432

Album yang Mengubah Hidup: Rekti Yoewono ‘The SIGIT’ 

Rektivianto Yoewono "The Sigit". Foto: Refantho Ramadhan

Tidak ada yang bisa mengubah hidup manusia kecuali diri sendiri, istilah yang tidak berlaku bagi dunia musik. Saat ditanyai mengenai album yang mengubah hidupnya, Rekti sempat ragu jika hanya menjawab satu album. Dari sekitar lima pilihan yang sudah terkumpul, album milik Brian Eno inilah yang akhirnya menjadi cerita panjang yang ia tuliskan untuk Pop Hari Ini.

 

Brian Eno – Here Come the Warm Jets (1974)

Saya pertama kali mengetahui Brian Eno melalui soundtrack film Velvet Goldmine sewaktu SMA sekitar tahun 1999. Lagu yang ada di dalam soundtrack tersebut “Needle in the Camel’s Eye” merupakan salah satu di antara sekian banyak lagu yang menjadi favorit karena kala itu saya menggemari David Bowie, Velvet Underground, Roxy Music dan semua yang berbau glam rock tahun 70an dengan segala bentuk fashion-nya yang elegan dan eksentrik.

Secara otomatis saya memulai pencarian dan upaya mendapatkan album-album rilisan Brian Eno dan memulai pencarian informasi mengenai karya-karya Brian Eno. Melalui proses pencarian tersebut saya jadi tahu kalau Brian Eno memproduseri Blur, Devo, U2 dan beberapa band favorit saya lainnya. Namun, kala itu album-album Brian Eno yang bernuansa ambience dirasa sulit bagi saya pahami dan nikmati. Akibatnya upaya saya dalam mengumpulkan album Brian Eno saat itu berhenti di solo pertamanya yaitu Here Come the Warm Jets (1974). Itu pun karena di album tersebut ada lagu “Needle in the Camel’s Eye” yang dirasa paling catchy dan biasanya saya repeat terus tanpa mendengarkan lagu yang lain karena terasa kurang catchy dan cenderung membosankan.

Hingga tahun 2006, saya terkena penyakit demam berdarah yang membuat kadar trombosit di dalam darah menurun dratis hingga ke ambang batas aman (kalau ga salah sekitar 9000-10000 mcL) dan menginap di rumah sakit tanpa memiliki kesadaran penuh. Sampai hari ini saya hampir sama sekali tidak bisa mengingat proses masuk rumah sakit, siapa saja yang menjenguk selama saya dirawat, maupun apa saja yang saya lakukan di sana.

Kata Riko ‘Mocca’ saya pernah minta dibawakan donut dan menyantap donut itu dan langsung tidur. Haha. Yang saya ingat adalah momen dimana saya terbangun dengan suara feedback guitar dan suara bising yang berlapis-lapis di telinga saya, terdengar begitu bising, hiruk-pikuk, tetapi tidak mengganggu. Malahan terasa indah. Saya merasakan sebuah sensasi yang mungkin belum pernah saya rasakan sebelumnya. Suara itu datang dari earphone dan discman yang sedang memainkan CD Here Come the Warm Jets, lagu yang tidak pernah saya hiraukan selama bertahun-tahun. Rupanya saya meminta dibawakan music player untuk didengarkan selama dirawat, dan keluarga saya serta-merta membawa apa saja yang tergeletak di kamar dan di dalam discman usang yang sudah jarang saya pakai itu lah CD album pertama Brian Eno bersemayam selama bertahun-tahun.

Setelah kesembuhan saya dari penyakit DBD saya masih dirundung oleh sensasi yang saya rasakan saat terbangun mendengarkan lagu Brian Eno. Saya berusaha mencari pemahaman mengenai kejadian tersebut sambil mendengarkan seluruh isi album Here Come the Warm Jets. Maka saya pun langsung memulai kembali upaya pencarian Brian Eno. Dari pencarian ini lah saya mengetahui banyak hal menarik mengenai Brian Eno seperti; caranya menentukan langkah berkarya secara acak menggunakan Oblique Strategy, keterlibatannya dalam banyak projek musikal yang bisa dikatakan mengakar ke bawah sadar saya seperti bebunyian Windows 95, pendekatan penggunaan studio rekaman sebagai instrumen musik, dan lain sebagainya. Semenjak kejadian tersebut album Brian Eno – Here Come the Warm Jets telah mengubah persepsi saya terhadap sound serta bebunyian, cara saya mendengarkan musik dan juga proses saya dalam berkreasi, terutama di dalam studio. Setiap kali mendapati kebuntuan saya selalu berpikir “What would Eno do?”.

Rekti Yoewono “The Sigit”. Foto: Refantho Ramadhan

____

Baca juga:  16 Pertanyaan : Marion Jola