6 Pertanyaan untuk 6 Kolektif DJ di Pulau Sumatra

Pophariini kembali melanjutkan pengumpulan kolektif DJ di berbagai pulau di Indonesia yang kali ini mencari tau kolektif-kolektif yang ada di pulau Sumatra.
Tidak hanya kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali, musik elektronik semakin berkembang di berbagai kota di Sumatra. Beberapa tahun terakhir, kolektif DJ bermunculan dan memiliki penting dalam membangun dan menjaga ekosistem musik elektronik di pulau tersebut.
Mereka bukan hanya menghadirkan pesta dan pertunjukan, tetapi menjadi wadah bagi para DJ lokal untuk berkembang dan memperkenalkan gaya musiknya ke khalayak yang lebih luas.
Kami sempat mewawancarai anggota kolektif DJ di Palembang, Junior Jamrud dan Farhan (sawibeatz) dari Southern Lover Sound Systems hari Rabu (12/02) via WhatsApp. Mereka memberikan pandangan terhadap pergerakan musik elektronik di Palembang.
“Segmentasi musik di Palembang punya corak dan cara pandang tersendiri. Buat musik elektronik, saya pribadi melihat memang fenomena musik klub masih ngasih dominasi yang besar untuk jadi wacana musik elektronik yang besar, apalagi dengan masifnya media sosial TikTok yang ngasih referensi musik happening hari ini,” kata Junior.
Farhan menambahkan, ia berharap agar skena musik di Palembang lebih kaya akan genre musik, “Nggak melulu javasentris dan luas eksplorasinya, lebih ke stop making cheesy group aja.”
Dalam artikel ini, kami mewawancarai perwakilan dari 6 kolektif DJ di Sumatera, mulai dari Lampung hingga Medan, yang menghadirkan warna baru di skena musik elektronik dan membawa semangat komunitas yang erat untuk setiap pergerakannya.
TILL 4AM (Lampung)
Penjawab: Sulthan
Siapa saja sosok di balik kolektif ini selain lo?
Tim Till 4AM buat sekarang ada empat orang termasuk saya, Bobby, Rosyid, dan Afif. Tapi selain kami berempat, sepanjang perjalanan juga banyak banget teman-teman yang support. Saking banyaknya, susah kalau harus nyebutin satu per satu.
Ceritakan awal kolektif ini terbentuk!
Awalnya Till 4AM kebentuk gara-gara kami sering clubbing, terus tiap pulang pasti udah jam 4 pagi. Makanya kepikiran kasih nama Till 4AM. Selain itu, kami juga ngeliat kalau di Lampung sendiri culture party itu sudah kental banget. Musik orgen remix Lampung misalnya, udah jadi bagian penting dari culture sini—tiap ada hajatan atau pernikahan, pasti ada organ-an yang jalan nonstop sampai pagi.
Jadi kepikiran aja, kenapa kami nggak bikin sesuatu buat kota tercinta ini dan untuk nyalain lagi spirit temen-temen scene di sini.
Apa visi dan misinya?
Karena kami bergerak dari kolektif, kami mulai dulu sebagai Party Entertainment Services. Tapi makin ke sini ternyata demand-nya oke, temen-temen juga pada enjoy sama kami.
Nah, makanya kepikiran buat eksplorasi lebih jauh lagi. Mungkin buat ke depannya kami try to explore more like record labels, media, talent management, and something like that. At the end of the day, we just want to be a platform for everyone, especially those who are into this scene biar bisa sama-sama nyalain api dan menjalankan gerakan ini bareng-bareng.
Semoga aja semuanya lancar—pelan-pelan masih terus belajar bareng temen-temen juga.
Bagaimana lo melihat pergerakan musik elektronik di Indonesia saat ini terutama di kota lo sendiri?
Pergerakan musik elektronik sekarang, terutama di Lampung, udah lumayan masif banget. Bisa keliatan dari makin banyaknya klub baru bermunculan. Tapi karena Lampung sendiri masih coba berkembang, tempat-tempat ini juga masih dalam proses mencari identitas dan marketnya masing-masing. Masih pada ngegambar lah, makanya kesannya masih kurang variatif.
