Wawancara The Jadugar: 15 Tahun Mengobrak-abrik Video Musik Indonesia

2960

Untuk segala “kekacauan” yang telah mereka lakukan, saya mendatangi alamat-alamat surat elektornik Anggun Priambodo dan Henry Foundation dengan sejumlah pertanyaan. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, mereka menjawab sekitar 40 hal, saya lampirkan untuk Anda. Sementara untuk hal-hal yang lebih jauh dan lebih dekat dengan The Jadugar, disarankan untuk langsung saja mulai menyimak bukunya. Enak dibaca dan sulit berhenti. Dan bagi Anda yang mengenal video musik bikinan Anggun dan Henry, ada di dalam pusaran eranya; awas kau tenggelam! Silakan membaca.

 

Selama berkuliah hingga awal lulus di IKJ, apa cita-cita kalian?
ANGGUN: Pingin jadi seniman.
HENRY: Jadi seniman terkenal….tapi gagal.

Sebetulnya, siapakah yang pertama kali membeli poster film Jadugaar? Kenapa ia membelinya?
ANGGUN:  Kalau nggak salah Ade Darmawan pulang dari India, dia beli banyak poster film di sana, salah satunya Jadugaar. Poster itu bagus sekali estetikanya, jadi ditempel di tembok dalam Ruangrupa.
HENRY: Ade kan senang ngumpulin found object. Poster itu dibeli entah buat apa.

Apakah kalian sudah pernah menonton film Jadugaar?
ANGGUN: Belum
HENRY: Belum

Dari mana ide membuat buku The Jadugar?
ANGGUN: Tahun 2015 gue lagi buat karya untuk pameran Lab Laba-laba dan PFN. Sengaja gue buat tentang penggunaan arsip film milik PFN yang disimpan oleh ANRI (Arsip Nasional Rep.Indonesia). Pengalaman itu jadi bikin mikir kalau pengarsipan itu memang penting. Jadi mulai berpikir untuk lebih merapikan semua arsip milik sendiri, termasuk arsip-arsip karya bersama Jadugar. Mulailah punya ide untuk membuat buku tahun 2016.

Kesulitan apa saja selama pembuatan buku ini?
ANGGUN: Mengumpulkan arsip Jadugar itu sendiri. Terutama kaset-kaset master shooting dalam bentuk mini dv dan VHS, coba kita digitize. Tidak semuanya dilakukan karena jumlahnya banyak sekali. Lalu memilah arsip fisik lain seperti dokumen, buku catatan, foto, kamera, kaset, bahkan kostum, dan prop artistic beberapa masih ada. Kebetulan gue memang suka menyimpan apa pun yang dulu dikerjakan. Jadi, itu semua masih ada. Untuk aset, dibantu oleh The Youngrrr (Yovista dan Aline). Lalu mengumpulkan materi tulisan teman-teman yang dibantu oleh Hilmi. Jadi perlu waktu panjang memang untuk menyatukannya.
HENRY: Finansial sih. 

Buku apa saja yang paling sering kalian ulang baca?
Anggun: Kumpulan cerita pendek Pagi Yang Miring ke Kanan (Afrizal Malna)
Henry: Buku-buku referensi biasanya, atau novel Agatha Christie.

Kenapa The Jadugar mengajak Hilmi untuk mewawancarai Nana dan teman-teman The Jadugar?
HENRY: Waktu itu kita memang sengaja nyari penulis muda, baru, dengan pengetahuan film dan musik yang cukuplah. Nyari, nyari, nyari, dan nemu Hilmi.

Lima video musik favorit sepanjang masa?
ANGGUN: Daft Punk – “Around the World” (Gondry), Anna Mathovani – “Cinta Pertama”, di film Cinta Pertama (Teguh Karya), Bimbo – “Cemara”, di film Ambisi (Nya’ Abbas Akup), Naif – “Selalu” (Platon), Pure Saturday – “Kosong” (PS).
HENRY: “I Wanna be Adored” – the Stone Roses, “Friday I’m In Love” – the Cure, “Sabotage” – Beastie Boys, “Devil’s Haircut” – Beck, “Star Guitar” – Chemical Brothers.

 

Tiga film favorit?
ANGGUN: Black Moon (Louis Malle), Vengence is Mine (Shohei Imamura), Winter Sleep (Nuri Bilge Ceylan).
HENRY: Before Sunrise – Richard Linklater, Rushmore – Wes Anderson, From Dusk Till Dawn – Robert Rodriguez