Wawancara Khusus Sheryl Sheinafia: 2021 Prioritas Jadi Musisi 

556

Album Sheryl yang sebelumnya berbahasa Indonesia dan sekarang full berbahasa Inggris. Bisa diceritakan?

Sesimpel aku lebih nyaman aja sih kalau berbahasa Inggris ya. Dan itu yang aku, maksudnya aku banyak dengerin artis-artis luar. There’s the one my big influence. So, i wrote from what i know saja. Aku juga jauh lebih nyaman dengan bahasa Inggris karena memang tidak membiasakan diri, bukannya aku nggak mau juga ya. Tapi tidak terbiasa aja gitu dengan berbahasa Indonesia.

Kalau bahasa Inggris internasional dan universal?

Tapi buat aku sih sesimpel, ini cara paling mudah bagi aku untuk bisa membawakan karya aku. Mungkin bukan bagi pendengar yang memutuskan untuk mendengarkan aku. Tapi, well if you wanna keep up. This is me.

Sheryl dan Kamga / dok. Sheryl Sheinafia

Kenapa huruf kecil semua judul-judul lagunya?

Huruf kecil karena memang aku tuh pernah “dibaca”, cara aku menulis, hand writing aku, I’m a capslock person. Dan itu kayak orang bisa ngebaca diri dari gambar pohon atau apa. Nah, ada yang pernah baca tulisan aku, ‘kamu adalah pemarah, kamu adalah orang yang punya ego besar’. Pokoknya benar semualah. ‘Kamu adalah orang yang keras’. Very bold, very dominant, very apa-apa. Sama sih kayak zodiak akulah, Sagitarius.

Orang pasti kan passed off. Sebagai orang-orang (berzodiak Sagitarius) yang, loe terlalu ini, forward apa-apa. Padahal sesimpel aku suka dengan caps lock. Jadi aku percaya, kalau OK gue bikin semuanya ini dalam huruf kecil karena memang ini bukan sebuah entitas yang gue pengin teriak-teriak atau trying to prove something. Tapi bagi aku tuh, memang ya secara EYD kan memang seharusnya per kata huruf depannya caps lock. Tapi bagi aku juga yang kayak jangan tanggung deh.

Kalau buat aku, go hard or go home for me. There’s no in between. Kayak either in party, i’m crazy or i’m staying back home. Metaphore- nya seperti itu. Cuma satu entitas yang harus dihargai adalah cara kita. Jadi, semua nama di situ punya caps lock– nya. Dan Jennovine sendiri dia perwakilan atas semua lagu-lagu itu. Nggak ada yang lebih kuat karena Jennovine is the topic. Feelings- nya Jennovine adalah lagu-lagunya.

Jennovine adalah nama untuk gitar pertama kamu. Apa pertimbangan menggunakan nama tersebut untuk album ini?

Baca juga:  Wawancara Khusus Aldrian Risjad: Tak Bercita-cita Menjadi Rock Star

I think it just feel like Jennovine is beautiful name. I like it dari kayak cara nyebutnya. Sebenarnya kalau dibaca sih sesimpel Jennovine. Seharusnya, cause v, i, n, e. Kalau vine, v-e-n-e. Aku tidak suka estetika itu.

Jadi tulisannya Jennovine tapi dibacanya Jennovene. Aku memang benar-benar kenapa Jennovine karena memang I like to name things that i loved. Dan aku bukan orang yang, I take back my words, but I always sorry before that. Kayak sorry gue salah, I admit my fault tapi kalau buat aku once I name something or i label something and that’s it. It’s like a tattoo. Jadi, di saat itu gitar pertamaku harus punya nama yang anggun, aku mau kasihnya apa, Jennovine. It’s my baby. Nggak tau rasanya punya anak juga. Jadi kayak anak-anak aku ya kayak it’s my pets, my guitars, and i don’t have much friends growing up. Jadi yang kayak imaginery things. Things i loved her. You know. Secret to me.

Si gitar pertama kamu ini ada kontribusi apa di album ini?

Gitar pertama aku tidak terlibat sama sekali. Gitarnya sudah bengkok (neck-nya red.). Trus suaranya juga nggak enak. Jadi dia cuma jadi artefak di rumah. Jadi kenangan tapi memang aku tidak akan pernah lupa dengan gitar itu karena dia memang yang membawa aku ke titik ini sih sebenarnya. My first key goes with that baby. My first purchase. My request of the guitar dulu dibeliin sama Papah gitu. Itu adalah gitar itu. Dan ya gitar itu adalah introduction buat Sheryl Sheinafia dinobatkan sebagai musisi dia lah saksinya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments