SMP, dan SMA dibuat gelisah oleh perubahan ketentuan ujian kelulusan serta kebijakan penerimaan siswa di sekolah baru. Sedangkan mereka yang baru saja lulus kuliah harus menerima realita pahit lapangan pekerjaan, yaitu perusahaan-perusahaan yang justru tengah merumahkan sebagian tenaga kerja mereka.

Secara individual seorang anak muda juga tengah bergelut dengan berbagai perubahan psikologis di tengah masa isolasi, mulai dari perasaan jenuh, kesepian, sulit tidur, over screentime dengan gadget hingga kesulitan berkonsentrasi. Tak hanya itu, tiba-tiba hampir semua anak muda harus menjalankan hubungan dengan pacarnya secara long distance. Sebagian bahkan khawatir hubungannya akan kandas, atau rencana pernikahannya akan batal.

anak muda juga tengah bergelut dengan berbagai perubahan psikologis di tengah masa isolasi, dari jenuh, kesepian, sulit tidur, over screentime hingga kesulitan berkonsentrasi.

Namun, di tengah berbagai kegelisahan tersebut, pandemi juga mengubah kualitas hubungan antara anak muda dengan orang tua menjadi lebih baik. Berdasarkan survei online yang penulis jalankan dengan lebih dari 1000 partisipan, sebagian besar generasi muda merasakan pengalaman yang bermakna saat pandemi Covid-19, terutama bersama orang tua mereka.

 

Kritis di tengah Pandemi

Walau masih berada di tengah kondisi pandemi, pada bula Oktober 2020 kemarin, sebagian generasi muda mengambil sikap politik dengan turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka dalam rangka memprotes pengesahan draftundang-undang cipta kerja yang dianggap merugikan kaum buruh serta memiliki potensi buruk bagi keberlangsungan lingkungan hidup. Hampir setahun silam, pada bulan September 2019, generasi muda juga mengambil bagian dalam aksi revisi rancangan undang-undang KUHP dan undang-undang KPK. Generasi muda Indonesia tetap menjaga perannya sebagai tombak kaum kritis di tengah masyarakat.  Globalisasi serta revolusi industri 4.0 yang cenderung mewarnai generasi muda dunia dengan kompetisi ‘panjat sosial’ serta kehidupan individualistik tidak serta merta melunturkan gairah aktivisme kaum muda di Indonesia.

Secara kolektif generasi muda Indonesia masih memiliki sebuah solidaritas imajiner yang mampu menyatukan ragam latar belakang etnis, agama, dan budaya. Akan tetapi, secara individual generasi muda tengah mengalami sebuah tantangan yang berat.  Tantangan tersebut adalah tantangan kerja dan karir di masa depan yang kian sulit diraba. Begitu banyak pekerjaan yang hilang, industri yang berhenti, dan karir yang berubah format. Bahkan, bagi seorang anak muda,menyusun career planning saat ini menjadi dilematis karena kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang terus berfluktuasi.

Mantra ‘follow your passion’ sebagaimana digembar-gemborkan para influencer lokal sebelum masa pandemi tak lagi memiliki daya sihir yang sama.

Generasi muda dihadapkan pada tiga kondisi pilihan pekerjaan yaitu, industri yang tetap ada namun pekerjaan yang berbeda, industri yang berbeda namun pekerjaan yang sama, atau industri yang berbeda dan pekerjaan yang berbeda pula. Mempertimbangkan kondisi tersebut, rasanya pesan monumental dari Steve Jobs pada tahun 2015 di hadapan khalayak Universitas Stanford yang berbunyi ‘Do what you love’ menjadi tidak realistis. Moto yang lebih realistis saat ini adalah berpegangan kuat pada pekerjaan apapun yang ada. Mantra ‘follow your passion’ sebagaimana digembar-gemborkan para influencer lokal sebelum masa pandemi tak lagi memiliki daya sihir yang sama.

