5 Band Indonesia Favorit Enrico Octaviano

Jun 19, 2021

Drummer Lomba Sihir, Enrico Octaviano merasa bahwa musik adalah jalan hidupnya sejak ia masih remaja sampai rajin mengikuti perlombaan band. Maka tak heran ia berhasil lulus tahun 2016 dari perkuliahan di bidang musik.

Tak soal musik melulu, sebelum masa pandemi datang Enrico juga menjalani hobi bermain basket yang rutin ia lakukan setiap hari Senin. Kegiatan di luar musik pun diisi bermain PlayStation bareng teman-temannya.

“Kalau lagi ada waktu kosong sebisa mungkin pastinya ngumpul ketemu keluarga. Terus pacaran lah,” kata Enrico.

Selama beberapa tahun ini, Enrico tak hanya punya satu proyek bermusik saja. Ada Hindia, MARTIALS/, dan Lomba Sihir. Belum lagi hal-hal bermusik lainnya. Namun, ia tak merasa harus memilih satu di antara itu semua. 

 

Enrico mengatakan, “Semuanya gue fokusin sih. Semuanya harus pada porsinya masing-masing. Dan buat gue semuanya sudah melibatkan orang lain dan untuk orang lain juga selain diri gue sendiri. Jadi semuanya harus fokus tapi pada porsinya masing-masing.”

Berbicara mengenai musik Indonesia, Enrico berpendapat seharusnya perihal produksi bisa lebih diperhatikan lagi dari mulai sistem pembagian royalti, produksi rekaman, produksi panggung, tim produksi band, manajemen waktu sebuah acara, hingga endorsement alat musik, dan masih banyak lagi.

“Ya, apapun itu yang berhubungan dengan sesuatu di balik layar dan tentang produksi di musik itu menurut gue Indonesia masih ketinggalan banyak banget sih. Mungkin gue pribadi bisa bilang ketinggalannya masih 10 tahun di belakang misal Korea atau Amerika gitu kali ya. Misal saja ya itu. Tapi intinya kita masih perlu fokus terhadap hal-hal itu sih,” tutup Enrico. 

Dan inilah lima band Indonesia pilihan Enrico Octaviano beserta penjelasannya:


1. Kelompok Penerbang Roket

 

Pastinya karena lagu-lagunya memang gue suka dan selalu to the point karya-karya mereka.

 

2. Barasuara

 

Bukan karena mereka deket sama gue, tapi pas album satu Barasuara jadi dan dikasih denger sama Marco, gue habis dengar sampai nangis (pada saat itu gue masih kuliah di LA). Gue nangis karena gue bangga kakak gue punya album kayak gitu bagusnya, dan memang jadi album pertama yang gue beneran suka.

 

3. MALIQ & D’Essentials

 

Selain lagu-lagunya yang memang sudah mau nggak mau nempel di kepala gue semenjak SMP – SMA karena mereka selalu ada di pensi mana pun, gue melihat mereka tiap personel kerja di bidang musik yang beda-beda. Tapi mereka satu band. Ada yang jadi producer, engineer, pembuat lagu, dan lain-lain. Terus mereka punya Organic Records pula. Gokil sih untuk bisa kayak gitu, nggak mudah pastinya.

 

4. The SIGIT 

 

Album satu The SIGIT sudah jadi favorit gue dari jaman gue SMP kelas satu. Lomba band selalu bawain “Clove Doper”, “Soul Sister”, atau “Black Amplifier”. Sampai sekarang pun karya paling barunya “Another Day” juga buagus banget. Nada-nada gitar dan vokal Kang Rekti juga busyet sih memang bagusnya. Plus kalo lagi main satu acara pasti gue kalo waktunya memungkinkan pasti usahain nonton.

 

5. Seringai

 

Band paket lengkap. Musik mentok bagusnya, Kalau live nggak pernah nggak bagus dan selalu ketawa seneng sendiri kalau dengar dari FOH pas baru genjrengan pertama Mas Ricky pas ” jeng jet”  pertama ngecek-ngecek, sudah kayak diseruduk banteng rasanya. Terus kalau live Arian nggak pernah nggak blangsak mulutnya dan selalu masuk selera humor di panggungnya sama uue sebagai penonton [tertawa]. Di luar itu, tiap personilnya punya kehidupan bisnis yang naujubile besar-besar dan sukses-suksesnya.


Foto Enrico Octaviano oleh Davian Akbar.

Penulis
Pohan
Suka kamu, ngopi, motret, ngetik, dan hari semakin tua bagi jiwa yang sepi.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Dead Bachelors ‘Reuni’ di Single Terbarunya

Yang satu ini, bisa dibilang sebagai sebuah kejutan yang menyenangkan bagi duo Narendra Pawaka dan Mario Pratama yang tergabung dalam unit Dead Bachelors.

20 Tahun Album Padi, “Sesuatu Yang Tertunda”

Di umurnya yang sudah dua dekade, Sesuatu Yang Tertunda milik Padi masih tetap menjadi sesuatu yang indah.