320

20 Tahun Album The Groove “Kuingin” Bergoyang

The Groove
The Groove / Ilustrasi: @abkadakab

Dahulu… semua indah
Dahulu… kumenjadi bunga cintamu

Dahulu, dua puluh tahun lalu, The Groove menggoyang Indonesia dengan rekaman acid jazz-nya. Kita lihat masa-masa itu, hidupi dan putar kembali musiknya!

Mereka yang haus untuk menemukan musik baru (entah itu beneran baru atau jarang tersentuh), turut membentuk masa depan. Dahulu, radio dan DJ adalah oknum-oknum yang paling sering menjadi biang keladinya; menyebarkannya virus musik dengan bersenang-senang, tanpa terlalu sadar bahwa virus itu dapat berevolusi dan sampai ke tempat-tempat yang terjauh.

Mulai dari semangat Rare Groove yang menggali rekaman funk/soul/disco 1970an yang terpendam, beririsan dengan dimulainya perayaan house music pada klab-klab di Amerika Serikat pada 1980an, hingga konon terminologi tercipta sejak ocehan seorang DJ bernama Chris Bangs untuk membedakan musik yang diputarnya dengan acid house yang sedang merajalela: “This is acid jazz!” Segalanya menjadi lebih tebal sejak Gilles Peterson dan Eddie Piller, keduanya DJ dan penyiar radio, mendirikan perusahaan rekaman Acid Jazz Records.

Baca juga:  Kompilasi Caleg Hits 2019!

Acid Jazz Records memulai rilisan pertamanya dengan single “Frederick Lies Still” dari Galliano pada 1987, hingga pada 1990an musik dari label yang mereka dirikan telah menjangkit ke mana-mana (termasuk musik dari Talkin’ Loud, perusahaan rekaman yang dirintis oleh Gilles Peterson pada 1990 setelah ia meninggalkan Acid Jazz Records).

Singkat cerita, band-band acid jazz, terutama tiga nama besar; The Brand New Heavies, Incognito, dan Jamiroquai masing-masing menelurkan rekaman, bermain-main dengan musik mereka, mencetak hits demi hits, bertambah besar, dan menjadi raksasa dunia. MTV dan radio-radio memancarkannya dengan rotasi tumpah ruah.

Album-album acid jazz pun beredar di Indonesia. Kita semua bisa memahami akibatnya: band-band cover version acid jazz bermunculan untuk menjajal panggung-panggung yang memungkinkan bagi mereka untuk tampil, walau hanya untuk dua-tiga lagu. Band-band acid jazz lokal terbentuk. Salah satunya, The Groove di Bandung pada 1997.  Formasi awal mereka adalah Rieka Roeslan (vokal) Reza (vokal), Ari (gitar), Yuke (bas), Tanto (keyboard, synth), Ali (piano), Rejoz (perkusi), dan Deta (drum).

Baca juga:  Siasat Kawan dan Arus Penolakan RUU Permusikan
The Groove circa 90an: (searah jarum jam) Ali Akbar (kibor), Yuke (bass), Reza (vokal), Tanto (kibor), Rieka (vokal), Deta (drum), Ari (gitar), Rejoz (perkusi) / Foto: istimewa

Bahkan di “planet” yang berbeda, scene indie rock juga mengambil porsi yang sesuai dengan mereka. Misalnya, Pestolaer sempat turut membawakan lagu band acid jazz Corduroy di panggung mereka.

Di penghujung 1990an hingga awal 2000an, hampir tak pernah absen acid jazz terdengar di tempat-tempat anak muda berkumpul, terutama kota besar. Acid jazz berbunyi dari kampus sampai kafe, juga meramaikan festival jazz. Di kamar-kamar, koleksi kaset anak muda mulai berbagi dengan rekaman-rekaman acid jazz. Datanglah ke pensi apa pun pada kurun waktu itu, bisa dibilang tak ada yang tanpa band memainkan acid jazz di sana! (lagu seperti “Still a Friend of Mine” dari Incognito bisa dimainkan oleh lebih dari satu band dalam satu acara)

Baca juga:  Jejak Rock ‘n Roll Indonesia Dalam 2 Dekade Terakhir

Sementara itu, di masa 1990an, Sony Music membuka kantor di Indonesia dan kemudian mulai “mengeker” musik-musik yang kirannya cocok dengan karakter label yang condong pada selera anak muda urban terkini, di mana kemunculan band-band itu biasanya berawal dari bermain di kafe-kafe hip atau acara komunitas, lalu kemudian diundang bermain di pensi-pensi bergengsi (angkatan awal rilisan Sony Music Indonesia antara lain /rif  dengan debut albumnya, “Radja” pada 1997). Bisa dibayangkan berbondong-bondong “anak band” generasi 1990an dari berbagai kota mengirim demo tape mereka. The Groove pun tembus merilis debut albumnya, Kuingin pada 1999 via Sony Music Entertainment Indonesia.