1076

1998 Dalam Rekaman Pop Bawah Tanah Indonesia

Sementara 22 tahun berlalu sejak reformasi ternyata lukanya masih terasa. Efek Rumah Kaca merekam asa korban yang setia berdiri setiap Kamis di depan Istana dalam “Hilang” (2011). The Panturas mengungkitnya dalam cita rasa yang personal lewat “Sunshine” (2018).

Ironis memang. Bahkan, lagu-lagu yang diulas di awal tulisan ini pun masih relevan.

Refrain “Kaca” milik Pure Saturday misalnya masih pas kita nyanyikan dengan lantang di hari-hari ini. Saat kebijakan penanganan Pandemi Covid-19 yang dilakukan pemerintah cenderung plin plan dan membingungkan publik, layaklah kita sangsikan apakah negeri ini masih sanggup berdiri?

Pun begitu dengan “Jarum Pentul”. Entah oleh siapa, tapi baru saja saya dengar kalau ternyata masih ada ancaman pembunuhan kepada pewarta karena berita.

Baca juga:  May Day Bukan Sekadar Hari Buruh

Sampai sini saja? Oh tentu tidak. Karena kalau dirunut daftarnya tentu akan lebih panjang. Sepanjang jejak putar balik fakta yang dilempar pendengung di linimasa setiap harinya.

Sejenak saya lepas keyboard dan merenung: Apakah mungkin sebenarnya kita hidup di dunia yang tak pernah kemana-mana? Hanya berganti kuasa tapi berakhir dengan luka sejarah yang sama.

Lalu entah kenapa terngiang lagi bait terakhir “Labirin”: “Adakah ini akan berakhir ataukah ini adalah akhirnya?”.