 

Toxic Positivity

Pada tahun 1998, Indonesia bersama beberapa negara bagian Asia lainnya mengalami sebuah krisis ekonomi yang berdampak pada hampir semua sektor kehidupan. Generasi muda yang ‘coming of age’ pada masa-masa itu mengalami kegalauan karir yang hampir sama dengan generasi pandemi saat ini. Kegalauan sebuah generasi ternyata menjadi sebuah peluang pasar bagi industri. Pada masa-masa itu toko-toko buku dibanjiri buku-buku motivasi, self help, dan teori kebahagiaan dari luar negeri. Beberapa buku yang muncul populer di masa-masa tersebut adalah antara lain ‘Rich Dad, Poor Dad’ dari Robert Kiyosaki, ‘7 Habit of Highly Effective People’ dari Stephen Covey, dan yang paling fenomal seri ‘Chicken Soup for The Soul’. Pada kemudian hari materi-materi motivasi tersebut dikenal oleh generasi pandemi sebagai bagian dari Toxic positivity.

Rangkaian orasi motivasi positif alih-alih memberikan sebuah jalan keluar bagi generasi pandemi, justru membuat Jadi kencanduan untuk mendengarkan narasi itu sendiri

Toxic positivity adalah sebuah istilah yang mendadak populer di masa pandemi Covid-19. Toxic positivity sendiri adalah sebuah terminologi yang mewakili industri self help dan pelatihan motivasi yang menyasar pasar generasi muda. Sebuah industri yang menurut Alain de Botton, filsuf ‘kekinian’ yang melahirkan seri Youtube ‘School of Life’, sebagai industri yang sangat Amerika sentris. Industri tersebut dianggap secara sengaja memanfaatkan secara ekonomi kegelisahan generasi pandemi dengan menyuguhkan berbagai ‘punch line’ positif sebagai solusi.

Baca juga:  Kompilasi Tribute to Mocca: Kado Dua Puluh Tahun Hingga Jadi Legenda

Rangkaian orasi motivasi positif yang disuguhkan tersebut alih-alih memberikan sebuah jalan keluar bagi generasi pandemi, justru membuat mereka menjadi kencanduan untuk mendengarkan narasi itu sendiri. Para praktisi toxic positivity mengambil keuntungan ekonomis dari berbagai konten berbayar, jumlah views, like dan subscriber. Sedangkan, para pengikut setia materi toxic positivity cenderung hanyut dalam buaian realitas subyektif yang tidak berlandas pada realitas tantangan yang ada. Pada masa pandemi sendiri berdasarkan survei online yang dilakukan oleh penulis bersama dengan Taufan Akbari Ph.D dengan lebih dari 1000 partisipan muda menemukan bahwa lebih dari 60 persen generasi pandemi mengalami kegelisahan mental. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila selama masa pandemi lini masa media sosial selalu bertaburan iklan dari para trainer motivasi.

 

Tidak lupa Bahagia

Pada kenyataannya, sepanjang riset yang penulis lakukan terhadap generasi muda Indonesia selama lebih dari 10 tahun, jarang sekali terdapat inisiatif kreatif dan kewirausahaan yang hanya berlandaskan orientasi profit semata. Inisiatif kreatif dan kewirausahaan oleh generasi muda Indonesia selalu diwarnai oleh iktikad persahabatan, gotong-royong, kelestarian komunitas, aktualisasi diri, dan keinginan membahagiakan sesama. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Varkey Foundation pada tahun 2017 berjudul ‘What the world’s young people think and feel’ diantara 20 negara yang telah di survei, generasi muda Indonesia termasuk generasi muda yang paling bahagia di dunia, dengan skor 90 diatas Israel, Cina, Amerika Serikat, Rusia, Britania Raya, Korea Selatan, dan Prancis.

jarang sekali terdapat inisiatif kreatif dan kewirausahaan yang hanya berlandaskan orientasi profit semata

Pada nuansa krisis sebagaimana pandemi Covid-19 saat ini, kebahagiaan intrapersonal dan kolektif dari generasi muda merupakan sebuah elemen penting bagi keberlangsungan sebuah generasi. Generasi pandemi Indonesia tidak boleh melupakan bahwa kebahagiaan merupakan salah satu ciri kekuatan mereka. Menurut Viktor Frankl, seorang ahli psikologi humanistik, menemukan kebahagiaan di tengah penderitaan adalah sebuah keberhasilan yang akan memberi dampak positif bagi mental secara jangka panjang. Kemampuan seorang anak muda untuk tersenyum dan ‘menertawakan’ sebuah masalah, bencana, atau kondisi yang memprihatinkan merupakan keterampilan mental untuk menemukan ‘meaning through suffering’ (makna di balik penderitaan).

Generasi muda pandemi Indonesia saat ini sebenarnya menunjukkan ciri kegigihan mental tersebut selama masa pandemi Covid-19, mulai dari berbagai inisiatif sosial seperti dapur darurat, pengumpulan dana bantuan, membangun tempat mencuci tangan bagi umum, inisiatif untuk kembali bersepeda hingga kembali berkebun. Kekuatan mental generasi pandemi akan tetap lestari apabila para anak muda senantiasa mencari dan menemukan makna kebahagiaan di tengah krisis. Makna tersebut akan melahirkan kreativitas begitu pula sebaliknya. Kreativitas lantas akan menjadi tools of survival secara ekonomi.

 

Pandemi di Masa Revolusi Kemerdekaan

Generasi pemuda-pemudi revolusi pada awal abad 20 juga mengalami pengalaman yang hampir sama dengan yang dialami oleh generasi pandemi saat ini. Pemuda-pemudi revolusi pada masanya tengah berusaha melepaskan diri dari pasar yang berorientasi profit belaka. Para pemuda-pemudi berusaha mengubah kondisi di mana kekuasaan kolonial dimanfaatkan untuk mengoptimalkan keuntungan dan monopoli. Tak hanya itu, menurut Richard Robison penulis buku ‘Indonesia The Rise of Capital’ para pemuda-pemudi revolusi juga tengah menghadapi sebuah ‘disrupsi teknologi’ serupa dengan kondisi generasi pandemi saat ini. Yaitu, pada masa revolusi mereka berhadapan dengan industrialisasi yang tengah memasuki fase baru, perluasan industrialisasi di sektor perkebunan, privatisasi, dan pembangunan sarana transportasi secara masif oleh kolonial.

Tidak berhenti di sana, pemuda-pemudi revolusi juga pernah mengalami masa-masa pandemi, yaitu pada tahun 1918 ketika Indonesia dilanda Spanish Flu atau masyarakat Jawa menyebutnya pagebluk. Pada masa itu Bung Karno masih berusia 17 tahun, sedangkan Bung Hatta sekitar 16 tahun. Mereka juga menghadapi krisis yang sama, yaitu hoax, kekisruhan antara aparat keamanan dengan kalangan pengusaha, hingga ketidakpatuhan terhadap protokol kesehatan. Sejarah mencatat lebih dari 4 juta penduduk di Jawa menjadi korban dari Spanish Flu. Pemuda-pemudi revolusi juga mengalami duka dan kesedihan yang sama dengan yang dialami oleh generasi pandemi saat ini.

Generasi muda pandemi Indonesia saat ini sebenarnya menunjukkan ciri kegigihan mental tersebut selama masa pandemi Covid-19, mulai dari inisiatif sosial, kembali bersepeda hingga berkebun

Akumulasi pengalaman getir-pahit selama ‘coming of age’ dari pemuda-pemudi revolusi justru mewarnai kepribadian mereka, hingga suatu hari mereka bersatu dan melahirkan ‘Sumpah pemuda’ pada kongres pemuda II, 28 Oktober 1928. Sumpah untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu lahir dari proses perdebatan panjang yang dipantau secara represif oleh aparat pemerintah kolonial. Sumpah tersebut merupakan sebuah produk dari sebuah imajinasi kolektif generasi muda yang memiliki ikatan batin berupa pengalaman getir-pahit hidup di era yang penuh tekanan dan ketidakpastian pada awal abad 20.

Baca juga:  EARHOUSE SONGWRITING CLUB: Saksi atas Karya yang Lahir Setiap Minggu

 

Sumpah Generasi Pandemi

Sumpah bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu telah disuarakan secara lantang oleh para pemuda-pemudi revolusi 92 tahun yang lalu, lantas sumpah seperti apa yang akan muncul dari generasi pandemi pada masa sekarang? Sebagai akibat dari krisis lapangan pekerjaan karena pandemi Covid-19, secara individual generasi pandemi akan berusaha sekuat tenaga untuk merestorasi kerja dan karir dari sekedar ‘making money’ (menghasilkan uang) menjadi sebuah ‘self fulfilment’ (capaian diri).  Dalam ikhtiar untuk mencapai hal tersebut, sebagian dari generasi pandemi akan melakukan berbagai eksplorasi gagasan hingga mencapai sebuah idealisme. Secara langsung, buku dan ruang kolektif bagi anak muda akan kembali relevan bagi generasi pandemi. Kerja dan karir baru juga akan mengemuka sebagai konsekuensi dari hal ini, yaitu kerja dan karir yang lebih ‘glokal’ (mengikuti tren global namun mempertimbangkan aspirasi serta potensi-potensi lokal). Memilih kerja dan karir yang bermakna akan menjadi sumpah baru dari generasi pandemi.

