20 Tahun Album The Groove “Kuingin” Bergoyang

Jul 25, 2019
The Groove

Dahulu… semua indah
Dahulu… kumenjadi bunga cintamu

Dahulu, dua puluh tahun lalu, The Groove menggoyang Indonesia dengan rekaman acid jazz-nya. Kita lihat masa-masa itu, hidupi dan putar kembali musiknya!

Mereka yang haus untuk menemukan musik baru (entah itu beneran baru atau jarang tersentuh), turut membentuk masa depan. Dahulu, radio dan DJ adalah oknum-oknum yang paling sering menjadi biang keladinya; menyebarkannya virus musik dengan bersenang-senang, tanpa terlalu sadar bahwa virus itu dapat berevolusi dan sampai ke tempat-tempat yang terjauh.

Mulai dari semangat Rare Groove yang menggali rekaman funk/soul/disco 1970an yang terpendam, beririsan dengan dimulainya perayaan house music pada klab-klab di Amerika Serikat pada 1980an, hingga konon terminologi tercipta sejak ocehan seorang DJ bernama Chris Bangs untuk membedakan musik yang diputarnya dengan acid house yang sedang merajalela: “This is acid jazz!” Segalanya menjadi lebih tebal sejak Gilles Peterson dan Eddie Piller, keduanya DJ dan penyiar radio, mendirikan perusahaan rekaman Acid Jazz Records.

Acid Jazz Records memulai rilisan pertamanya dengan single “Frederick Lies Still” dari Galliano pada 1987, hingga pada 1990an musik dari label yang mereka dirikan telah menjangkit ke mana-mana (termasuk musik dari Talkin’ Loud, perusahaan rekaman yang dirintis oleh Gilles Peterson pada 1990 setelah ia meninggalkan Acid Jazz Records).

Singkat cerita, band-band acid jazz, terutama tiga nama besar; The Brand New Heavies, Incognito, dan Jamiroquai masing-masing menelurkan rekaman, bermain-main dengan musik mereka, mencetak hits demi hits, bertambah besar, dan menjadi raksasa dunia. MTV dan radio-radio memancarkannya dengan rotasi tumpah ruah.

Album-album acid jazz pun beredar di Indonesia. Kita semua bisa memahami akibatnya: band-band cover version acid jazz bermunculan untuk menjajal panggung-panggung yang memungkinkan bagi mereka untuk tampil, walau hanya untuk dua-tiga lagu. Band-band acid jazz lokal terbentuk. Salah satunya, The Groove di Bandung pada 1997.  Formasi awal mereka adalah Rieka Roeslan (vokal) Reza (vokal), Ari (gitar), Yuke (bas), Tanto (keyboard, synth), Ali (piano), Rejoz (perkusi), dan Deta (drum).

The Groove circa 90an: (searah jarum jam) Ali Akbar (kibor), Yuke (bass), Reza (vokal), Tanto (kibor), Rieka (vokal), Deta (drum), Ari (gitar), Rejoz (perkusi) / Foto: istimewa

Bahkan di “planet” yang berbeda, scene indie rock juga mengambil porsi yang sesuai dengan mereka. Misalnya, Pestolaer sempat turut membawakan lagu band acid jazz Corduroy di panggung mereka.

Di penghujung 1990an hingga awal 2000an, hampir tak pernah absen acid jazz terdengar di tempat-tempat anak muda berkumpul, terutama kota besar. Acid jazz berbunyi dari kampus sampai kafe, juga meramaikan festival jazz. Di kamar-kamar, koleksi kaset anak muda mulai berbagi dengan rekaman-rekaman acid jazz. Datanglah ke pensi apa pun pada kurun waktu itu, bisa dibilang tak ada yang tanpa band memainkan acid jazz di sana! (lagu seperti “Still a Friend of Mine” dari Incognito bisa dimainkan oleh lebih dari satu band dalam satu acara)

