25 Tahun Album “KLakustik” KLa Project: Lebih dari Sekadar Klasik

3338
25 Tahun Album

Album rekaman langsung (live album) selalu menawarkan sensasi berbeda ketimbang album rekaman studio: improvisasi, spontanitas, hingga interaksi dari semua elemen-elemen pertunjukan. Tentunya hal ini hanya bisa didapatkan lewat teknis produksi yang mumpuni  Bisa dikatakan, live album merupakan salah satu ujian selanjutnya buat musisi selain konser. Kematangan skill dari musisi untuk menampilkan performa tanpa cela betul-betul diuji untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tukang pulas dan tukang dempul di dalam studio rekaman.

Mungkin hal ini yang membuat produksi juga rilisan live album di Indonesia tidak terlalu populer. Terutama saat teknologi rekaman masih menggunakan metode analog yang tidak memberikan toleransi buat kesalahan. Bisa dikatakan, hanya musisi yang benar-benar siap tempur yang mau dan akhirnya mampu produksi live album yang bisa dipertanggungjawabkan kualitas produksinya.

KLa Project termasuk dari populasi yang sedikit itu. Katon Bagaskara, Lilo Radjadin, dan Adi Adrian termasuk yang cukup produktif memproduksi live album. Dari diskografi yang tersedia di layanan musik streaming, grup musik yang terbentuk di Tebet, Jakarta Selatan 33 tahun silam ini setidaknya memiliki empat live album. Dari yang terbaru, Karunia Semesta, lalu Passion, Love, and Culture; Grand KLakustik; hingga yang pertama: KLakustik yang dirilis tahun 1996.

CD Album KLa Project “KLakustik”

Di versi video, konser tertanggal 11 Maret 1996 ini dibuka dengan sayatan lirih violin Henri Lamiri memainkan intro “Terpuruk Ku Disini”, menggantikan solo muted horn David Rockefeller yang ada di versi album Ungu (1994). Lalu Katon dan Lilo yang membelakangi panggung perlahan berbalik ke penonton ketika tirai panggung pelan-pelan terbuka diiringi betotan bass Danny Supit, ketukan drum Budhy Haryono, serta permainan perkusi Adjie Rao yang mampu menghadirkan suasana melankolis namun megah, seperti gambaran lokasi acara di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

 

Gedung pertunjukan peninggalan masa penjajahan Belanda ini memang sejak awal didesain sebagai tempat pertunjukan seni sejak diresmikan pada tahun 1821. Tidak heran jika gedung yang juga disebut Theater Schouwburg Weltevreden ini punya kualitas akustik yang terjaga baik. Pemilihan venue ini merupakan salah satu alasan mengapa KLakustik baik sebagai live album maupun sebagai produksi konsep punya nilai lebih dibandingkan konser-konser KLa Project lainnya yang secara kuantitas lebih besar.

Jika dibanding, katakanlah, Grand KLakustik tahun 2013 di Jakarta Convention Center (JCC) yang memboyong 40 pemain orkestra dan bertaburan bintang tamu, maka KLakustik kalah secara kuantitas. Namun GKJ dengan kapasitas ruangan yang lebih kecil ketimbang (JCC) berhasil menghadirkan vibe yang intim dan hangat dan akhirnya membuat kita tidak bisa pindah ke lain hati dari KLakustik.

Lilo dalam wawancara dengan Media Indonesia mengungkapkan KLakustik adalah sebuah semangat KLa Project untuk menyambut “gelombang kedua” dalam proses kreatif KLa Project setelah merilis lima album studio sejak debut di tiga sekawan tersebut di tahun 1989.

 

Di ranah individu, sekitaran tahun 1996 menjadi tahun produktif bagi Katon dan Lilo. Keduanya tengah merilis album solo. Katon mengeluarkan Gemini, album solo keduanya, dengan hits single “Cinta Putih”, “Dengan Logika”, juga “Tidurlah Tidur”. Sementara Lilo meluncurkan “Solo”. Dengan menggamit nama-nama seperti Andy Julias (Makara), Pay Siburian (saat itu masih tercatat di Slank, BIP), juga Thomas Ramdhan (GIGI), album solo satu-satunya Lilo ini memajang “Sandra” sebagai materi jagoan. Sedangkan Adi bersama musisi Adjie Soetama tengah membidani album sejumlah penyanyi seperti Memes, Titi DJ, juga Andre Hehanusa.

Album Katon Bagaskara – “Gemini” / Foto: http://pitakasetabi.blogspot.com
Album Solo Lilo / Foto: https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/koleksi/kaset/2l2xrka-jual-kaset-lilo-solo

Meski demikan, tidak dipungkiri juga jika KLakustik sedikit banyak berhutang pada MTV Unplugged. Program show akustik MTV ini merupakan salah satu penanda penting dekade 90-an dengan album-album monumental seperti Eric Clapton’s Unplugged atau Nirvana di album MTV Unplugged in New York. Di Indonesia, konsep ini diadopsi oleh stasiun televisi ANTV lewat program Akustik Plus dengan GIGI, Dewa 19, Modulus, Sket, sampai Pure Saturday pernah tercatat sebagai pengisi acara. KLakustik sendiri  merupakan salah satu showcase dari Akustik Plus sehingga album ini juga punya rilisan versi VCD-nya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments