1522

Wawancara The Jadugar: 15 Tahun Mengobrak-abrik Video Musik Indonesia

Duo The Jadugar, Anggun Priambodo dan Henri “Batman” Foundation circa 2000an / foto: dok. The Jadugar

Tiga album favorit?
ANGGUN: Soundtrack The Simpson, Ennio Morricone, U2- “Achtung Baby”.
HENRY: “Disintegration” – The Cure, “Song of Faith and Devotion” – Depeche Mode, “Angel Dust” – Faith No More.

Tiga pameran seni rupa favorit kalian?
ANGGUN: Mengenang Sanento Yuliman (2019), Mengalami Kemanusiaan (2015), Ser Eek Plung Crot (1999, ini gue dan Betmen terlibat pameran bersama pertama kali.
HENRY: Waduh maap…gak ada.

Dari mana kalian mengenal video art?
ANGGUN: Pameran Teguh Ostenrik tahun 1998 di Erasmus, dan baca bukunya Krisna Murti.
HENRY: Waktu kuliah dulu pernah baca di perpustakaan ada beberapa perupa seperti Warhol yang juga buat video. Tapi kenal lebih jauh soal video art itu dari Ruangrupa..

Tiga konsumsi syuting The Jadugar kesukaan kalian?
ANGGUN: Apa aja masuk.
HENRY: Aqua, kopi, martabak.

Bagaimana pola kerjasama kalian dengan editor Syauqi?
ANGGUN: Hangat dan saling menghormati hak dan kewajiban
HENRY: Biasanya kita brief melalui storyboard, kasih referensi, lalu dia mengerjakan offline-nya, dst. 

Baca juga:  Kampungan Versus Gedongan: Bagaimana Selera Musik Kelas Menengah di Indonesia Terbentuk?

Setelah proses pembuatan buku The Jadugar, ada hal tentang Anggun dan Betmen yang justru baru kalian ketahui?
ANGGUN: Tidak ada, kita sudah saling mengerti dan lebih dewasa.
HENRY: Nggak ada, sih…. Sudah tahu Anggun luar-dalam, kiri-kanan, depan-belakang, dll.

Apa komentar orangtua kalian melihat The Jadugar?
ANGGUN: Jangan meninggalkan sholat walau sesibuk apa pun (Ibu).
HENRY: Belum pernah lihat video Jadugar satu pun kayaknya haha…

Apa saja acara TV favorit kalian?
ANGGUN: Sekarang nonton TV kalau ada debat presiden atau gubernur DKI.
HENRY: Sekarang paling Liga inggris aja, itu pun nggak ada di TV, ya?  Sudah jarang nonton TV, ya, paling Headline News lah. 

Baca juga:  Kritak Kritik dalam Musik, Perlukah?

Apakah kalian pernah merasa tidak/kurang PD?
ANGGUN: Pernah dan sering, sangat alami itu
HENRY: Ada, sih… tapi kadang, ya sudah, cuek aja…tabrak lari.

Hal apa yang bisa membuat kalian merasa lelah dalam membuat karya?
ANGGUN: Kalau ngantuk, ya, akhirnya lebih baik perbanyak waktu istirahat
HENRY: Nol inspirasi. Bikin lelah. 

Apa kamera favoritmu?
ANGGUN: iPhone, Lumix, dan Black Magic.
HENRY: Saat ini kamera-kamera 1980s-90s analog VHS/S-VHS. 

Di antara semua video musik yang kalian bikin, lagu apa yang sampai hari ini paling sering kamu putar?
ANGGUN: Jirapah – “Crowns”.
HENRY: C’mon Lennon haha…Tapi ini beneran, band lo keren banget, Bin. Reuni lah sekali-sekali haha… (Harlan Boer/Bin adalah vokalis C’mon Lennon. Red)

Siapa sosok fiktif favorit kalian?
ANGGUN: Culap-culap air tawar.
HENRY: Hercule Poirot. 

Baca juga:  Ibu Kartini di Dekade Musik Indonesia

Musik siapa yang jika kalian mendengarnya sering terbayang akan visualisasinya?ANGGUN: Ada sebuah musik tarian yang judulnya “Blek Dik Dot”.
HENRY: Siapa, ya? Banyak sih ya, tergantung mood lagu dan liriknya, biasanya. Kemarin-kemarin gue sempat membayangkan visual buat Jirapah, Sundancer dan proyek solo elo Bin (tertawa) 

Apakah kalian punya istilah-istilah khusus dalam membuat video musik yang tidak umum digunakan oleh sutradara lain?
HENRY: Basanya saling tatapan mata, dengan kedipan morse sama Anggun. Kode-kode gelisah spontan gitu. 

Ketika bekerja dalam budget besar, berapa persen yang biasanya kalian gunakan untuk produksi?
ANGGUN: Semuanya kalau perlu, buat kantong sendiri, secukupnya saja.
HENRY: Semaksimal mungkin, sih. Karena jarang mendapat budget besar, jadi sekalinya dapat, ya, langsung foya-foya: sewa kamera mahal, dll hahaha…