Wawancara The Jadugar: 15 Tahun Mengobrak-abrik Video Musik Indonesia

2510
The Jadugar / Ilustrasi @abkadakab

Bagi duet Anang dan Krisdayanti, memilih The Jadugar untuk membuat video klip mereka berisiko terjadinya musibah besar, syok, dan pertentangan paham. Tapi bagi band-band independen di era awal 2000an seperti the Brandals, Boys Are Toys, C’mon Lennon, Mocca, Homogenic, the Adams, hingga the Upstairs—siapa yang tidak tersenyum puas melihat hasilnya?

Betul sekali, video musik Indonesia diobrak-abrik! Pelakunya: The Jadugar. Mereka mendapat penghargaan Best Director MTV Indonesia Video Music Award 2003 untuk sebuah video musik yang hanya menampilkan kereta mainan berwarna putih berjalan di atas rel biru cerah, melintasi supermarket dan deretan minuman lunak bersoda, teks “Merdeka Ataoe Mati”, suasana cerah di skate park, bioskop kelas B di Jakarta Selatan, tumpukan kerat Teh Botol Sosro, dan kios bunga. Kereta mainan bertemu dan bersejajar dengan kereta beneran, kemudian rel kereta mainan dipasang melintangi rel kereta beneran untuk dilalui kereta mainan.

Tak ada personil band, tak ada model video klip, tak ada rambut tertiup angin, tak ada pendekatan “beauty” yang jamak dikenal pada hari itu, dan bahkan… tak ada lagu dan lirik yang catchy! Video musik pun dibuat dengan budget “mega-recehan”.

Video itu untuk lagu “Train Song” dari LAIN, sebuah band indie rock yang di kemudian hari para personilnya membentuk Zeke And The Popo, SORE, hingga menjadi pembuat scoring film paling produktif dan dikenal. Sementara The Jadugar adalah duet sutradara Anggun Priambodo, yang di kemudian hari berpameran seni di berbagai negara dan membuat film-film “alternatif”, dan Henry Irawan alias Betmen alias Henry Foundation, yang juga membentuk band synth-pop berstatus cult, Goodnight Electric serta bermacam proyek kesenian. Anggun dan Henry  relatif sepantaran, berteman sejak sama-sama kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Anggun angkatan ’96, Henry ’95 (boleh dikira-kira, berapa kini usia mereka).

Sebetulnya, masih ada satu “personil” lagi di The Jadugar, yaitu Nana Suryadi, kala itu ia bekerja di Radio Prambors, sosok yang mengurusi manajemen dan bisnis The Jadugar—meski duo sutradaranya tampak berat condong kepada senang-senang berkarya dibanding menghayati laba jasa. Bersama Nana, Anggun dan Henry mengerjakan video musik untuk nama sebesar Slank dan pendatang baru penuai hits; Peterpan.

Masa produktif duet Anggun-Henry membuat video musik bersama dengan nama The Jadugar sebetulnya tidak lama, sekitar dua-tiga tahun saja, 2002-2003-2004, tapi pada momentum yang paripurna. Ketika itu MTV sedang baru-barunya mendarat di Indonesia, mereka tancap gas dengan siaran sampai dini hari buta, dan The Jadugar menyerahkan kaset-kaset video musik karya mereka yang menyentak pemirsa muda. Gaya video musik baru untuk generasi baru!

Setelah berpencar, masing-masing Anggun dan Henry masih terus membuat bermacam video musik, dari televisi mulai berpindah ke Youtube, dengan hasil kreasi yang juga mumpuni. Sesekali, mereka masih bertemu dan berkolaborasi, tapi proyek terbaru The Jadugar kali ini sungguh di luar kendali, radar, dan pakem industri: The Jadugar membuat buku arsip karya-karya mereka, disertai aneka esai dan cerita! Anda mungkin sudah tahu tajuknya: The Jadugar: 15 Tahun Mengobrak-abrik Video Musik Indonesia.

Buku The Jadugar: 15 Tahun Mengobrak-Abrik Video Musik Indonesia

Setebal 277 halaman, buku ini bukan hanya berisi foto-foto penting dan detail artefak  produksi, melain juga berbagai pandangan yang kaya dari sejumlah penulis, musisi, dan teman-teman dari scene seni rupa The Jadugar. Anggun dan Henry, selain berdua saling mewawancara, masing-masing juga menulis catatan pembuatan karya-karya video musik pilihan mereka. Sangat mungkin ini adalah buku Indonesia pertama yang membahas video musik di Indonesia, dan dikerjakan bertahun-tahun dengan hasrat yang menggelora!