5 Pertanyaan Perunggu: Menghidupi Mimpi dan Kiat Menghadapi Senin

Jan 8, 2023

Bicara mengenai perjalanan musik Indonesia di tahun 2022, tentu nama Perunggu tidak mungkin dilewatkan begitu saja. Trio rock beranggotakan Maulana Ibrahim (vokal, gitar), Adam Adenan (vokal, bas) dan Ildo Hasman (drum) ini menjadi nama yang hangat dibicarakan di sepanjang tahun.

Di bulan Maret, Perunggu resmi merilis album penuh debutnya, Memorandum yang berisikan sebelas nomor. Sejak momen tersebut, tidak butuh waktu lama bagi Perunggu untuk menjadi nama yang kehadirannya selalu ditunggu di atas panggung. Dari album tersebut, akhirnya beberapa nomor menjadi hit, sebut saja “ Pastikan Riuh Akhiri Malammu”, “33x”, hingga “Kalibata, 2012”.

Festival-festival besar mereka jajal di tahun yang sama, mulai dari penampilan perdana di Synchronize Fest, Joyland Fest, hingga Rock In Celebes dan panggung-panggung skala lainnya. Mereka juga sempat menggelar Memorandum Showcase di tiga kota, melewati Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta dalam rangka merayakan kehadiran sang album debut.

Masih dalam rangka Kaleidospop 2022, Pophariini berkesempatan untuk berbincang dengan Perunggu. Mulai dari cerita menghidupi mimpi, panggung paling emosional, hingga kiat mereka untuk menghadapi hari Senin.

Selengkapnya di bawah ini.


1. Perunggu menutup tahun 2022 dengan impresif. Memorandum, album debut kalian masuk ke daftar album terbaik 2022 versi berbagai media, juga antusias penonton di tiap panggung kalian. Seperti menghidupi mimpi yang sudah dipupuk sejak usia muda. Pertanyaannya, di momen apakah yang menyadarkan kalau mimpi kalian sudah menjadi nyata?

Maul: Kalau gue pribadi sih ya, momen 11 Maret itu pas si album resmi rilis. Mimpi gue yang paling gede dari awal tuh kan memang pengen ngeband, main musik, nulis lagu, dan rilis album penuh. Selebihnya, apapun kejadian yang bisa disyukurin bareng selama 2022 tuh jatuhnya jadi semacam bonus. Walaupun memang si bonusnya itu luar biasa gede, dan itu bikin kami makin bersyukur banget. Tapi memang ketagihan saja buat dapat bonus bentuk lainnya [tertawa].

Adam: Mimpi gue juga dari dulu pure pengen ngeband, main musik, manggung, dan juga bikin lagu sendiri sudah cukup. Jadi pas dulu kami bikin EP 3 lagu itu sudah cukup menyadarkan bahwa mimpi jadi nyata, dan setelahnya memang diperkuat pada saat full album ini lahir di 2022, benar-benar terharu sama diri sendiri bisa sampai ke titik tersebut.

Ildo: Momen di panggung ketika main musik sama Maul, Adam, Dennis, Bima, bisa seru-seuran bareng mereka dan juga penonton.

 

2. Jakarta dan Bandung tampak menjadi latar belakang bagi lagu-lagu Perunggu. Seberapa besar pengaruh dari kedua kota tersebut di dalam proses kreatif kalian?

Maul: Gue dan Adam lahir dan tumbuh besar sampai kuliah S1 di Bandung. Ildo lahir di Bandung. Kami bertiga membina keluarga masing-masing dan ketemuan buat main band di Jakarta. Jadi ya dua kota itu memang membentuk kami sebagai manusia saja pada dasarnya. Termasuk urusan silaturahmi. Banyak banget teman-teman lama kami, baik di Bandung maupun Jakarta yang bantuin jalannya Perunggu dari awal sampai sekarang. Kalau buat gue spesifik urusan penulisan lirik, gue selalu jaga koridor perihal apa yang gue tulis tuh harus apa yang gue betul-betul pahami. Dan gue merasa ya gue sudah cukup paham dan kenal dengan Jakarta dan Bandung. Walaupun kalau nyupir sendiri masih suka nyasar deng [tertawa].

