1076

1998 Dalam Rekaman Pop Bawah Tanah Indonesia

Sampai saya berbincang dengan Alexandra J Wuisan akhir April lalu, saya tak pernah tahu kalau “Biara” yang dia gubah bersama Sieve adalah refleksinya pada kondisi Indonesia 1998. Sebagai salah satu fragmen ‘detik-detik jang menentukan’ dalam sejarah bangsa, momentum jatuhnya kekuasaan Orde Baru 22 tahun silam memang ditangkap dalam banyak bentuk. Tak hanya orasi dan aksi, dia juga menjelma pada komik, puisi, film, dan yang menjadi bahan tulisan ini: musik.

Sandra –sapaan Alexandra– masih ingat betul saat terjadi gonjang ganjing 1998 di Indonesia dia sedang di Hong Kong. Berangkat pada 1997 untuk magang, Sandra tak bisa pulang. Padahal di tengah ketidakpastian 1998, yang diembannya di rantau tak cuma rindu tapi juga khawatir pada sanak saudara yang ada di tanah air.

“Saya enggak mau political tapi masa itu memang sangat berpengaruh ya,” kata Sandra.

Baca juga:  Galang Dana Irama Nusantara, Pusat Arsip Musik Populer Indonesia

Di usia yang masih cukup muda dan tertahan di negeri orang tentu bukan sesuatu yang mengenakkan baginya. Tapi bagaimana lagi, pulang bukan pilihan. Orang tuanya melarang karena alasan keamanan. Sandra pun hanya bisa menumpahkan sedu sedannya pada bait puisi yang memang biasa dia tulis. Puisi yang kemudian dia ubah jadi lagu dan direkam saat membentuk Sieve bersama Regina Rina dan Richard Riza di tahun 1999.

“Akhirnya jadilah lagu “Biara” yang juga jadi judul dari mini album tersebut,” ucap dia.

Sieve era 2000 an / foto: Benny Kusnoto

Tahun 1998 memang bisa dilihat dari sudut mana saja kau berdiri. Itu tentu bukan waktu yang mudah buat semua. Jika banyak orang merekamnya pada peluh aksi dan teriakan orasi, maka yang Alex rekam adalah kebutuhan atas rasa aman. Aman yang dia analogikan bisa didapat dengan munajat di biara, bertawakal pada sang Maha. Maka terciptalah itu bait syahdu:

Baca juga:  Selamat Jalan The Godfather of Broken Heart

Sampaikan salamku / Di alam rantau, dimana / Jarak bertemu dan sayap / Meranum

 

 

Sementara di tahun yang kurang lebih sama, Nyoman, Helmy, Aldy, Aroel, Ekky, dan Molly yang saat itu tergabung dalam band Planet Bumi merekam memorinya atas 1998 dari gelanggang aksi.

Planet Bumi memang bukan band politis. Tetapi pengalaman hampir tiap hari turun ke jalan turut memberi inspirasi bagi kekaryaan mereka. Apalagi di tahun segitu Planet Bumi masih kenceng-kencengnya naik panggung bersama sejumlah kompatriot indies Jakarta era awal seperti Pestolaer, Wondergel, Rumahsakit, dan lain-lain.

Kepada saya, Nyoman, vokalis Planet Bumi menyebut setidaknya ada dua lagu yang mereka rekam berdasarkan pengalaman 1998. Lagu itu berjudul “Aku Tetap” dan “Jarum Pentul”. Dua lagu ini masuk ke mini album kedua mereka “Lihat Kebunku Penuh Dengan Bunga” (1998) yang dirilis secara mandiri dan debut album penuh mereka “Dunia Cermin” yang dirilis label dua tahun setelahnya.

Baca juga:  PHI Kaleidospop: Cuplikan Promosi Band Indonesia 2018

Sekadar informasi, saat itu Nyoman dan Molly masih berkuliah di Universitas Indonesia. Dua personel lainnya Aroel dan Aldy di Trisakti.

Planet Bumi di era 90an / dok. Planet Bumi

“Lagu-lagu ini dibuat sebelum Mei. Soeharto belum turun. Akan lah. Jadi memang sudah kelihatan tanda-tandanya. Tinggal menunggu waktu,” kata Nyoman.

Seperti kita semua tahu, beberapa tahun sebelum 1998 memang gelagat kemuakan rakyat atas tirani Orde Baru sudah mulai terasa. Mimbar bebas banyak digelar berkelindan dengan represi aparat yang mulai gencar mengincar. Ini ditangkap Planet Bumi dalam bagian awal lirik “Jarum Pentul”: Tak ada kebebasan untuk bicara, kawan dan lawan tak ada beda.