Jadinya kadang kami masih kepatok sama klub. Kadang mau nggak mau kami harus ngikut banget sama gimana maunya klub. Padahal kalau digali, banyak banget temen-temen di sini yang punya idealisme beda-beda dan udah explore—nggak cuma main yang populer aja. Tapi ya, karena alasan tadi, yang mainin sesuatu di luar arus utama malah jadi susah dapet panggung.
Ujung-ujungnya, mereka cuma bisa main di gigs kecil atau kolektif karena beberapa klub punya rules sendiri.
Dan ya, pada akhirnya acara kolektif selalu jadi jawaban. Berdoa aja ke depannya scene di sini bisa lebih inklusif, dan temen-temen akhirnya punya tempat masing-masing buat berekspresi.
Menurut lo masih banyak gak yang tertarik untuk menjadi disjoki?
Menurut kami sih, buat sekarang everyone wanna be a DJ. Gak tau kenapa, mungkin karena kelihatan keren ya? Tapi gak apa-apa, selama tetep jadi diri sendiri. Itu tetep keren kok! Lagi pula, nggak menutup kemungkinan juga kalau ini terjadi karena industri sekarang udah lebih eksploratif.
Hal-hal yang dulu mungkin nggak kepikiran jadi cita-cita, sekarang malah jadi impian banyak orang. Jadi ya, keep fighting for what you believe.
Bagaimana menentukan genre yang sesuai dengan identitas kolektif saat memilih setlist atau produksi remix-an?
Buat pemilihan genre, kita nggak terpatok sama satu jenis musik aja. Selalu explore, whatever it is, yang penting kami trying to offer something different from the usual. Karena menurut kami, kalau ujung-ujungnya yang kami tawarkan cuma hal yang sama kayak acara rutinan di klub, terus apa bedanya kami sama klub?
Santiago Tunes (Lampung)
Penjawab: Michael August Wijaya
Siapa saja sosok di balik kolektif ini selain lo?
Untuk saat ini kami dari Santiago Tunes berempat, ada saya sendiri, Calvin, Gerry, dan Pongki.
Ceritakan awal kolektif ini terbentuk!
Awalnya kami dari nongkrong bareng di sebuah toko bernama Toidiholic Store. Di situ kami sering bikin aktivitas, baik aktivitas untuk toko tersebut, atau pun kami bikin dengan alasan hanya buat kemauan doang, dengan kebiasaan kami musikan dengan alat DDJ SB yang kami punya pada saat itu sambil bakar-bakar.
Mulailah kami kepikiran buat bikin acara yang agak lebih serius yaitu Santiago Tunes ini sendiri. Volume 1 dan 2 kami selenggarakan di taman sebelah dan di sekitar Toidiholic tempat kami biasa nongkrong. Saat volume ketiga, kami mulai bergerak ke Krui Pesisir Barat karena melihat potensi dan hasilnya baik. Lalu terus bergulir hingga saat ini.
Apa visi dan misinya?
Visi kami membuat gerakan-gerakan dengan gaya party, musik, dekorasi, yang kami suka, dan mengumpulkan teman-teman dari dalam dan luar kota untuk kolaborasi bersama di Santiago Tunes.
Misi kami memberikan kesan party dengan musik yang masih cukup terbilang minor dan tidak begitu bising untuk dinikmati di saat yang tepat bersama seluruh teman-teman.
Bagaimana lo melihat pergerakan musik elektronik di Indonesia saat ini terutama di kota anda sendiri?
Sedang cukup ramai, mulai dari band yang di balut dengan electronic musik, hingga disjoki selektor musik yang makin variatif dari berbagai genre dan penikmatnya.
Menurut lo masih banyak gak yang tertarik untuk menjadi disjoki?
Tentu, tapi lebih banyak yang ingin produksi musik mungkin ya.
Bagaimana menentukan genre yang sesuai dengan identitas kolektif saat memilih setlist atau produksi remix-an?
Yang pasti kami melihat dulu warna musik dari masing-masing DJ. Kemudian baru kami gabungkan dengan identitas Santiago Tunes sendiri yang memiliki nuansa pesisir dan hutan.
Southern Lover Sound Systems (Palembang)
Penjawab: Gatta Putra
Siapa saja sosok di balik kolektif ini selain lo?
Selain saya di Soloverss, ada Junior Zamrud (struktural), Farhan (sawibeatz), Heru Wijaya Pratama (HERV), Farel, dan Fauzan Syarif.
