305

Album yang Mengubah Hidup: Sir Dandy (Teenage Death Star)

Sir Dandy / foto: Edy Khemod

Setiap orang yang menyukai musik tentu memiliki lagu bahkan album tertentu yang bukan hanya favorit, namun benar-benar mengubah cara kita berpikir tentang musik atau mempengaruhi dalam kehidupan dirinya secara signifikan, sebuah album yang mengubah hidup.

Di edisi ketiga kolom ini kali ini (maaf nih jedanya agak lama), PHI mengundang Sir Dandy, singer songwriter yang juga menjadi corong suara unit rock paling ugal-ugalan se-Indonesia, Teenage Death Star untuk menceritakan apa album yang telah mengubah hidupnya. Apa album yang meninggalkan kesan abadi, album yang telah menyelamatkan dirinya.

Mari kita simak bersama.

Sore Tugu Pancoran adalah judul album studio ke-14 Iwan Fals yang dirilis pada tahun 1985. Album ini digarap oleh produser musik Willy Soemantri dan cukup sukses di pasaran. tahun 1985, album ini dibanderol dengan harga 10 ribu.

Baca juga:  Album Baru Dan Acara Perilisan Gerald Situmorang

Yang menarik adalah album ini dirilis bersamaan dengan film yang dibintangi Iwan Fals dengan judul Damai Kami Sepanjang Hari. Film yang berisi lagu-lagu hit Iwan Fals ini bercerita tentang lika-liku Iwan Fals sebagai pengamen yang berhasil rekaman dan akhirnya sukses.

Album Sore Tugu Pancoran / dok. istimewa.

Namun bukan ini yang menarik perhatian seorang Sir Dandy terhadap lagu ini, bukan juga karena ada track hit “Sore Tugu Pancoran”, “Ujung Aspal Pondok Gede” atau “Damai Kami Sepanjang Hari”.

“Album ini berkesan buat gue karena ada lagunya Tince Sukarti Binti Machmud,” ujarnya.

Singer-songwriter yang kerap menyanyi dan menulis lagu-lagu tentang kegiatan keseharian dengan kemasan yang kocak ini ingat benar ketika kali pertama mendengar lagu ini.

“Waktu itu gue habis pulang porak (pekan olah laga antar kelas), SMP tahun 1987, saat itu gue denger lagu ini waktu gue kumpul di kamar temen, kami semua ngerokok. Saat gue denger liriknya, lucu bikin ketawa, pas banget buat nyimeng,” ujarnya.

Baca juga:  16 Pertanyaan: Tika Pramesti (Indische Party)

Secara tidak sadar, mungkin lagu itulah yang akhirnya menjadi landasan bermusik Sir Dandy yang kocak dan menghibur.

makin tua makin bijak: Iwan Fals / dok. Evelyn Pritt (iwanfals/instagram).

“Mungkin secara bawah sadar iya (terpengaruh), karna (lagu) itu yang pertama kali bikin gue happy,” akunya.

Meski demikian, Sir Dandy mengaku bukan fans berat Iwan Fals, ia mengaku hanya suka dengan lagu-lagu dengan lirik dan notasi yang menghibur.

“Gue suka lagu-lagu yang menghibur. Jaman itu selain lagu-lagu (Iwan Fals) dari kaset, gue banyak dengerin juga grup-grup lawak dari kaset, sandiwara radio yang lucu. Gue kerap dengerin itu di Bandung dari ’87 sampe awal internet ada,” ujarnya.

Sir Dandy / dok. pribadi Sir Dandy.

Jadi, Iwan Fals yang kocak adalah Iwan Fals yang dikenal Sir Dandy dalam memorinya. Padahal kita tahu bahwa Iwan Fals telah menjalani banyak periode, yang paling jelas adalah periode lagu-lagu protes dan periode teatrikal bersama Kantata Takwa-nya.

Baca juga:  5 Album Merah Putih

“Iya lah, i dont give a fuck tentang politik, dan pada jaman kantata taqwa, gue mah dengerinnya Sacred Reich, ha ha ha,” kata Sir Dandy.

Jika tidak ada lagu Tince, mungkin Sore Tugu Pancoran adalah album yang biasa-biasa saja dimata Sir Dandy. Sebuah album yang menurutnya penuh dengan kesederhanaan baik musik, notasi dan liriknya, sebuah album yang membuatnya bahagia dan tertawa.

Sir Dandy kini tengah mempersiapkan album keduanya setelah sukses dengan Lesson #1. Enam lagu direkamnya di studio di bilangan Radio Dalam. Masih belum ada liriknya ia sendiri belum memasang target kapan album ini dirilis. 

Comments
Previous articleNuansa City-Pop ala Spring Summer
Next articlePesan di Balik Awan Adhitia Sofyan
mm
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.