1095

5 Lagu Pop Indonesia Pilihan Jimi Multhazam

Photo: Rio Annas Dinata

Dulu menamai dirinya dengan Jimi Danger dan berpakaian mencolok dengan atribut jambulnya. Jimi adalah musisi dan seniman yang sangat produktif berkarya. Menjadi salah satu pendiri dan vokalis band new wave The Upstairs yang terbentuk pada 2001 dan telah merilis 4 album penuh Matraman (2004), Energy (2006), Magnet! Magnet! (2009), dan Katalika (2012) serta 4 mini album Antah Berantah (2002), Kunobatkan Jadi Fantasi (2008), Menaralara(2010), dan Kubilism: Relax (2013). Ia juga membentuk Morfem yang telah merilis 3 album yaitu Indonesia (2011), Hey Makan Tuh Gitar! (2012) dan Dramaturgi Underground (2016) dan mini album Sneakerfuzz (2014). Saat ini Jimi tengah menyelesaikan album split The Upstairs dengan Goodnight Electric, menjabat art director untuk festival musik Synchronize Fest, mengelola acara indie rock rutin Thursday Noise dan melukis. Simak penuturannya pada Pop Hari Ini tentang 5 lagu lokal yang mempengaruhinya.

Ebiet G Ade – Dia Lelaki Ilham dari Surga 

Sewaktu kanak-kanak gue merasa lagu ini sangat absurd.

“dia berjalan dengan kakinya, dia berjalan dengan tangannya, dia berjalan dengan kepalanya, tetapi ternyata ia lebih banyak berjalan dengan pikirannya”

Ketika Remaja seorang kawan bercerita kalo lagu ini tentang Nabi Harun AS,

Baca juga:  Rumahsakit Album Nol Derajat: Manuver Suhu Tahun 2000

“batu-batu seperti menyingkir, sebelum ia datang, sebelum ia lewat semak-semak seperti menguak, sebelum dia injak, sebelum dia menyeberang ia berjalan dengan matanya, ia berjalan dengan perutnya, ia berjalan dengan punggungnya, tetapi ternyata ia lebih banyak berjalan dengan fikirannya”

Ketika dewasa akhirnya gue sempat bertemu langsung dengan Ebiet G Ade, lalu gue bertanya perihal kebenaran cerita kawan gue. Beliau hanya tersenyum penuh arti.

“dia jelajahi jagat raya ini, dengan telanjang kaki dan tubuh penuh daki. meskipun ia lebih lapar dari siapapun, meskipun ia lebih sakit dari siapapun, ia menempuh lebih jauh dari siapapun, meskipun ia lebih miskin dari siapapun, meskipun ia lebih nista dari siapapun, tetapi ternyata ia lebih tegak perkasa dari siapapun”

Baiklah sepertinya beliau tetap membiarkan gue untuk menerka-nerka lagu ini

“gadis-gadis selalu menyapa karena dia tampan meskipun penuh luka.
kata-katanya tak bisa dimengerti tetapi selalu saja akhirnya terbukti
ia lelaki gagah perkasa, ia lelaki ilham dari sorga, ia lelaki yang selalu berkata, bahwa kita pasti akan kembali lagi kepadanya.”

Hingga anak gue sudah berumur 5 tahun. Lagu ini selalu memantik haru gue di bait terakhirnya. Dan akan terus menjadi seperti itu

Baca juga:  JKT: SKRG, 15 Tahun Debut Rilisan Aksara Records

Iwan Fals – Jendela Kelas Satu

Lagu cinta harus punya empati kepada pendengarnya. Itulah yang terjadi pada lagu ini dan gue.

“Duduk di pojok bangku deretan belakang. Di dalam kelas penuh dengan obrolan. Selalu mengacau laju hayalan. Dari jendela kelas yang tak ada kacanya. Dari sana pula aku mulai mengenal. Seraut wajah berisi lamunan. Bibir merekah dan merah selalu basah. Langkahmu tenang kala engkau berjalan. Tinggi semampai gadis idaman.” 

Bait-bait ini secara harafiah benar-benar terjadi di masa pubertas gue. Soundtrack cinta pertama ☺

Netral – Sampah

Miten adalah gitaris rock nomer satu buat gue. Buktinya adalah lagu ini. Bagus adalah penulis lirik brilian. Bersuara parau, tinggi besar dan plontos. Bimo adalah drummer yang asik. Lengkap sudah jadi idola.

“Dulu pun telah kucoba lalui padang ini. Sangkur di tanganku. Ku datang menang dan mati. Kini ku telah mampus tiada bunga di sisi. Hanya Dewa mimpi. Sahabat teman sejati. Ular kanan kiri, sebar bisa di nadi. Mereka kawan sehati, bukan teman sejati”

Huh jadi ingat tahun ‘98. Kelam. Ketika mati itu jadi hal yang biasa.

Baca juga:  Kampungan Versus Gedongan: Bagaimana Selera Musik Kelas Menengah di Indonesia Terbentuk?

Dodo Zakaria – Caplang (vokal: Nicky Asteria)

 

Bayangkan ketika kelas 5 SD gue mendengarkan lagu ini:

“Kuping caplang congean. Jago pasar dari seberang. Pala botak penuh pitak. Tidak suka sama perempuan. iiih. Kuping caplang congean. Punya hobi bunuh orang. Bulan lalu kau tertangkap. Hari ini kau menghadap hakim. Yang sedang membaca hukuman. Kau dihukum mati. Memang engkau pantas mati. Dan sebelum mati. Coba kau renungkan. Semua kesalahan. Hidupmu semarak dengan dosa. Tapi kau tidak perduli. Kini peluru dilepaskan. Kau malah tertawa”

Seketika hidup gue berubah ☺

 

Guruh Soekarno Putra – Kecewa  (vokal: Euis Darliah)

Mungkin ini adalah lagu dengan spirit punk rock pertama dalam hidup gue. Lagu bernuansa kabaret ini penuh dengan makian.

“Busuk Lo! Bego. Gila! Sialan. Membleh. Oi!”