Ceritakan awal kolektif ini terbentuk!
Awal 2020, kami memulai semuanya, dari latar belakang hobi dan ketertarikan yang sama, yaitu musik elektronik .
Dengan latar belakang yang sama, akhirnya kami memutuskan untuk membuat suatu kolektif musik elektronik. Mencoba menjadi media pembeda baru dari kebanyakan musik elektronik yang dinikmati di klub-klub yang ada. Kami juga mencoba melawan arus dari kesamaan dan ramainya musik yang biasa dimainkan di klub-klub mainstream yang ada.
Hingga tahun ini kami juga masih sering membuat beberapa acara.
Apa visi dan misinya?
Visinya menjadi kolektif musik yang bisa membawakan pilihan musik berbeda dari biasanya, berbeda dari kebanyakan yang dimainkan dan memperkuat komunitas atau kolektif musik yang ada, baik di dalam kota atau luar kota.
Misi kami mendukung komunitas, kreativitas, menginspirasi generasi baru, dan bisa menjadi wadah ekspresi bagi orang yang mencintai musik elektronik tentunya.
Bagaimana lo melihat pergerakan musik elektronik di Indonesia saat ini terutama di kota lo sendiri ?
Menurut kami, untuk pergerakan perkembangan musik elektronik sejauh ini sangat berkembang pesat. Mungkin karena era digital, menjangkau sesuatu jadi lebih mudah. Berbagi referensi juga jadi lebih cepat. Di kota kami pun semua terasa lebih cepat, dan itu baik menurut kami.
Menurut lo masih banyak gak yang tertarik untuk menjadi disjoki?
Masih banyak banget karena di kota kami saja banyak bermunculan disjoki baru. Begitu pun dengan kami yang terus regenerasi disjoki baru untuk keberlangsungan kolektif kami.
Bagaimana menentukan genre yang sesuai dengan identitas kolektif saat memilih setlist atau produksi remix-an?
Sejauh ini kami memainkan apa yang kami suka dan masing-masing dari kami pun memiliki identitas atau genre musik yang berbeda. Sepertinya teman-teman yang datang ke beberapa event kami pun sudah mengerti karena kami hanya memainkan UK garage, funk, amapiano, techno, drill, baile, hip hop dan turunannya. Jadi sepertinya kami hanya berpatokan dari beberapa genre yang kami sebut barusan saja.
INFO PARTY PALEMBANG (Palembang)
Penjawab: Jungsky
Siapa saja sosok di balik kolektif selain lo?
Selain saya, ada beberapa teman yang ikut berkontribusi, baik sebagai DJ, MC, Media Designer, Visual Artist, Event Organizer, maupun tim kreatif yang membantu mengembangkan konsep dan eksekusi event. Kami bekerja sama untuk menciptakan pengalaman yang unik dalam skena musik elektronik di Palembang.
Ceritakan awal kolektif ini terbentuk!
Info Party Palembang lahir dari kebutuhan akan wadah yang bisa menghubungkan para pecinta musik elektronik di kota ini. Awalnya, kami hanya berbagi informasi event dan musik secara informal, lalu berkembang menjadi kolektif yang aktif mengadakan acara, mendukung DJ lokal, dan memperkenalkan berbagai sub genre musik elektronik ke publik.
Apa visi dan misinya?
Visi kami adalah membangun komunitas musik elektronik yang lebih kuat di Palembang dan sekitarnya. Misinya adalah memberikan platform bagi DJ dan produser lokal untuk berkembang, memperkenalkan berbagai genre elektronik ke lebih banyak orang, serta menciptakan ruang yang inklusif bagi siapa saja yang ingin menikmati musik dan budaya ini.
Bagaimana lo melihat pergerakan musik elektronik di Indonesia saat ini, terutama di kota lo sendiri?
Secara nasional, musik elektronik semakin berkembang dengan banyaknya festival, label, dan komunitas yang mendukung talenta lokal. Namun skenanya di Palembang masih dalam tahap berkembang. Antusiasme ada, tapi butuh lebih banyak dukungan dan eksposur agar bisa lebih besar. Kami berusaha mengisi celah itu dengan menghadirkan event yang bisa memperkenalkan musik elektronik secara lebih luas.
Menurut lo masih banyak gak yang tertarik untuk menjadi disjoki?
Masih banyak, terutama dari kalangan muda yang semakin familiar dengan musik elektronik. Namun tantangannya adalah kurangnya akses ke edukasi dan platform untuk mereka bisa berkembang. Itu sebabnya kami juga berusaha memberikan ruang dan kesempatan bagi talenta baru untuk belajar dan tampil.
Bagaimana menentukan genre yang sesuai dengan identitas kolektif saat memilih setlist atau produksi remix-an?
Kami selalu menyesuaikan dengan karakter event dan audiens yang hadir. Secara umum, kami lebih condong ke genre-genre seperti house, techno, amapiano, R&B, hip hop, hingga experimental elektronik. Namun, fleksibilitas tetap penting agar setiap acara bisa menghadirkan pengalaman yang segar dan menarik.
Apollo Collective (Padang)
Penjawab: Yoel
Siapa aja sosok di balik kolektif ini selain lo?
Selain saya, ada Leo, Samuel, Guns, Melan, Regina, Ajjam Leonardo, dan Xbra.
Ceritakan awal kolektif ini kebentuk!
Awalnya Apollo Collective itu bernama Home Creative Studio Jalan Pusat. Berawal dari Samuel dan Savero, kemudian baru saya masuk diajakin mereka. Kemudian kami bikin studio bareng yang terletak di kedai kopi Savero di Jalan Pusat. Akhirnya kami beralih live bareng-bareng lewat TikTok dan Bigo Live.
Setelah satu bulan jalan, kami berganti nama menjadi latenight.stu. Akhirnya kami mendapatkan kesempatan untuk perform di coffee shop Savero. Kami sempat vakum untuk beberapa bulan dan melanjutkan lagi dengan nama Apollo Collective. Kemudian mengadakan event pertama di Jalan Pusat bernama “Lost Tracer”.
Apa visi misinya?
Untuk visi dan misi kami ingin menjadi kolektif yang anggotanya naik bareng-bareng, berkumpul, dan tidak ada yang tertinggal. Harus seneng-seneng bareng.
Bagaimana lo melihat pergerakan musik elektronik di Indonesia saat ini terutama di kota lo sendiri ?
Jujur karena saya masih terbilang baru, ngeliatnya sih, terutama di Padang masih sedikit ya untuk pergerakannya. Tapi mungkin untuk yang senior bisa lebih tau dari saya.
Menurut lo masih banyak gak yang tertarik untuk menjadi disjoki?
Kalo di Padang masih banyak sih. Banyak temen-temen yang tertarik banget untuk jadi disjoki.
Bagaimana menentukan genre yang sesuai dengan identitas kolektif saat memilih setlist atau produksi remix-an?
Kalo untuk genre kami menyesuaikan. Contohnya tahun kemarin lagi gencer Indo Bounce, kami ya ngikut ke situ. Tahun ini kami lebih berfokus sama apa yang kami nyaman. Kalo punya ide disalurin aja supaya nggak stuck di satu genre aja. Lebih ke open format jadinya karena kami juga gak mau menuntut member kami untuk main ke satu genre.
Quid Pro Quo. (Medan)
Penjawab: Team Quid Pro Quo
Siapa saja sosok di balik kolektif ini selain lo?
Quid Pro Quo ada 2 Founder, Dini dan Tommy. Untuk talent-nya ada Music Producers dan DJ. Ada DJ Menew (Nosize & Ajix), DJ Gungss, DJ Rasyaad, dan DJ Blvck Nvl. Ada juga MC Blaze dan MC Tom.
Ceritakan awal kolektif ini terbentuk!
Kebetulan Dini sering urus event dan banyak relasi di bar dan klub. Tommy juga pernah event di bar dan klub sebagai MC crowd. Berdua akhirnya mutusin untuk bikin EO sendiri dan mulai ngabarin temen-temen DJ dan MC untuk gabung. Event pertama kami di Ding Dong Disko, Jakarta karena Dini pindah ke Medan. Jadi kami membuat 2 base, Jakarta sekitarnya (termasuk Bandung) dan Medan.
Apa visi dan misinya?
Visi kami menjadi acara yang menghubungkan semua generasi melalui musik, menciptakan pengalaman tak terlupakan dengan menampilkan lagu-lagu original serta editan kreatif dari lagu-lagu yang dibuat oleh talenta kami, yang dapat dinikmati oleh kalangan muda maupun tua, serta mempererat persahabatan lama.
Misi kami yang pertama menyuguhkan lagu-lagu DJ yang tidak hanya original, tetapi juga editan atau remix dari lagu-lagu yang sudah ada, memberikan sentuhan baru yang unik dan memikat bagi pengunjung. Kedua, menghadirkan musik dengan genre yang mudah diterima oleh semua kalangan, baik muda maupun tua, agar semua pengunjung dapat menikmati acara dengan penuh keceriaan. Ketiga, kami ingin membangun event yang ramah bagi semua umur dan latar belakang, sehingga setiap orang dapat merasakan kebahagiaan dan keterhubungan dalam satu acara yang penuh energi.
Bagaimana lo melihat pergerakan musik elektronik di Indonesia saat ini terutama di kota anda sendiri?
Di Medan sendiri, meskipun bukan pusat utama industri musik elektronik seperti Jakarta atau Bali, kota ini mulai menunjukkan potensi yang cukup besar. Banyak DJ lokal dan produser musik yang aktif mengadakan event atau party dengan genre elektronik.
Klub-klub dan venue seperti bar, kafe, serta tempat-tempat lain di Medan juga sering mengadakan acara musik dengan set DJ, memberikan wadah bagi para penikmat musik elektronik.
Menurut lo masih banyak gak yang tertarik untuk menjadi disjoki?
Industri musik khususnya dance music masih berpotensi besar dalam kalangan muda mudi di era ini. Kegiatan DJ juga sangat digemari untuk hobi semata maupun untuk dunia profesional seperti menjadi disjoki di acara-acara klub, bar, dan sejenisnya karena musik sangat erat hubungannya dengan masyarakat sekarang.
Bukan hanya memainkan musik semata, tapi kegiatan disc jockey ini dapat menghibur orang lain. Oleh karena itu, banyak dari anak-anak sekarang sangat tertarik menjadi DJ.
Bagaimana menentukan genre yang sesuai dengan identitas kolektif saat memilih setlist atau produksi remix-an?
Untuk diterima oleh pasar, tentunya kolektif ini memilih lagu-lagu yang ringan untuk dipahami dan menyesuaikan dengan suasana dan ambience pada setiap tempat. Pemilihan lagu yang selektif dan penyusunan setlist yang terorganisir, dengan menyesuaikan venue atau outlet yang kami kunjungi, membuat identitas EO kami mempunyai identitas sebagai EO yang adaptif.
Dari segi produksi atau remix-an musik, EO kami menginjak seluruh genre musik, mulai dari hip hop atau R&B, house, sampai ke hard dance music. yang membuat EO kami memiliki banyak bank musik segala jenis outlet atau venue.

Eksplor konten lain Pophariini
- #hidupdarimusik
- Advertorial
- AllAheadTheMusic
- Baca Juga
- Bising Kota
- Esai Bising Kota
- Essay
- Feature
- Good Live
- IDGAF 2022
- Interview
- Irama Kotak Suara
- KaleidosPOP 2021
- KALEIDOSPOP 2022
- KALEIDOSPOP 2023
- KALEIDOSPOP 2024
- Kolom Kampus
- Kritik Musik Pophariini
- MUSIK POP
- Musisi Menulis
- New Music
- News
- Papparappop
- PHI Eksklusif
- PHI Spesial
- PHI TIPS
- POP LIFE
- Review
- Sehidup Semusik
- Special
- Special Video
- Uncategorized
- Videos
- Virus Corona
- Webinar
Laze Rilis Video Live Sejumlah Lagu Kolaborasi bareng Toean Gembira
Tak hanya merilis single “Undangan” pada Februari lalu, Laze beberapa bulan ini meluncurkan video live membawakan lagu-lagunya dengan konsep berbeda yaitu kolaborasi bareng grup musik keroncong modern, Toean Gembira. Kolaborasi Laze dan …
Sentimental Moods Rilis Ulang Lagu Selamat Lebaran dengan Nuansa Baru
Selang 2 tahun sejak album mini Eighth rilis bulan Agustus 2023, Sentimental Moods hadir kembali dengan materi baru yaitu membawakan ulang lagu ciptaan Ismail Marzuki bertajuk “Selamat Lebaran” (25/03). Sejak terbentuk 2009, …