Wawancara Khusus Sheryl Sheinafia: 2021 Prioritas Jadi Musisi 

556

Pertama yang kamu tentukan sebagai kolaborator?

Kalau Petra sih dia memang sebagai produser dan teman baik aku yah. Aku bahkan tetanggaan sama dia. So, nggak baru-baru ini sih, kayak setelah albumnya kelar aku tetanggaan sama dia. Tapi memang aku udah kenal dia dari aku umur 16 dari dia masih lajang, sampai dia nikah, sampai punya anak.

Jadi kayak, dia sangat tau perjalanan musik aku dan kita memang punya frekuensi yang bisa kita kayak cocokin satu sama lain. Jadi, memang untuk dia yang mem- produced. Aku merasa gini, kolaborator-kolaborator aku. Mereka semua itu tidak mudah untuk tergiur oleh sebuah kolaborasi. Mereka bukan orang-orang juga yang ‘murah’. Mereka punya sikap yang sangat kuat untuk berkolaborasi dengan pertimbangan yang banyak banget. Makanya aku, I mean have a clear, aku selalu ngomong, even ke Pamungkas dan Rendy, aku bilang kata-katanya sama. ‘Here’s a song, kalau bukan loe yang kolaborasi sama gue. Gue nggak kepikiran orang lain. Tapi hear it, sleep on it. And then let me know. If you’re not interested, that’s okay’.

Pas menanti jawaban itu, kepikiran gitu nggak sih?

Nggak, karena kalau misalnya bukan mereka yang kolaborasi sama aku. Aku paling nyanyiin sendiri. Orang udah jadi lagunya. Gitu kan. Maksudnya tinggal, kalau loe mau kolaborasi, kalau loe mau jadi partner of song-writing, dua-duanya melakukan itu. Pamungkas. Bahkan judul lagunya bukan “house or home”. Judulnya “temporary cold”.

Trus kenapa berubah jadi “house or home”?

Karena ketemu kata-kata itu, house or home karena aku menceritakan tentang kayak bagaimana seseorang itu bisa sebenarnya jadi rumahku. Maksudnya, baby it’s so cold in a house without you home. Kita bisa saja di dalam rumah, tapi dia tidak terasa seperti rumah.

And ternyata me and Pamungkas share that similarity. Makanya dia bisa speak bahwa verse- nya nggak boleh kayak gini. Ada versi lainnya. Nyambungnya chorus- nya bagian aku dari bagian “cause baby it’s so cold.” Perdebatan panjang, tapi selalu masuk akal karena they are singer-songwriters. Mereka juga punya rasa, mereka juga punya sikap. Jadi, enak banget. Rendy gitu yang kayak, ‘OK gue nyanyinya bagaimana?’. ‘Ya, setelah chorus gimana?’. Yang kayak ‘OK gue pengin nyanyinya begini’. OK, keren. Jadi ya sudah, timbal balik saja.

Ada satu nama produser dari luar. Bagaimana ceritanya?

Baca juga:  Noni: Dari Gabut Jadi EP

Itu sebenarnya lagu paling lama di dalam album ini. Jadi itu lagu sebenarnya dibikin tuh di tahun yang sama kayak “Sweet Talk” sama “Fix You Up”. Which is my singles di tahun 2017 dan 2018. Why I never release that? Aduh kalau misalkan ini cuma jadi satu lagu yang aku rilis lepasan tanpa aku punya lagu-lagu lain untuk mewakili dia, biar dia menjadi entitas yang lebih kuat lagi, aduh bakal jadi selewat doang.

Dan ternyata aku merasa aku tuh belum sedewasa itu untuk bilang I just wanna lose my mind. Kayak aku belum lose my mind, tapi aku udah sotoy aja bikin lagu kayak gitu. Pada saat itu kayak, ‘Loe mau bikin lagu gimana?’. ‘Gue mau bikin lagu feel good‘. Yes, that’s the titled lose my mind gitu. Dan aku tuh nggak se- chill lagu itu pas lagu itu dibuat. Jadi, dalam bayangan aku tuh aku chill, aku seru, I’m badass. Tapi kayak banyak banget, masih bisa cepat tergoyah sama ini. Ada kesempatan yang lebih baik, ke sini. Jadi kayak nggak punya, sampai aku proses pembuatan lagu ini, i’m like OK. Lagu ini ternyata dia punya benang merah. Dia sama, dia mewakili lagu pertama, dia mewakili “ok”, dia mewakili “bye”. Dan aku sudah dalam proses pendewasaan itu, aku suka nggak tau apa yang aku ngomongin di lagu aku atau tentang siapa. Tapi memang imajinasi aku kadang tuh sudah kayak sepuluh langkah lebih maju gitu daripada aku. Tapi belum kesampaian. Namanya juga lagu karena itu kan doa ya. Kalau diaminin yang kayak siapa tau gitu kan kejadian.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments