15 Lagu Folk Indonesia Esensial 1970-1980

Mar 13, 2022

Musik folk di Indonesia telah merebak di tahun pertengahan – akhir 60an di Indonesia. Musik-musik yang beberapa tahun terakhir konotasinya kerap disalahartikan sebagai musik ‘kopi senja’ ini aslinya memang telah digandrungi anak muda di Indonesia sejak era itu.

Tema musik folk Folk Amerika yang populer dimainkan oleh Bob Dylan, Joan Baez, Melanie, Peter Seeger, Phil Ochs, Simon & Garfunkel hingga kelompok Crosby, Stills, Nash & Young menjamur dari era 60 – awal 70-an di kalangan penikmat musik yang datang kalangan pelajar hingga mahasiswa. Bermodal gitar gitar akustik dan bernyanyi, anak-anak muda kampus kerab memainkan musik folk sebagai sarana hiburan buat mereka.

Sutradara Riri Riza menggambarkan situasi keakraban musik folk dan mahasiswa di era 60an dalam filmnya yang bertajuk Gie.

 

Di film tersebut, ada adegan mahasiswa kerap mempertunjukan musik folk di acara-acara kampus. Selain itu, rekaman-rekaman musik folk populer di Amerika saat itu juga kerap diputar di radio-radio kampus.

Tulisan menarik kritikus musik mendiang Denny Sakrie pada bukunya 100 tahun musik Indonesia mencatat setidaknya ada tiga kota besar yang menjadi pionir dalam memperkenalkan musik folk di Indonesia yaitu Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Selama awal 70-an, di ketiga kota tersebut, musik folk kian menjamur dalam festival-festival lagu folk yang kerap diberi embel-embel Parade Folk, baik di Jakarta (Bulungan, 1975), Bandung (Gedung Merdeka, 1973), dan Surabaya (Universitas Airlangga, 1974). Biasanya, festival Folk Song ini diikuti oleh grup grup dari sekolah, kampus maupun umum.

Bimbo / dok. indonesianfilmcenter.com

Terlepas dari itu, dari tiga kota ini juga tumbuh grup grup folk yang mewarnai industri musik populer Indonesia. Selama kurun tahun 70-an, label-label mulai melirik geliat musik folk/Folk Songs ini dan mulai mengontrak dan merilis beberapa album rekaman.

Di Jakarta mulai terdengar Kwartet Bintang yang dimotori Guntur Sukarnoputra putra sulung Presiden Sukarno, Noor Bersaudara hingga Prambors Vokal Group.

Sedangkan di Bandung sejak tahun 1967 telah berkiprah Trio Bimbo hingga Remy Sylado.

Remy Sylado / dok. istimewa

Sedangkan di Surabaya sejak tahun 1969 telah terdengar nama Lemon Tree’s yang didukung oleh Gombloh dan Leo Imam Soekarno yang di era paruh 1970an dikenal dengan nama Leo Kristi.

Dengan mempelajari sejarah ini, kita tahu bahwa musisi-musisi yang sedikit banyak dicap dengan label folk hari ini, dari mulai Jason Ranti, Endah N Rhesa, Dialog Dini Hari, Sir Dandy, Adhitia Sofyan, dll tidak muncul dari langit dengan sendirinya. Ekspresi mereka secara umum bisa jadi adalah replikasi dari apa yang musisi folk jaman dulu telah lahirkan.

Berikut ini 10 Lagu Folk Esensial di era 70-an-80an pilihan Pophariini.

 

Bimbo – Serani di Noda (Remaco, 1974)

Sejak kemunculannya di awal tahun 70-an, Bimbo punya amunisi musik dan lirik yang sarat akan puisi dan tema-tema yang menarik. “Serani Di Noda” adalah salah satunya. Lagu yang terambil dari Balada Pendekar (1974) ini memotret dinamika dan dilema kehidupan biarawati yang jatuh cinta kepada pria.

 

Tom Slepe – Jaman Edan (ABC Records & Lembaga Humor Indonesia, 1978).

Di akhir 70-an, Tom Slepe dan Iwan Fals adalah salah satu folkie yang cukup diperhitungkan. Ketika Iwan Fals maupun Slepe belum besar, mereka berdua bersama grup Pusaka Jaya hadir dalam bentuk rekaman threeway split Canda Dalam Nada (rilis 1978). Dirilis ABC records dan Lembaga Humor Indonesia, album ini adalah bentuk hadiah buat mereka bertiga karena memenangkan ajang Lomba Musik Humor.

 

Franky & Jane – Blue Yean (Yukawi, 1975)

Seperti halnya Bimbo, duet Franky & Jane juga mengulas tema-tema yang dekat, dari buruh, indahnya musim bunga hingga fenomena/tren urban di era 70-an yang disematkan di lagunya yang bertajuk “Blue Yean” (dibaca: blu jins). Blu Jins menjadi tren di kalangan anak muda pada saat itu yang identik dengan kebebasan dan modernitas.

 

Ully Sigar – Ilalang Hijau (Irama Mas, 1978)

Rasa-rasanya tidak pas jika memasukkan nama Ully Sigar ke dalam daftar ini. Penyanyi, penulis lagu yang juga aktivitis lingkungan, kakak dari Paramita Rusady ini memang akrab dengan lagu folk dan akustik. Tidak tanggung-tanggung, Ully Sigar menimba musik, terutama permainan gitar dan komposisi musik di Yayasan Musik Indonesia dan belajar langsung pada komponis kontemporer Indonesia, Slamet Abdul Sjukur. Rimba Gelap, debut albumnya menyajikan kumpulan lagu-lagu folk yang wajib disimak. Mendengarkan handpicking gitar dan lengkingan kuatnya mengingatkan kami akan lagu-lagu folk klasik ala Joan Baez era awal, pun jalan hidupnya sebagai aktivis makin menembalkan anggapan kami.

 

Inpres – Greges, Pagi Februari 1980 (Musica, 1980)

Membahas uniknya perjalanan cerita grup folk asal Bandung yang satu ini tentunya bisa satu tulisan tersendiri. Yang jelas, keputusan Musica Studio’s saat itu yang merilis grup dengan nama yang berasal dari singkatan Instruksi Presiden cukup berani. Buntutnya, album ini dibredel dan ditarik kembali di pasaran. Selain karena nama band yang jadi masalah, mungkin juga karena tema mereka yang memotret soal peristiwa eksekusi mati Kusni Kasdut, penjahat yang kerap dijuluki Robin Hood-nya Indonesia yang terjadi di Greges Surabaya, seperti yang tersemat di lagu ini. Pengaruh musik celtic dan irish kental sekali di lagu ini.

 

Kelompok Kampungan – Hidup Ini Seperti Drama (Akurama, 1980)

Fusi folk dan psikedelik erat tergambar dalam grup yang lahir dari Komunitas Bengkel Teater Rendra di Yogyakarta. Tema-tema yang lahir amat dalam, selain membahas soal  dunia dan Ketuhanan dan kelindan di dalamnya, mereka juga menyisipkan lagu penghormatan kepada presiden pertama Indonesia, Soekarno.

 

Lemon Tree’s anno 1969 – Tetralogi Fallot (Golden Hand Record, 1978)

Bicara tentang supergroup,  supergroup yang lahir tahun 1969 ini yang isinya adalah musisi-musisi dan lyricist kelas kakap, sebut saja seperti  Gombloh, Leo Kristi, dan Franky Sahilatua; terlibat pula nama Tamam Husein, Irma, dan Cathy Boyoh dan masih banyak lagi. Unit yang dipengaruhi oleh folk, artrock dan progresif rock, grup ini malang melintang di seputaran Surabaya dan Jawa Timur. Lagu ini adalah salah satu komposisi esensialnya selain dari “Siluet Kuda Jantan” yang terambil dari debut Nadia & Atmospheer.

 

Leo Kristi – Gulagalugu Suara Nelayan (Irama Tara, 1977)

Membicarakan musik folk, tentu haram jika tak menyebut nama musisi asal Surabaya ini. Eks personil dari Lemon Tree’s Anno 1969 ini bersolo karier dan menelurkan beberapa album. Yang terkenal adalah seri Konser Rakyat-nya. Lagu ini ada di seri Nyanyian Tanah Merdeka yang dirilis dalam bentuk kaset dan vinyl. Kerap lagu-lagunya dipengaruhi nuansa tradisional.

 

Pahama – Oplet Dago (Bimo Recording System, 1977)

Grup yang lahir tahun 1976 ini dulu kerap dijuluki “Bimbo Ambon” saking punya kemiripan yang kental, dari gaya bernyanyi dan harmoni vokal dengan Bimbo. Pada akhirnya, Pahama pun dikontrak oleh Bimbo untuk mem-produce satu album dibawah Bimbo Recording System.  Tema-tema yang disandang sangatlah humanis, menyoal hal-hal yang dekat di perkotaan, terutama di kota Bandung. dari “Tukang Copet” sampai “Oplet Dago”.

 

Noor Bersaudara – Harapan Nan Gersang (Paramaqua, 1975)

Komposisi folk dan jazz erat terbaca dari album ini. Pun, di album kedua, grup yang awalnya adalah band bocah sejak berdiri 1962 inipun akan berubah menjadi band jazz ketika segerombolan musisi jazz ikut campur tangan dalam menangani album keduanya. Namun sejak album pertama, bibit-bibit jazz pop mulai terasa. Empat orang kakak beradik ini dikaruniai dengan bakat bermain dan aransemen lagu yang luar biasa. Terambil dari album split bersama Prambors Band, “Harapan Nan Gersang” adalah salah satu bukti esensialnya.

 

Prambors – God (Paramaqua, 1975)

Alunan vokal persilangan antara Judy Dyble dan Joan Baez, Sarah Hutauruk vokalis Prambors band menyanyikan lagu tentang puji syukurnya kepada sang maha kuasa. Satu-satunya komposisi berbahasa Inggris yang kuat dipengaruhi folk Inggris dan Amerika di era 60-70-an. Lagu ini terambil dari album split dengan Noor Bersaudara.

 

Remy Sylado – Aku Raja Atas Kecewaku (Duba Records, 1971)

Menyulut aroma electric folk & blues Bob Dylan via Highway 61, ini adalah satu cukilan dari masterpiece musisi asal Bandung yang bertajuk Orexas. Album Orexas (singkatan dari Organisasi Sex Bebas) sendiri adalah album folk yang bertema kritik sosial yang berat. Terutama soal pergaulan bebas anak muda dan kritik terhadap generasi tua.

 

Iwan Fals – Generasi Frustasi (ABC Records & Lembaga Humor Indonesia, 1978).

Karya populer Iwan Fals yang pada awal karier dikenal dengan nama Iwan Fales. Ini adalah track 1 dari album split 3 musisi antara dirinya, Tom Slepe dengan grup Pusaka Jaya bertajuk Canda Dalam Nada. Lantunan akustik dengan lirik lugas menyoal perilaku sosial anak muda dan generasi tua, sama seperti Remy Sylado, namun dengan cara yang humoris.

 

Koes Plus – Pemain Kecapi (Remaco, 1976)

Koes Plus memang bukan grup yang bisa dikategorikan folk, namun mereka sangat baik membaca tren Folk Song yang tengah berkembang, hasil responnya sangat baik dengan keluarnya sebuah album penuh yang diberi tajuk Folk Songs vol.1 (sampai hari ini kami tidak menemukan seri 2 dari album ini). “Pemain Kecapi” ditulis soal sederhananya pemain kecapi, digubah dengan mengambil referensi pesilangan “Here Comes The Sun” dengan “As Tears Go By”, sangat esensial!

 

Ebiet G. Ade – Jakarta 1 (Musica, 1978)

Kemunculan Ebiet G. Ade sebagai musisi balada yang memang dipengaruhi musik folk, country dan balada dan pop yang kental. Sehingga sulit mencari mana komposisi folk dari penyanyi yang terpengaruh dengan John Denver ini. Dari album Camelia I, kami memilihkan komposisi sunyi dengan gitar, vokal dan harmonika yang memotret Jakarta dan dinamika urbanisasi.

____

Eksplor konten lain Pophariini

TRIOUT Beranggotakan Ganta, Mody, dan Bondol Hadirkan Single Trilogi

Setelah merilis single berjudul “Besarnya Tetap Sama” dan “Angka” tahun lalu, trio asal Jakarta, TRIOUT siap mengeluarkan beberapa karya terbaru tahun ini. Trio beranggotakan Ganta, Mody, dan Bondol ini bakal merilis single trilogi. Di …

5 Musisi Lokal yang Bergenre Sama dengan Novo Amor

Setelah terakhir mengisi barisan penampil sebuah festival di tahun 2018, Ali John Meredith-Lacey atau dikenal dengan nama panggung Novo Amor akan kembali bertemu penggemarnya hari Sabtu, 2 Maret 2024 di Basketball Hall, Senayan, Jakarta …