Wawancara Khusus Sheryl Sheinafia: 2021 Prioritas Jadi Musisi 

556

Cerita di lagu, berapa persen dari kisah pribadi?

Semuanya sih. In a way or another, punya lagu itu penuh dengan memang kenyataannya seperti itu kehidupan Sheryl. Ada juga bagian di dalam album ini di mana itu adalah harapan aku, dan ada juga yang menceritakan tentang orang lain juga di dalam situ.

Jeda penggarapan album baru dari album sebelumnya cukup lama. Kamu sibuk ngapain aja?

Main film. Lalu, aku manggung-manggung juga. Dan sebenarnya lebih ke belum tau apa yang aku mau. Kayak nggak ada mindset untuk kayak album gitu. Belum ada keinginannya gitu.

Karena gini, kayak dalam proses pembuatan album aku bahkan dari yang pertama dan yang kedua saja aku tidak punya satu prinsip yang bikin aku yang kayak ‘Oh, setiap hari nih gue harus datang ke studio’. Dan nggak ada yang bimbing juga gitu untuk sampai ke titik itu. Jadi, setelah lagunya didemoin dulu. Tunggu dulu approval dan lain sebagainya. Tapi selama tiga tahun terakhir ini I feel like ada kepercayaan yang diberikan ke aku sama label aku untuk ngejalanin lagu-lagu aku dengan creative process yang aku jalani yaitu dengan ‘Yuk, bikin demonya dulu kumpulin semua lagunya. Yakin’. Dan aku akhirnya yang propose kenapa harus lagu ini. Gue mau lagu ini. Ya, akhirnya dari mereka sendiri bisa me- respect itu sih.

Kamu lebih pengin dikenal sebagai Sheryl yang aktris atau musisi?

Aku pengin dikenal sebagai apa saja yang menurut orang itu terbaik menurut mereka.

Terserah, karena memang aku terjunnya dalam banyak bidang ya, di dunia entertainment team. Jadi kalau misalkan, jadi nggak usah dipatokin lah. Kayak sebagai, kalau misalkan dari aku pribadi sih maunya as singer-songwriter. Kalau orang memang lebih suka aku main film ketimbang lagu-lagu aku. Aku nggak bisa kontrol preferensi mereka. Jadi ya udah as a entertainer ajalah biar cepat.

Jika harus memilih mana yang akan kamu prioritaskan di tahun 2021 ini?

Baca juga:  KaleidosPOP 2020: Wawancara Romantic Echoes

As a musician.

Sebagai musisi, kamu merasa punya tanggung jawab apa untuk dirimu, penggemar, pendengar, dan musik Indonesia?

Sebenarnya, kalau dari aku tanggung jawab terbesar aku adalah untuk diri aku. Jujur dulu sih. Jadi kayak apapun yang aku keluarin, selama aku jujur dan punya niat baik. Mungkin klise banget sih aku ngomong kayak gitu. Tapi buat aku pendengar, penggemar, dan musik Indonesia itu bonus gitu lho. Kontribusi aku di dalam situ, itu pasti akan kembali dulu ke titik awalnya.

Apakah aku bisa membuahkan sesuatu yang bagus dan sesuatu yang nggak bakal aku nyesel gitu lima tahun atau sepuluh tahun ke depan karena kayaknya itu yang paling memungkinkan buat aku. Karena aku sudah ada di fase di mana aku ketika mendengar, atau flashback- lah ke video klip lama aku saja deh. Kayak loe kenapa kayak gitu? Juga suka dapat tamparan gitu lho, nggak secara literal ya. Tapi dari orangtuaku, atau dari fans aku.

Ada yang bisa ngomongnya kayak, ‘Eh, loe nggak bakal ada di titik ini sekarang kalau loe nggak kayak gitu’. Tapi ada juga dari sisi siapa, dari sisi fans aku yang tiba-tiba upload lagu itu. Yang aku flashback dan punya rasa penyesalan. Tapi aku pikir-pikir lagi. Kalau nggak ada karya ini, nggak bakal ada orang ini mungkin. Jadi nggak terlalu berpikir terlalu jauh karena menurut aku itu semua nggak bakal ada kalau misalkan aku coba untuk bikin sesuatu yang jujur.

Ceritakan dengan singkat mengenai arti dari lirik lagu-lagu di album kamu! 

“intro” also interesting, itu sebenarnya percakapan aku sama kakak aku. Dia selalu menjadi orang pertama dan terakhir yang aku ceritain segalanya atau apa yang akan aku hadapi dan hasilnya. Dan di sini sebenarnya kenapa aku taruh di intro, karena perjalanan album ini juga ini adalah pengakhiran dari kebingungan aku dalam berkarier selama ini, dan awal yang baru. It’s something new juga kan yang aku rilis, jadi it’s and end to a new beginning. Aku mendapatkan keyakinan dari dia yang menyampaikan ke aku bahwa, you know ini ada pandemi ada apalah, loe laluin banyak banget, dan semua hal yang terjadi. You know, so nikmatin. Nikmatin sedihnya, nikmatin marahnya. Nikmatin ego loe dan lain sebagainya. It’s OK not to be Okay. 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments