Album Lomba Cipta Lagu Remaja 1978 Bertabur Pesona

• Aug 21, 2020

Seperti Kurt Cobain membuka perkenalan pada banyak musik-musik yang menarik melalui lagu-lagu yang dimainkan ulang oleh Nirvana, kaos-kaos yang dikenakannya, band-band yang disebut dalam berbagai wawancara, hingga daftar album favoritnya, dalam khasanah pop Indonesia sedikit banyak saya mendapatkan hal serupa melalui bintang pop Chrisye.

Saat album Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1977 dirilis, itu adalah tahun kelahiran saya. Dan dengan minimnya re-issue di Indonesia serta belum dikenalnya internet pada masa itu, tentu tak mudah mendapat akses pada musik Indonesia lama. Namun dalam situasi sesulit itu sekalipun, dengan cahaya yang tak pernah pudar, lagu pop sebagus “Lilin-Lilin Kecil” yang dinyanyikan Chrisye memiliki jalannya sendiri untuk terus dikenali generasi berikutnya. Chrisye bisa dikatakan adalah penyanyi/musisi di “rombongan LCLR” pertama dengan nama paling besar, selalu muncul dari masa ke masa, dan memiliki hits paling banyak. Dari Chrisye akses untuk mengetahui kedigdayaan pop Indonesia 1970an jadi lebih mudah terbuka.

Pada 1990, di layar TVRI, diputarlah video musik Chrisye, Trio Libels, dan Rafika Duri menyanyikan lagu berjudul “Kidung”. Saya tertegun dengan keindahan lagu itu tanpa tahu bahwa “Kidung” pertamakali termuat dalam album Lomba Cipta Lagu Remaja – Dasa Tembang Tercantik 1978 Prambors Rasisonia, dinyanyikan oleh Bram, Diana, dan Chris. Chrisye memperkenalkannya untuk saya.

Semakin lama, semakin terkuak permata-permata terpendam itu. Saya jadi tahu album-album “kelas bantam”: Guruh Gipsy (1977), Jurang Pemisah (1977), Badai Pasti Berlalu (1977), Sabda Alam (1978), termasuk LCLR 77 dan 78.

Dari Chrisye akses untuk mengetahui kedigdayaan pop Indonesia 1970an jadi lebih mudah terbuka

Dari buku biografi Chrisye – Sebuah Memoar Musikal karya Alberthiene Endah, sedikit banyak saya mendapat gambaran bagaimana album sehebat LCLR ’77 dan ’78 bisa tercipta. Dikisahkan pada masa itu Radio Prambors Rasisonia, radio anak muda “termaju” dan “tergaul” di zamannya, ingin memutar lagu-lagu Indonesia namun tidak memiliki kesesuaian selera dengan apa yang kebanyakan tersedia dari rilisan perusahaan rekaman yang ada.

Untuk menjawab solusi itu, Prambors merasa perlu untuk mencetaknya sendiri, maka para eksponen Prambors seperti Imran dan Sys NS berinisiatif membuat Lomba Cipta Lagu Remaja, mengundang dan menyeleksi para pencipta lagu remaja untuk berkarya yang dibawakan oleh penyanyi-penyanyi baru, direkam oleh produser muda, diaransir oleh arranger terkini melalui tangan Jockie Suryoprayogo, dan selebihnya adalah sejarah manis untuk telinga kita.

Pada era akhir 1960an dan 1970an, musik-musik seperti blues, hard rock, progressive rock, classic disco, folk, dan juga soft rock sedang menjadi kegandrungan anak-anak muda di kota besar Indonesia. Larangan untuk memainkan musik Rock N’ Roll dari Barat, yang diistilahkan sebagai music “ngak-ngik-ngok” oleh pemerintah, telah berlalu. Penggantinya adalah perayaan budaya baru dari pengaruh berbagai kesenian, literatur, hingga gaya hidup Eropa hingga Amerika, utamanya pada anak muda kota besar kelas menengah atas, hingga langit-langit metropolitan.

Sampul kaset album LCLR 77 dan LCLR 78 / dok. istimewa

Di sekolah-sekolah terbentuk vokal grup, di ruang-ruang terbuka digeber kencang musik rock dengan berbagai varian sub genre-nya, dan di rumah-rumah diadakan pesta bermusik disko. Rekaman-rekaman musik dari Barat, melalui “tangan-tangan hipster” mulai berkeliling dan menyebar diikuti media-media publikasinya seperti “radio gelap”, penerbitan kaum muda, sampai mencetak kaset-kaset yang disalin dari piringan hitam serta merekam musik ciptaan sendiri.

Saat menulis lagu, dari segi lirik, ada keinginan pula untuk tampil berbeda secara tema dan terutama cara menulis dari lagu-lagu pop arus utama saat itu yang dirasa tidak sesuai dengan selera kekinian mereka.

Lomba Cipta Lagu Remaja ’78: para pencipta lagu remaja Dinyanyikan penyanyi-penyanyi baru, direkam produser muda, diaransir oleh arranger terkini dan selebihnya adalah sejarah manis untuk telinga kita

Maka estetika itulah yang terjadi: musik pop “terbaru” dengan jelajah chord dan aransemen yang utamanya dipengaruhi progressive rock, folk, dan juga disko, dengan lirik-lirik puitis yang banyak memilih kata yang tak lazim digunakan untuk musik popular Indonesia saat itu, banyak mengambil dari “perbendaharaan lama”, atau kata-kata yang umum namun dengan paduan yang tak lazim untuk mencapai metafora, berefleksi terhadap kondisi sosial-budaya dan relasinya pada kehidupan anak muda.

Penulis
Harlan Boer
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)

Eksplor konten lain Pophariini

16 Pertanyaan: Enzy Storia

Kemunculan Enzy Storia membawa single perdana “Bila Aku Jatuh Cinta” menjadi awal dari keseriusan perjalanan bermusiknya. Ia mengaku, bukan tak ingin langsung menghadirkan lagu yang berbeda. Melainkan saat itu ada proyek musik untuk cover …

Asteriska Membawa Single “Ibu Pertiwi” untuk Bumi

Apa yang bisa dilakukan untuk membuktikan kecintaan terhadap bumi telah diungkapkan oleh Asteriska baru-baru ini lewat single terbarunya berjudul “Ibu Pertiwi”. Single ini kabarnya pembuka bagi mini album berisi empat lagu yang ia beri …