383

Tentang Hutang yang Belum Terbayar: Wawancara Eksklusif Gusti Arirang, Putri Djaduk Ferianto

Gusti Arirang bersama almarhum Djaduk Ferianto / dok. idgarirang (instagram)

Gusti Arirang tak mengira bahwa ucapan selamat Hari Ayah yang dikirimkannya kepada sang ayah pada Selasa (12/11) lalu menjadi pembicaraan terakhirnya. Sang ayah, Djaduk Ferianto, musisi dan seniman besar asal Yogyakarta itu menghembuskan nafas terakhirnya akibat serangan jantung pada Rabu (13/11) esoknya.

Pada hari berkabung itu, banyak musisi yang mengucapkan bela sungkawanya atas kepergian sang maestro, sebagian besar di antara mereka adalah musisi-musisi asal Jogja, tempat dimana sang maestro berkarya.

Gusti Arirang nampak diam menatap pusara sang ayah yang sudah rapih tertutup oleh bunga. Ia menatap foto diri sang ayah menutupi salib yang tertancap di atas makam.

“Stay Strong Gugus,” ungkap teman-temannya di Tashoora, memberikan semangat kepadanya.

Semangat inilah yang akhirnya membuat Gugus, sapaan hangat dari Gusti untuk akhirnya mengungkapkan perasaan beliau tentang hari itu

Baca juga:  Perjuangan Caleg Serupa Musisi Independen

“Kemarin dini hari, bapak saya @djaduk dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan ibu setelah mengeluh kesemutan. Cepat sekali. Tidak ada yang menduga. Sampai sekarang pun rasanya masih seperti mimpi panjang yang belum usai,” ungkapnya.

Gusti Arirang di pusara sang ayah / foto: dok. @tashoora_ (instagram)

“Banyak sekali ucapan bela sungkawa yang saya terima. Terima kasih kepada teman-teman semua, ini sungguh sebuah perhatian yang luar biasa. Mohon maaf, saya belum bisa buka dan balas satu-satu. Terima kasih sudah mendukung perjalanan bapak. Dan jika beliau memiliki kesalahan semasa hidup, saya mohon dimaafkan. Sekali lagi terima kasih teman-teman. Selamat jalan, Bapak. Mungkin Bapak sudah tidak di sini, tapi karya Bapak akan selalu abadi,” tulis Gusti. Di akun Twitter, Gusti juga mengunggah beberapa foto dokumentasi pemakaman sang ayah.

Baca juga:  Bukan City Pop Indo, Tapi Indo Pop Urban

Terlepas dari hubungan ayah-anak, hubungan Gusti dengan seorang Djaduk Ferianto menurut kami transenden, luar biasa. Segenap perjalanan musikal seorang Gusti sangat dipengaruhi oleh keberadaan sang ayah. Bahkan, hubungan mereka bisa begitu profesional, sebagai seniman antar seniman.

Lewat sambungan telekomunikasi jarak jauh, kami menghubungi Gusti Arirang untuk bercerita soal Djaduk Ferianto, tentang hubungannya emosionalnya, baik sebagai keluarga, juga sebagai sesama musisi profesional. Juga tentang pribadi ayah dan tentang ‘hutang’ yang sampai sekarang belum terbayar.

Selamat siang Gusti, sebelumnya terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk berbicara dengan kami. 
Iya nggak apa-apa

Kapan dan apa percakapan terakhir kamu dengan bapak?
Terakhir saya mengucapkan selamat Hari Ayah di grup keluarga, itu hari Selasa

Baca juga:  Musik Dalam Pemilu Indonesia: Dulu dan Sekarang

Sebelumnya ingin konfirmasi dulu, apakah betul bapak meninggal karena serangan jantung?
Iya, betul karena serangan jantung

Sejak kapan Gusti atau keluarga tahu bahwa bapak mengidap jantung?
Selama ini kita menebak-nebak sepertinya jantungnya bermasalah, karena rontgen perut hasilnya bagus semua. Cuma bapak tidak pernah mau diajak periksa khusus jantung gak tau kenala. Selalu ditunda-tunda. Sampai ibu minta tolong orang-orang terdekatnya buat bujukin supaya mau periksa. Terakhir wacananya adalah mau cek setelah Ngayogjazz (festival musik-red)

Beberapa dokumentasi pemakaman Djaduk Ferianto yang diunggah sang putri, Gusti Arirang / dok. idgarirang (twitter)

Semacam bapak orangnya keras kepala juga ya?
Saya lebih suka menyebutnya sebagai displin. Disiplin dalam mengatur apapun, termasuk manajemen tanggung jawab. Mungkin itu yang bikin beliau sebagai orang yang keras – terlebih soal kerjaan. Di balik itu, orangnya penyayang sekali dan ramah dengan siapa saja.