Album yang Mengubah Hidup: Erix Soekamti

649
Erix Soekamti
Erix Soekamti membeberkan Album Yang Mengubah Hidupnya

Saya selalu menanti cerita menarik dari musisi tentang apa album yang mengubah hidupnya. Di edisi ini, saya khusus mengundang Erix Soekamti, vokalis dari band pop-punk asal Yogyakarta, Endank Soekamti.

Kali ini saya melewati proses untuk mendapatkan jawaban dengan cara yang berbeda. Tak puas dengan teks yang begitu singkat. Akhirnya, saya memutuskan untuk menelfon Erix Soekamti langsung melalui aplikasi pesan agar bisa mendengarkan ceritanya secara rinci.

Suatu hal yang jarang terjadi, seorang musisi memilih karya musiknya sendiri. Biasanya musisi memilih album lain. Inilah jawaban Erix Soekamti soal album yang mengubah hidupnya.


Kelas 1 – Endank Soekamti 

Endank Soekamti
Album Kelas Satu dari Endank Soekamti

Endank Soekamti mengeluarkan album ini dalam format kaset tahun 2003 melalui Proton Records, label independen yang juga menaungi Wrong Way band asal Semarang, serta album kompilasi Berpacu Dalam Melodic.

Album Kelas 1 berisi total enam belas lagu dengan hit “Bau Mulut”. Pengalaman yang mengubah hidupnya karena Erix merasa dari album ini segalanya dimulai.

“Album ini seperti keberuntungan buat kita. Begitu ke luar, itu langsung kayak menjadi tiket kita untuk menjadi band nasional

“Kita ‘kan band daerah. Band daerah itu lain dengan band Ibukota. Band daerah itu nggak cuma butuh kesabaran dan konsistensi. Tapi juga keberuntungan,” ungkapnya.

Menurut Erix, band Jakarta yang ‘bagus sedikit’ saat itu pasti sudah bisa menjadi band nasional. Sementara band dari kota asalnya, Yogyakarta mau sebagus apapun, hanya dikenal di Jogja saja.

“Kenapa album ini sangat penting. Album ini seperti keberuntungan buat kita. Begitu ke luar, itu langsung kayak menjadi tiket kita untuk menjadi band nasional,” katanya.

Perjalanan Erix dengan membawa nama band yang kerap disangka beraliran dangdut sempat meragukan. Namun, Kelas 1 justru berhasil mematahkan persepsi tersebut.

Endank Soekamti
Endank Soekamti / dok. Erix Soekamti

“Kebayang ‘kan namanya aja udah nggak komersial lho. Endank Soekamti orang taunya penyanyi dangdut pasti. Udah sangat susah banget untuk membuat image yang bagus. Sudah pasti jualannya jelek. Tapi dengan album ini semua malah berbanding terbalik. Semacam tiket kita untuk menjadi band nasional dan sampai sekarang bisa eksis,” ungkap Erix.

Sejak menciptakan nama Endank Soekamti, Erix memang tidak memiliki beban untuk menjadi sesuatu karena bandnya ini memang bukan sebuah project melainkan spontanitas yang keterusan.

Lagu favorit “Bau mulut”

“Waktu itu kita undang semua director radio untuk memilih. Waktu itu kita ‘kan band baru belum punya pengalaman. Kuping-kuping lama kita libatkan yaitu director-director radio kita kumpulkan. Lagu itu terpilih,” kata Erix.

Baik director maupun music director radio sepakat untuk memilih “Bau Mulut” karena waktu perilisan bertepatan dengan bulan puasa. Cerita di dalam lagunya juga tentang pacaran, bau mulut, ciuman, il-feel.

“Mungkin relevan ya. Benar tebakan MD-MD. Lagu itu memang benar-benar jadi gacoan di MTV, radio. Secara tema kan itu tema receh waktu itu,” kenang Erix

Kilas balik saat proses pembuatan album Kelas 1, Erix tidak sedang mendengarkan karya musik siapapun milik orang lain secara khusus. Bahkan sampai sekarang ia mengaku jarang mendengarkan musik.

“Dulu kan pekerjaanku sound engineer di studio. Kalau pulang ke rumah aku nggak dengerin musik lagi, bosan. Orang kerjanya rekaman. Kalau ditanya yang didengarin apa, yang aku lagi kerjakan waktu itu. Kenapa disebut mengubah hidupku, karena ya secara pekerjaan aja langsung berubah dari sound engineer, dan bekerja di studio langsung jadi musisi. Benar-benar totally musisi itu ya dari album Kelas 1 mulainya,” pungkasnya.