635

Album Yang Mengubah Hidup: Iga Massardi (Barasuara)

Iga Massardi "Barasuara" Dengan Fender Jazzmaster Thurston Moore signature. Foto: dok. istimewa

Setiap orang mungkin memiliki lagu bahkan album tertentu yang bukan hanya favorit, namun benar-benar mengubah cara dia berpikir tentang musik atau mempengaruhi dalam kehidupan dirinya secara signifikan, sebuah album yang mengubah hidup.

Di edisi perdana kolom ini kita sudah mendengar testimoni Stella Gareth dari unit duo rock Scaller tentang album King Crimson yang mengubah hidupnya. Di edisi kedua ini kali ini, PHI mengundang Iga Massardi dari unit rock Barasuara untuk menceritakan album yang telah mengubah hidup, sebuah album yang meninggalkan kesan abadi di dalam dirinya.

Mari kita simak bersama.

__

Perkenalan saya pertama dengan Padi adalah pada tahun 1999 ketika “Begitu Indah” berkumandang di televisi. Warna dan tone yang ada di musik mereka sangat segar dan catchy. Namun yang benar-benar membuat saya luluh lantak adalah ketika mereka merilis album Sesuatu Yang Tertunda di tahun 2001 dengan salah satu lagunya, “Semua Tak Sama”.

Baca juga:  5 Manajer Band yang Harus Kalian Kenal

Ada sesuatu yang sulit saya jelaskan tentang lagu itu. Dibuka dengan kalimat: “Dalam benakku lama tertanam. Sejuta bayangan dirimu.” Sebuah hiperbola yang indah, dramatis dan misterius. Namun semua kompleksitas ini terdengar mengalun tanpa sandungan karena dibalut dengan komposisi chord dan notasi yang sederhana namun sangat efektif.

Cover CD Padi – Sesuatu yang Tertunda / dok. istimewa.

Padi selalu memiliki alur cerita dan aransemen yang penuh jebakan. Dan itu tersebar di seluruh lagu yang ada di album ini. Disambut oleh “Bayangkanlah” sebagai pembuka, sebuah lagu dengan lirik “Bayangkanlah jika aku tak lagi menjadi kekasihmu”. Ah, kalau dibaca begini kayaknya kok cemen banget. Tapi Padi berhasil membungkus kepasrahan ini dengan aransemen dan sound yang menggelegar serta chord minor yang pilu dan gagah.

Baca juga:  5 Band Indonesia Paling Seram
Kaset album Padi – Sesuatu yang Tertunda / dok. istimewa.

Beberapa minggu lalu saya bertemu Mas Fadly di Soundrenaline. Kami mengobrol santai setelah saya menyaksikan penampilan Padi di sana. Banyak sekali yang ingin saya utarakan ke Mas Fadly tentang bagaimana Padi membentuk diri saya sebagai musisi dan penulis lirik.

“Mas, buat saya Padi itu bukan lagi band yang keren. Tapi band yang bernilai” kata saya.

Duo Fadly – Piyu / dok. padiband (instagram).

Ia terdiam beberapa detik lalu tersenyum malu “Aku terharu..” lalu saya lanjut ngalor ngidul tentang betapa saya mengagumi mereka dan berharap untuk tidak pernah vakum lagi. Karena show mereka di Soundrenaline kemarin buat saya adalah sebuah pertunjukan dengan flow dan setlist terbaik yang pernah saya tonton. Jelas saya bias tentang ini, karena mengagumi mereka.

Baca juga:  Pesona Twitter Dan Musisi Yang Masih Aktif Di Twitter
Padi di Soundrenaline 2018, GWK Bali / dok. padiband (instagram).

Buat saya Sesuatu Yang Tertunda adalah blueprint tentang bagaimana membuat lagu dan lirik yang bagus dibalut dengan aransemen yang solid. Paling tidak buat saya. Dan tema lirik yang ambigu, samar, halus serta multi tafsir adalah salah satu aspek yang sangat saya kagumi dari Padi. Awalnya terdengar jelas namun setelah didengar berulang membuat saya bertanya kembali tentang apa lagu ini sebenarnya? Tidak banyak band bisa melakukan hal ini dan Padi melakukannya dengan luar biasa.

Seluruh katalog album Padi sudah bisa dinikmati di layanan streaming musik digital yang tersedia. Jangan lupa untuk mendengarkan single terbaru Barasuara, “Guna Manusia” di layanan streaming digital kalian. Ini adalah single pertama dari album ke-2 mereka yang akan dirilis beberapa bulan ke depan.