532

Toko Rekaman Musik, Toko Mainan

Selalu ada yang menyukai rilisan fisik? Setidaknya sampai hari ini masih begitu. Record Store Day lahir dari keinginan mempertahankan eksistensi rilisan fisik, dalam hal ini konotasi sesungguhnya adalah piringan hitam, juga eksistensi toko-tokonya, di era distribusi musik format digital.

Piringan hitam sendiri sesungguhnya bukan format yang populer di Indonesia. Setelah ada kaset pita, format itulah yang menjadi produksi massal. Orang-orang pun kemudian menyebut toko penjual rekaman musik dengan sebutan toko kaset.

Sejak kecil, saya dekat dengan toko kaset. Dulu, buat saya, toko kaset lebih seru dari toko mainan. Toko kaset di Aldiron Plaza, Blok M, Jakarta, salah satu yang terfavorit. Seringkali bila membeli kaset, diberinya bonus stiker. Aih, saya suka sekali. Sebuah toko kaset di daerah Jalan Panglima Polim juga asik, di sebelahnya ada apotek yang menjual es krim.

Pengalaman mengunjungi toko-toko kaset memang kerap kali menarik. Datang, melihat-lihat kaset di rak, mengambil beberapa, duduk, memasang headphone, dan mencoba kaset-kaset tersebut satu demi satu. Kakak saya pernah salah menegur orang, dia menanyakan “Enak nggak kasetnya?”, ternyata orang yang sedang mencoba kaset itu bukan saya. Tengsin.

Betapa riangnya mendengarkan kaset demi kaset di sana, walau pulang hanya membeli satu-dua kaset. Mungkin beberapa pernah bandel mencuri, seperti yang Iwan Fals nyanyikan dalam lagu “Nenekku Okem” (dari album Lancar, 1987). Ya, sistem keamanan toko kala itu memang kurang ketat dan relatif mudah dibobol.

Habis ambi pension, mampir ke toko kaset
Cari lagu baru yang up to date
Kuping pakai headphone, badan tak bisa diam
Ikutin tempo break dance tersayang
Persetan orang lihat, sebodo nyengir
Konsentrasi dia tak goyah
Setelah selesai dengar lagu sekaset, lalu dia menuju kasir
Bayar satu, bawa tiga
Yang dua mampir di jaket

Perihal mencoba kaset dan terbawa suasana lagu di headphone, juga sering jadi pengalaman lucu. Beberapa orang kadang tak kuasa menahan diri. Ada yang larut goyang-goyang, ada yang turut benyanyi sambil membaca lirik yang tertera di sleeve cover album. Saya, mah, memaklumi saja.

Di toko-toko kaset itu pula saya membaca beberapa nama genre yang tertera sebagai kategori peletakkan kaset-kaset di rak. Rock, Pop, Jazz, saya tahu. Tapi apa itu Adult Contemporary? Lama kelamaan saya cukup bisa merabanya.

Tapi, saya juga pernah sangat sedih dan kehilangan akibat kaset. Ketika kaset Voltus V dengan bonus karton yang bisa dibentuk menjadi robot, setelah jadi dibentuk, tak lama rusak, saya lupa kenapa bisa rusak. Kaset itu segera diburu kembali, namun toko-toko di sekitaran sudah ludes menjualnya. Ah, lara!  

Hingga 1988, kaset-kaset Barat ditarik dari toko-toko kaset. Katanya, kaset-kaset itu perlu mendapat izin terlebih dulu untuk bisa dijual. Jadilah rak-rak di toko-toko kaset banyak yang melompong. Namun semangat tak surut, saya kumpulkan saja album-abum Indonesia.

Ketika kaset-kaset Barat muncul lagi, harganya sekitar dua kali lipat dari sebelumnya. Berat juga. Tapi tak seberat kaset Metallica dengan kemasan plastik dan berukuran sedikit lebih besar dari casing biasa, musik apa ini? Kaset itu saya beli karena desas-desus Metallica samar-samar terdengar di sekolah, di saat menuju persiapan EBTANAS. Tapi, begitulah era kaset. Kaset telah dibeli. Kaset akan didengarkan berulang-ulang, hingga yang tidak suka bisa jadi ultra-berkenan. Namun, nomer primadona memang biasanya ada di urutan teratas, hingga mudah memencet tombol rewind untuk disimak terus-terusan.

Baca juga:  Santa Monica dan 10 Tahun Curiouser