Adam: Untuk Bandung, bisa dibilang sangat berpengaruh. Karena gue menghabiskan ⅔ hidup gue di Bandung yang di mana dari gue belajar alat musik pertama sampai gue punya band sendiri dan hampir setiap minggu ketemu teman-teman dengan interest yang sama sambil nonton gigs adalah pembelajaran tanpa henti terhadap musik dan kreativitas itu sendiri. Banyak banget yang diserap deh intinya. Sampai akhirnya pindah ke Jakarta untuk kerja pun di dalam hati gue tetap gue tanamin untuk selalu main musik, jadinya alam bawah sadar gue selalu balik lagi ke sana dan sampai akhirnya ketemu Maul dan Ildo tuh momen di mana gue merasa “oke, ini saatnya!’.

Ildo: Karena kami bertiga menetap di Jakarta, cerita yang dituang ke dalam lagu sedikit banyak diambil dari apa yang kami alami sehari-hari di Jakarta. Bandung walaupun jarang-jarang ke sana, tapi selalu punya tempat spesial di hati.

 

3. Penggalan lirik ‘Besok hari Senin…’ dari lagu “Pastikan Riuh Akhiri Malammu” bisa dibilang menjadi salah satu penggalan paling populer dari lagu-lagu Perunggu. Bagi kalian sendiri, apa kiat untuk menghadapi hari Senin?

Maul: Selalu siap buat jalan terus saja. Tau dan sadar apa yang lagi dijalanin tuh enaknya ya dinikmatin. Oh iya, sama gue kalau misal lagi kusut mau ketemu Senin, gue suka mikir, “anjir, gue di 5-10 tahun lalu tuh pengen banget ada di kondisi gue yang kayak sekarang”. Biar ada motivasi tambahan saja gitu dengan nambahin rasa bersyukur [tertawa].

Adam: [tertawa] enggak ada kiat-kiatnya mah tergantung pribadi masing-masing. Kalau memang berasa Seninnya akan terasa rumit, coba dibikin list apa saja yang kira-kira bisa menyelesaikan kerumitan itu dan coba selesaikan satu-satu. Intinya kudu percaya apapun itu pasti ada jalan keluarnya.

Ildo: Percaya willpower itu tanpa batas. Yang penting yakin yang kita lakukan bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain, enggak peduli hari apa.

 

4. Keterlibatan Dennis Ferdinand dan Bima Errawan sebagai daya peledak tambahan di panggung kalian makin hari makin tampak bersinergi. Bagaimana cerita hingga kalian memutuskan untuk mengajak keduanya di tiap panggung?

Maul: Bima sudah nemenin kami dari 2020 sebenarnya. Pas era manggung lagu-lagu di EP Pendar. Alasannya karena memang butuh gitaris tambahan saja soalnya gue bego banget main gitarnya [tertawa]. Dulu dikenalin sama Deva, kebetulan mereka berdua sahabatan dari SMP. Ngobrolnya cocok, umur dan fase hidup lagi mirip, kasusnya jadi lebih kayak kami ketemu sahabat baru ketimbang ketemu personel baru. Bima juga tercatat sebagai penulis lagu di “Canggih!” gara-gara pas rekaman dia gatal bikin part sendiri. Eh malah jadi makin bagus. Ya sudah sampai sekarang juga kebawa tuh kebiasaan kalau live kami suka bebasin saja, misal Bima bikin part gitar yang beda dengan versi rekaman, biar lebih segar dan seru.

