508

Toko Rekaman Musik, Toko Mainan

Selalu ada yang menyukai rilisan fisik? Setidaknya sampai hari ini masih begitu. Record Store Day lahir dari keinginan mempertahankan eksistensi rilisan fisik, dalam hal ini konotasi sesungguhnya adalah piringan hitam, juga eksistensi toko-tokonya, di era distribusi musik format digital.

Piringan hitam sendiri sesungguhnya bukan format yang populer di Indonesia. Setelah ada kaset pita, format itulah yang menjadi produksi massal. Orang-orang pun kemudian menyebut toko penjual rekaman musik dengan sebutan toko kaset.

Sejak kecil, saya dekat dengan toko kaset. Dulu, buat saya, toko kaset lebih seru dari toko mainan. Toko kaset di Aldiron Plaza, Blok M, Jakarta, salah satu yang terfavorit. Seringkali bila membeli kaset, diberinya bonus stiker. Aih, saya suka sekali. Sebuah toko kaset di daerah Jalan Panglima Polim juga asik, di sebelahnya ada apotek yang menjual es krim.

Pengalaman mengunjungi toko-toko kaset memang kerap kali menarik. Datang, melihat-lihat kaset di rak, mengambil beberapa, duduk, memasang headphone, dan mencoba kaset-kaset tersebut satu demi satu. Kakak saya pernah salah menegur orang, dia menanyakan “Enak nggak kasetnya?”, ternyata orang yang sedang mencoba kaset itu bukan saya. Tengsin.

Baca juga:  Pop Indonesia Seputar ‘65