Sementara itu, di masa 1990an, Sony Music membuka kantor di Indonesia dan kemudian mulai “mengeker” musik-musik yang kirannya cocok dengan karakter label yang condong pada selera anak muda urban terkini, di mana kemunculan band-band itu biasanya berawal dari bermain di kafe-kafe hip atau acara komunitas, lalu kemudian diundang bermain di pensi-pensi bergengsi (angkatan awal rilisan Sony Music Indonesia antara lain /rif  dengan debut albumnya, “Radja” pada 1997). Bisa dibayangkan berbondong-bondong “anak band” generasi 1990an dari berbagai kota mengirim demo tape mereka. The Groove pun tembus merilis debut albumnya, Kuingin pada 1999 via Sony Music Entertainment Indonesia.

Sampul Album “Kuingin”

Setelah mencuri perhatian lewat panggung-panggung mereka di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta, The Groove segera diperkenalkan secara Nasional melalui kemunculan single-single mereka, “Dahulu” dan “Satu Mimpiku”.

Suara The Groove begitu khas, mulai dari vokal cowok-cewek Rieka dan Reza yang soulful, hujan efek “Wah” dari gitar bersama “pulen”-nya permainan bas yang menjadikannya sangat funk, sound organ dan brass yang festive atau bunyi synth yang terasa atmosfersik atau menjadi “klasik” seperti disko 1970an, sampai bahkan string yang menyentuh, hingga pukulan drum ditingkahi ritmik perkusi yang menyulut hasrat bergelora.

Aksi panggung dan fashion mereka juga total. Energik. Muda. Disorot lampu-lampu panggung, masing-masing personil The Groove menyita mata tertuju, di mana vokalis Reza sering kali mengingatkan pada sosok Jay Kay dari Jamiroquai dan Rejoz yang bergaya sporty dan bersemangat tingggi dikelililingi congas, bongo, hingga wind chimes, menjadi nama pemain perkusi yang paling terkenal saat itu. Sementara sosok Rieka bak soul ambassador menuju 2000.

Di kemudian hari, Rieka Roeslan merilis beberapa album solo. Sedangkan bassit Yuke tak lagi bersama The Groove, bergabung bersama Dewa 19.

Di sisi studio, penulisan lagu-lagu debut album The Groove pun sangat apik, dengan hasil rekaman yang “keluar” sekaligus empuk di telinga. Seluruh lagu di album Kuingin berkekuatan nyaris merata! Funk dan disko, kadang ada sentuhan hip hop, hingga pop mereka terdengar begitu menawan. Dari breakbeat namun lirih di lagu “Ku ingin” sampai buaian lembut “Kuasa Cinta” dan “Segenap Cintamu”, tak ada menu yang timpang porsi jiwa dan kerennya.

Dua puluh tahun kemudian, dua sosok bayangan dengan ajakan tangan untuk ikut berdansa bersama tulisan Groove berwarna oranye yang meletot pada sampul kaset (warna yang juga sedang menjadi tren pada desain grafis masa itu), masih menggoda kita untuk memutarnya isinya.

The Groove circa 2013. Ketika reunian dengan bassis Yuke di Java Jazz 2013 / foto: istimewa

Sampai hari ini, bila kita mulai berbicara tentang acid jazz dan menghubungkannya pada aksi lokal, The Groove bisa jadi nama pertama. Atau lebih luas lagi: untuk menyebutkan musik popular yang pernah menjadi fenomena anak muda pada dua dekade lalu di Indonesia, album Kuingin selalu relevan untuk ditempatkan. Dia bergoyang seolah perut kita masih seramping dahulu.

The Groove – Kuingin

 

____

Penulis
Harlan Boer
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)

Eksplor konten lain Pophariini

Gavendri – Should I | GOODLIVE Sessions

Di akhir bulan Agustus lalu, Gavendri kembali melepas satu lagi nomor yang membawa warna terbaru dari perjalanan bermusiknya, peralihan dari pop ke R&B.

Tiga Nama di Edisi Kedua Album Kompilasi Sun Eater

Setelah melepas edisi perdananya di bulan Agustus lalu, kali ini Sun Eater kembali melepas edisi keduanya dari album kompilasi ini.