Kalau Dennis, dari sebelum kerja bareng (sebagai produser dan musisi) kami sudah tau kalau dia talentanya dahsyat. Waktu Memorandum sudah beres rekaman, kami kepikiran saja nambah satu gitaris lagi. Karena hampir semua lagu di Memorandum tuh part gitarnya minimal 3 jenis. Ya sudah enggak pikir panjang kami ajakin Dennis. Ngobrol nyambung, suara bagus, jelas khatam sama semua lagu-lagunya kami. Dan yang kami baru tau, Dennis punya sisi showmanship yang gila banget. Pas kebetulan juga waktu itu dia lagi kangen manggung setelah lumayan lama fokus jadi orang label dan produser. Masih ingat banget, Kamis malam kami ajakin, Senin besoknya tau-tau langsung beli pedal gitar dan ngulik. Enaknya ya selain nambah daya ledak, kami bertiga juga belajar banyak banget dari mereka berdua urusan banyak hal. Terutama urusan jaga mood dan tetap nyengir. Mereka berdua yang paling rajin ngingetin urusan ide awalnya kami main musik tuh selalu dilandasi sama upaya bersenang-senang.

Adam: Sudah disebutin semua [tertawa]. Ya intinya, versi live kami akan jauh lebih enak memang kalau nambah gitaris dan juga backing vokalis lain, dan kami ingin tanggung jawab atas apa yang telah kami buat di album Memorandum, dengan adanya Bima dan Dennis sekarang live performance kami lebih berwarna dan ya bisa dibilang jauh lebih bagus lah ya pada jago-jago amat mainnya [tertawa].

Ildo: Kenal sama Bima dari SMA, kebetulan satu sekolah, dia teman seangkatannya Deva. Yang ngajak untuk bantu Perunggu juga Deva. Memang jago banget main musik dari jaman sekolah. Cuma enggak pernah ngeband lagi semenjak lulus SMA. Agendanya Deva biar skillnya Bima enggak hilang sia-sia kayaknya, makanya diajak ke Perunggu [tertawa]. Dennis juga dikenalin sama Deva. Awalnya jadi co-producer album Memorandum. Setelah kenal lebih jauh ternyata ini orang banyak banget talentanya. Untungnya mau diajak manggung bareng. Ada Bima sama Dennis pengaruhnya besar banget, pastinya mereka berperan penting di Perunggu on-stage maupun off-stage.

 

5. Sepanjang tahun 2022, panggung di mana yang paling emosional bagi kalian?

Maul: Gue pribadi sih waktu Memorandum Showcase Jakarta. Terutama pas “Kalibata, 2012” dinyanyiin Mas Cholil. Itu gue rasanya kayak kesurupan saja di situ. Oh ya sama pas Synchronize Fest 2022 sih. Kalau itu lebih ke, “anjir ini orang sebanyak ini tau lagu band gue nih? Yang bener?” [tertawa]. Ditambah si Mas Rian mau bela-belain bantuin ikut nyanyi di lagu “Pastikan Riuh Akhiri Malammu”, padahal dia baru sampai dari Yogyakarta habis manggung sama D’MASIV.

Adam: Synchronize Festival 2022 sih jelas. Sebelum naik panggung kami semua sudah nangis bareng saking enggak nyangkanya bisa sampai ke titik ini. Dan ngeliat banyak banget orang nyanyiin lagu kami beyond sih, benar-benar enggak ada di bayangan gue pribadi.

Ildo: Showcase Jakarta sama Synchronize Fest. Showcase karena ditonton sekeluarga besar. Synchronize Fest karena yang nonton ramai banget. Belum pernah ditonton orang sebanyak itu seumur hidup.


 

Penulis
Raka Dewangkara
"Bergegas terburu dan tergesa, menjadi hafalan di luar kepala."

Eksplor konten lain Pophariini

Lalahuta Rilis Ulang Lagu Sheila On 7 Dan… untuk Proyek Album Mini Baru

Lalahuta tengah seru bernostalgia. Setelah membawakan ulang lagu Rio Febrian “Aku Bertahan”, kini mereka merilis ulang lagu Sheila On 7 “Dan…” hari Jumat (14/06).    Vokalis baru Lalahuta, Kevin Widaya mengiyakan band menghadirkan nuansa …

D’MASIV – 8

Dalam album 8, D’Masiv kembali ke warna yang sudah dikenal sebelumnya dan kali ini dengan pengaruh soft-rock dan pop-balada 80/90an yang jitu