Album Lomba Cipta Lagu Remaja 1978 Bertabur Pesona

1603
Sampul depan dan dalam kaset Lomba Cipta Lagu Remaja 78 / dok. istimewa

Lagu berikutnya adalah “Sesaat Harapan Tiba” ciptaan Dedy Gusrachmadi yang dibawakan secara mengesankan oleh Keenan Nasution. Saat itu, Keenan Nasution adalah musisi yang dikenal di kalangan “music enthusiast” Ibukota bersama kelompok musiknya, Gipsy dan “tongkrongan anak band” yang biasa berkumpul di Jalan Pegangsaan, Jakarta. Sampul album ini pun memasang foto Keenan Nasution bersama Donny Fattah dari Godbless dalam sapuan warna oranye. Di kemudian hari Keenan Nasution menjadi salah satu vokalis pop yang semakin dikenal secara Nasional melalui lagu-lagu seperti “Nuansa Bening”, “Zamrud Khatulistiwa”, hingga hit besarnya bersama Gang Pegangsaan berjudul “Dirimu”.

Benny Soebadja kembali mengisi vokal untuk tembang berikutnya, “Apatis” karangan Inggrid Wijanarko. Selain “Kidung”, “Apatis” adalah lagu yang paling dikenal dari album kompilasi ini. Bahkan nyaris segala suara di lagu ini telah menjadi klasik—bukan hanya notasi dan liriknya, melainkan pula “isian” gitarnya. Para musisi generasi berikutnya, dari Ipang hingga Mondo Gascaro pernah membawakan kembali “Apatis”.

Roda-roda terus berputar
Tanda masih ada hidup
Karena dunia belum henti
Berputar melingkar searah 

Terik embun, sejuta sentuhan
Pahit mengajuk pelengkap
Seribu satu perasaan
Bergabung setangkup senada

Jurang curam berkeliaran
Tanda bahaya sana-sini
Padang rumput lembut hijau
Itu pun tiada tertampak

Sudah lahir, sudah terlanjut
Mengapa harus menyesal?
Hadapi dunia, berani
Bukalah dadamu
Tantanglah dunia
Tanyakan salahmu
Wibawa

Pada lagu berikutnya, Purnama Sultan kembali tampil untuk “Resah” karangan duo penulis lagu Christ dan Tommy WS. Sebuah melankoli yang megah untuk temaram kesenduan diri. Dilanjutkan kembali oleh Dhenok Wahyudi yang kali ini membawakan karya Baskoro lainnya, “Yang Esa dan Kuasa”. Album menawan Lomba Cipta Lagu Remaja – Dasa Tembang Tercantik 1978 Prambors Rasisonia ditutup oleh karya cipta Dedy Gusrachmadi bertajuk “Awan Putih” yang dinyanyikan oleh Keenan Nasution.

Radio Prambors terus mengadakan LCLR pada 1979 hingga dekade 1980an. Mendengarkan kembali album ini mengingatkan bagaimana pada suatu masa sebuah radio anak muda telah sangat berhasil melahirkan album kompilasi yang memberi ruang ekspresi bagi pencipta lagu remaja dan diapresiasi, dengan mutu kreasi yang tak lekang oleh zaman. Baik ide membuat “kompilasi sendiri” hingga sejumlah karya cipta yang dihasilkannya, terus menginspirasi hingga hari ini. Sebuah kompilasi dasa tembang yang solid.

 

____