Secara individual, generasi pandemi juga akan bergulat untuk mencapai sebuah keseimbangan mental setelah mengalami kegalauan. Alih-alih mengkonsumsi konten-konten toxic positivity, alam dan kehangatan keluarga akan menjadi destinasi baru bagi generasi pandemi untuk mencapai sebuah kondisi mindfulness.  Upaya untuk mengambil jarak dengan dunia digital sendiri sudah mulai bermunculan, yaitu dengan melakukan detox gadget. Generasi pandemi kembali melakukan kegiatan-kegiatan yang dekat dengan alam, tracking  ke bukit, bermain ke sungai, melihat laut, hingga berkebun di rumah. Interaksi yang semakin intens dengan alam akan lambat laun menciptakan sebuah bonding antara alam dengan generasi pandemi. Komitmen untuk restorasi dan pelestarian biodiversiti akan menjadi sumpah baru dari generasi pandemi.

Generasi pandemi juga semakin sadar bahwa pasar yang hanya berorientasi profit akan menciptakan ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan hidup.  Dengan demikian upaya untuk mengembalikan bentuk pasar yang bebas intervensi, penuh eksplorasi kewirausahaan, menghargai spontanitas, dan kompetitif dalam kreativitas akan menjadi sebuah upaya baru. Pesan ‘Pasar bisa diciptakan, cipta bisa dipasarkan’ sebagaimana dilantunkan oleh band Efek Rumah Kaca akan menjadi visi gotong-royong baru dari generasi pandemi dalam rangka membentuk pasar yang ideal dan sustainable bagi generasi muda.

Sebab, Indonesia sedari dulu merupakan youth centered society atau masyarakat yang berkiblat pada generasi muda

Perlahan namun pasti, kita juga akan menyaksikan generasi pandemi semakin aktif dalam melakukan berbagai gerakan sosial dan politik sebagaimana telah terjadi 2 tahun terakhir. Aktivitas ini merupakan konsekuensi logis dari sumpah-sumpah baru tersebut, baik secara individual maupun kolektif, yang mengemuka di masa krisis pandemi Covid-19. Bahkan kita akan melihat lebih banyak generasi pandemi yang akan masuk dan melakukan perubahan dari dalam lingkar kekuasaan pada rentang 10 tahun kedepan. Regenerasi kepemimpinan bangsa merupakan sebuah sumpah baru dari generasi pandemi.

Sumpah dari generasi pandemi memang belum dilakukan secara formal sebagaimana terjadi lewat Kongres Pemuda II pada tahun 1928. Akan tetapi, sumpah atau komitmen dari generasi pandemi saat ini tetap akan mengubah berbagai tatanan kehidupan bangsa di masa depan sebagaimana terjadi 92 tahun yang lalu. Sebab, Indonesia sedari dulu merupakan youth centered society atau masyarakat yang berkiblat pada generasi muda. Pramoedya Ananta Toer bahkan mengatakan ‘Sejarah Indonesia adalah sejarah angkatan muda’. Para pemuda-pemudi yang melakukan sumpah Pada 28 Oktober 1928 mungkin tidak menyadari betapa besarnya dampak dari sumpah yang mereka lakukan pada waktu itu bagi Indonesia di kemudian hari. Begitu pula dengan sumpah, janji, dan komitmen yang muncul dari relung hati seorang anak muda yang kini tumbuh dewasa di tengah pandemi Covid-19.  Semoga generasi pandemi tidak pernah meragukan kekuatan sumpah yang mereka utarakan untuk diri mereka sendiri.

 

____

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
Didip
Didip
6 months ago

Beres banget ini…
Spanish flu 1917-1918 — 1928 sumpah pemuda — 1945 bangkit
Kopit19 2020 — 2030 ??? — 2047 Indonesia muda semua negara Laen kebanyakan Lansia.
Wuah semoga pop hari ini panjang umur at least sampe 2047 biar semua menganga liat arsip artikel dr pak doktor kembali keakar ini.