20 Tahun Album Ningrat – Jamrud: Duka Tejo, Suka Aziz dkk.

1343
Jamrud formasi Ningrat.
Jamrud formasi Ningrat. Ki-ka: Krisyanto, Herman, Azis M.S, Ricky Teddy / Foto: Pinterest.com/jamrudtheband

Seks dan narasinya memang selalu punya daya tarik di berbagai produk budaya. Mulai buku hingga musik. Dari Enny Arrow sampai Azis M.Siagian. Nama terakhir bikin geger di tahun 2000 lewat lagu “Surti-Tejo” yang muncul di album keempat milik Jamrud, Ningrat.

Seperti pengarang cerita stensilan, Azis dengan runut menuliskan kronologi reka adegan melepas rindu di pematang sawah hingga malam selimuti desa. Azis melakukan foreplay perlahan, seperti pergerakan jemari Tejo yang piknik dari wajah sampai lutut Surti. Klimaksnya adalah saat Tejo mulai berakting di depan Surti memasang alat kontrasepsi. Akhir ceritanya adalah derita buat Tejo. Tejo kabur ditinggalkan Surti yang kecewa sang Arjuna yang dulunya dekil dan lugu berubah setelah mencari dana di kota.

Derita buat Tejo adalah suka bagi Azis M. Siagian, Krisyanto, Ricky Tedy, dan Suherman Husin. Keempatnya tercatat dalam keanggotaan Jamrud, eksponen pengusung musik cadas terakhir yang paling sukses di sirkuit musik rock arus utama Tanah Air. Klaim ini mungkin akan dinilai terlalu berlebihan. Namun kenyataannnya album Ningrat yang dirilis 20 tahun lalu jadi rumah bagi Surti dan Tejo tadi tercatat sebagai salah satu album dengan penjualan paling moncer sepanjang sejarah musik Indonesia.

Laporan Pantau menyebutkan hingga akhir Oktober 2001 atau belum genap setahun sejak album keempat dari barudak Kebonsari, Cimahi itu dirilis pada bulan Desember tahun 2000 sudah mencapai angka 1,8 juta keping,[1] Tentu jika mengacu pada angka all time sales jumlah tersebut akan jauh lebih besar. Namun yang jelas, dengan perubahan pola konsumsi musik, rekor tadi sepertinya akan tetap abadi.

Statistik tadi juga menabalkan tahun 2000 sebagai salah satu era penting di industri musik dalam negeri. Di tahun tersebut tiga band, dari tiga corak musik yang berbeda saling adu cepat dalam mencetak laba dari penjualan album fisik. Dewa yang sukses dengan pergantian formasi meneguk manisnya penjualan album Bintang Lima. Sheila On 7 melibas keraguan sebagai one hit wonder band lewat Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Dan Jamrud membuktikan bahwa musik keras bisa laku dijual lewat Ningrat yang kini berusia 20 tahun.

Sebetulnya Jamrud memulai album yang menjadi tambang emas Log Zhelebour ini dengan berdarah-darah. Selepas Terima Kasih yang membuat Jamrud sukses menyabet Anugerah Musik Indonesia untuk kategori Grup Rock dan Album Rock Terbaik tahun 1999, Jamrud harus kehilangan penggebuk drum Sandy Handoko dan gitaris Fitrah Alamsyah yang menemui ajal karena ketergantungan narkotika. Padahal line-up Krisyanto, Azis M. Siagian, Ricky Teddy, dan mendiang Sandy dan Fitrah meletakkan pondasi musik yang membuat Jamrud menjadi the big thing: akar heavy metal dan thrash yang dipadukan secara jahil dengan beberapa ragam aliran sebut saja swing, ska, reggae, nomor-nomor balada yang terbukti selalu berhasil melelehkan telinga, sampai pendekatan iseng pada nada-nada pentatonik. Dan tentu saja, vokal Krisyanto yang khas dalam pengucapan huruf-huruf vokal.

20 Tahun Album Jamrud - Ningrat
Jamrud formasi album Terima Kasih dengan personil Sandy Fitrah

Namun Jamrud berhasil lepas dari masa limbung setelah meninggalnya Fitrah dan Sandy.  Azis M.S yang mendominasi penulisan lirik (sisa dua lagu ditulis oleh bassist Ricky Teddy) berhasil menciptakan formulasi kuat untuk karakter lagu Jamrud. Struktur lirik seperti cerita pendek satu babak, dengan gaya tengil, cuek, dan cabul yang kemudian menciptakan humor segar tanpa harus terjebak dalam kotak band komedi seperti Seurieus. Resep ini membuat lirik-lirik Jamrud jadi begitu mudah dicerna dan dekat dengan akar rumput. Bukan sesuatu yang jauh, mengawang,  dan tidak mencoba untuk meneguhkan berhala kehidupan sebagai rock star, katakanlah jika dibandingkan dengan lirik-lirik milik AKA atau God Bless.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments