Wawancara Khusus Sheryl Sheinafia: 2021 Prioritas Jadi Musisi 

556

Masuk ke “okay”, di mana I went to a really hard time pertengahan tahun lalu. Segala yang nggak happy, bukan cuma dari segi kayak, they ask me how I do, lebih ke kayak kalau aku misalnya take time to myself, dan juga kayak pas ke Bali aku berubah menurut mereka. mungkin aku jauh lebih heboh atau mereka melihat aku jauh lebih tenang. Kira-kira mereka bakal ngomong apa yah, dan itu yang aku terus-terusan ngerasa bahwa lagu ini jadi remedy aku. Ketika aku tidak punya jawaban apa yang aku sedang perjuangkan, atau apa yang sedang aku jalani atau aku sedang dead end saja. 

“bye”, di mana “bye” itu menceritakan tentang perpisahan antara aku dengan orang yang sangat berarti buat aku. Dan ini bisa digambarkan in your relationship sih sebenarnya gitu lho. Di mana aku merasa aku sebenarnya pribadi aku orang yang sangat possessive in a way. Tapi bukan dalam konotasi yang negatif ya. Tapi lebih ke kayak aku punya drive yang sangat besar untuk selalu jadi tameng kayak garda depan buat kayak orang-orang yang berharga bagi aku. Di lagu ini aku ngerasa kayak aku sempat mengalami di mana aku sudah memperjuangkan segalanya untuk orang ini, dan aku sudah ya I did everything, but you know dia meninggalkan for something better. Aku sudah ngerasanya dalam kapasitas aku dan cara aku. Aku udah memperjuangkannya mati-matian tapi akhirnya malah kayak hancur.

Aku akhirnya bikin “i wish i knew better”, that’s explain a lot karena ya bisa dibilang itu could be related to relationship too, Di mana kayak aku berharap aku tau lebih, you know, baik. Again, loving someone deeply, ya itu sudah digambarkan dari awal kalimatnya, “Can’t say I don’t miss you, Can’t say I dont care, but from the way that I see things, well your love ain’t there.” Dia memang tidak pernah mencintai aku seperti aku berikan kepada dia. Aku selalu merasa pada saat itu. Itu bukan berarti aku ngerasain ini sekarang yah. Maksudnya buat aku lagu ini secara aku untuk melepaskan pada saat itu. Aku merasa kayak tidak terbalas aja. Ternyata, segala perjuangan gue sia-sia.

Sheryl dan Pamungkas / dok. Sheryl Sheinafia

“déjà vu” where you know the love is lost, love is gone. I feel like daydreaming dalam lagu ini buat sebuah sosok yang aku tidak kenal belum pernah bertemu tapi aku sudah bisa membayangkan hubungan seperti apa yang ideal. Dan di sini ada kata-kata “My heartbeat turns into a race i have to lose” dan itu kayak buat aku salah satu my finest song-writing di dalam album ini sebenarnya di “déjà vu” ini karena aku memikirkan story line yang sangat rapih di kepala aku yang strukturnya kayak lagi rapih. Lagi tumben banget gitu. Aku ngerasanya di mana ada, misalnya ada teaser kayak, ada kenapa di fokusnya kepada bawang. Tapi ternyata kayak bawang itu muncul sebagai konklusi. Dan aku ngerasa kayak apa, ada lirik di mana aku ngomong kayak You always let me lose my breath when it comes to you, my heartbeat turns into a race i have to lose”. Jadi kayak di balik itu I felt like, thats about daydreaming. I decided to lose my mind because I think I should have known better. Nggak semua hal itu harus di dream, harus dipikirin matang-matang. Ribet gitu. 

Sampai di tahap di mana aku memikirkan “house or home”. Aku sebenarnya juga meskipun aku sudah pengin lose my mind, sudah thinking somebody new, I just getting over it. Aku memutuskan bahwa it’s still cold in a house without this person at my home, and just being someone i cant love. Sagitarius kan tidak pernah lepas dari hubungan yang fluktuatif yah, atau bisa kayak yang terlalu lama-lama menangis.

Baca juga:  Berkenalan Lebih Dekat dengan Soulfood!
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments