Wawancara Khusus Sheryl Sheinafia: 2021 Prioritas Jadi Musisi 

532
Wawancara Khusus Sheryl Sheinafia: 2021 Prioritas Jadi Musisi 

Sheryl Sheinafia beberapa waktu lalu merilis video lirik “pick up your phone” kolaborasinya bersama Rendy Pandugo. Disusul video penampilan akustik langsung bersama Pamungkas dalam “house or home”.

Dua lagu tersebut bagian dari album penuh terbarunya, Jennovine. Sheryl mengatakan bahwa album ini pengantar untuk melakukan lebih banyak hal ke depan. Terutama menunjukkan sisi musik yang seperti apa sekarang. 

Sheryl pun berencana untuk membuat semua video lagu dari albumnya. Pasca album dirilis, harapan terbesarnya manggung offline supaya berhadapan dengan orang-orang yang sudah mendengarkan atau menyukai Jennovine.

Rencana manggung sudah ditentukan bulannya. Namun, Sheryl tetap melihat kondisi pandemi korona memungkinkan atau tidak. Selain album, Sheryl tahun ini tengah memasuki fase baru yaitu membangun label dan manajemennya sendiri. Di mana Jennonive merupakan album perpisahannya dengan Musica Studios. Label barunya nanti konon sudah disiapkan nama, tetapi belum bisa diinformasikan lebih lanjut.

Jennovine terbukti menunjukkan warna yang berbeda. Pop Hari Ini berkesempatan mewawancarai Sheryl Sheinafia (19/1) selama satu jam lebih. Apa saja jawabannya? Simak berikut ini:

 

Siapa band atau musisi lokal maupun internasional yang sangat mempengaruhi karier bermusikmu?

Kalau buat aku sih memang dari dulu buat trigger aku untuk main gitar tuh pastinya Mbak Endah (Endah N Rhesa). And then aku suka sekali sama John Mayer. Tapi pada dasarnya kayak untuk perjalanan musik aku, memang aku merasa aku dilahirkan untuk ada di dalam environment yang menuntut aku untuk menjadi aku yang hari ini. Jadi, I always surrounded by people who are playing music, I always surrounded by people who are actor and actress. Jadi, memang kayak environment aku yang nge- build aku sekarang karena memang tanpa aku sadari aku pun hadir di dalam environment itu. Aku memang suka berkunjung ke kafe tapi bukan kafe yang kayak mainin beach house music, memang live music, this was i listen to, dan aku haus akan experience-experience itu. Sampai akhirnya aku memutuskan jadi pengamen.

 

Musisi sekarang sebagai inspirasi Sheryl album Jennovine?

Mungkin kalau aku bisa kerucutin buat album ini ya, aku terinspirasi sekali oleh Lady Gaga di albumnya yang Joanne, dan aku suka sekali sama Miley Cyrus di albumnya yang Plastic Hearts, dan dari single dia yang “Malibu”, “Slide Away”. Pokoknya setelah zaman-zaman “Wrecking Ball”- nya dialah. Trus aku suka banget sama Raveena, Snoh Aalegra, Sabrina Claudio, Phinneas, Billie Eilish. These are people that i really admire to. Ed Sheeran, man i can go on. Dan aku melihat ternyata benang merah di antara semua artis yang aku dengerin nih. Oh, sama Troye Sivan. Aku melihat banyak nyambung-nyambungnya lagi, mereka semua adalah storytellers. Mereka adalah vogue musicians, or their singer-songwriters. Dan itu yang aku akhirnya bisa mendefinisikan juga dari karya-karya aku, aku bukan orang yang cuma cari hook yang enak. Tapi memang I need the hook yang enak, juga punya story to tell. Dan itu yang aku rasain dari musisi-musisi yang aku suka. Mereka semua punya story to tell. Bukan cuma yang kayak, sudah nih hook- nya ini yah.

Di album ini Sheryl terdengar lebih R&B atau bereksperimen musik, tidak akustik. Apakah arah bermusik yang baru untuk meninggalkan image lama?

Aku lebih ke, aku tidak merencanakan apa-apa. Maksudnya dari satu sisi, bukan yang, aku tidak membenci masa lalu aku juga. Aku tidak membenci proses itu. Karena kayaknya kalau misalnya nggak kena yang itu, ya aku kayaknya nggak punya keberanian juga untuk keluarin yang aku punya sekarang. Jadi, aku bersyukur aja.

Toh juga secara apa ya. Maksudnya, hasil akhirnya juga nggak bisa aku bilang, oh my god it’s terrible. Some people like that stuff. So, and I made it. So, well OK. Tapi kayak aku sudah bisa main dua sisi dari satu koin. Dan aku ngerasa aku punya sisi yang ini yang belum pernah aku kasih kesempatan. Ya, aku coba. Ya, itu lebih dari segi bahasa aja, aku bikin album dalam bahasa Inggris. Itu sudah satu risk dengan sendirinya. Aku berkolaborasi dengan banyak indie artist, itu sudah sebuah challenge dengan sendirinya. Dan juga aku memutuskan untuk apa ya, lebih nge- push diri aku untuk lebih tau apa yang aku mau. Tanpa terpengaruhi sama stigma apa yang laku dan apa yang tidak. Dan dari situ aku jadi kayak bisa lebih jujur aja sih dalam karya-karyanya ya. Nggak kepepet gitu.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments