#BaladaAdmin: Pengalaman Berdagang Merchandise Band

Jun 22, 2022
merchandise band

Sirka tahun 2009, saya masih memegang pemesanan di toko Omuniuum, toko yang menjual merchandise band lokal sejak tahun 2007. Selain di toko, waktu itu juga kami menjual produk di internet. Saat itu baru ada Kaskus.com Di situ kami memajang katalog, nomer handphone (HP).  Lalu calon pembeli akan mengirim sms untuk memesan barang.

Salah satu momen yang saya ingat, pernah ada SMS masuk lewat jam 24.00. Kebetulan HP waktu itu dibawa pulang ke rumah. Karena masih bangun, jadi saya jawab SMS-nya.

“Bang, kaos ‘A’ masih ada?”

“Masih. Besok sms lagi di jam kerja ya untuk memastikan.”

Tidak lama balasan dari pesannya masuk lagi,

“Tapi bang, saya belum kerja.”

Saya terbahak saat itu juga. Lalu membalasnya, “maksudnya besok SMS-nya pas jam buka toko, jam 10 pagi ya kak”.

Jauh dari pikiran saya kalau itu adalah awal mula perjalanan panjang bergelut dengan pelanggan-pelanggan yang ‘ajaib’. Dari yang menyenangkan sampai yang bikin geleng-geleng kepala.

Saat itu belum ada marketplace. Jadi yang cukup sering, mereka janjian untuk datang ke toko. Atau minta kirim ke rumah mereka. Saat mulai membuat katalog di Kaskus, pelanggan toko Omuniuum mulai menyebar ke banyak kota di Indonesia.

Jauh dari pikiran saya kalau itu adalah awal mula perjalanan panjang bergelut dengan pelanggan-pelanggan yang ‘ajaib’. Dari yang menyenangkan sampai yang bikin geleng-geleng kepala.

Bicara soal yang datang ke toko, salah satu momen yang paling diingat saat mulai berjualan merchandise band adalah rasa takjub akan militansi teman-teman pembeli. Karena dulu pembeli yang datang masih sangat sedikit banget, kami masih sempat untuk berbincang.

“Mas, sengaja ke sini buat beli kaos ini?”

“Iya Teh, ini naik motor dari Cianjur.”

“Trus ini langsung pulang lagi?”

“Besok kerja, Teh.”

Astaga! Batin saya. Jarak Cianjur – Ciumbuleuit itu harus ditempuh dalam waktu dua jam naik motor. Jadi mas yang sengaja ke toko ini butuh kurang lebih empat  jam “hanya” untuk membeli kaos band yang dia suka.

Belum lagi ada momen lain berjumpa di booth merchandise yang kami buka di salah satu perhelatan acara musik, misalnya di Hellprint Festival. Para pembeli itu kemudian mem-posting via media sosial mereka kalau sengaja mampir dari Bali, Kalimantan dan lain sebagainya hanya untuk membeli merchandise band.

Dari berbagai peristiwa-peristiwa yang saya alami sendiri, kemudian sadar kalau para penggemar band-band lokal ini tidak bisa disepelekan. Malah membuat kagum. Makanya saya suka jengkel dengan band yang tidak sepenuh hati mengurus merchandise atau produk turunan dari karya mereka.

Jadi mas yang sengaja ke toko ini butuh kurang lebih empat  jam “hanya” untuk membeli kaos band yang dia suka.

Ada loh, yang patungan untuk beli CD seharga Rp 35.000 untuk diputar bergantian, bergiliran memutarnya seminggu sekali. Saya tahu ini dari teman-teman pembeli yang mengomentari post di Facebook toko Omuniuum. Biasanya anak sekolah atau yang uang jajannya terbatas tapi tetap ingin beli rilisan fisik band kesukaannya.

Dulu pernah juga kedatangan serombongan bocah dari Jakarta. Dari awalnya membeli lantas berbincang dan berakhir dengan saya harus memamerkan foto untuk membuktikan bahwa saya berteman dengan salah satu personil band yang mereka suka. Maklum, dulu akses untuk ketemu belum seleluasa sekarang dan belum ada media sosial seperti Instagram.

Dari merchandise band ini juga saya bertemu dan kemudian berteman dengan banyak orang yang punya kegemaran sama. Sering jadi tempat orang bertanya tentang agenda band atau malah janjian untuk nonton konser bareng. Banyak di antaranya jadi teman baik sampai sekarang.

Para penggemar band-band lokal ini tidak bisa disepelekan. Malah membuat kagum. Makanya saya suka jengkel dengan band yang tidak sepenuh hati mengurus merchandise atau produk turunan dari karya mereka.

Era Instagram kemudian datang. Tantangannya lebih besar dibanding berhadapan langsung dengan teman-teman yang datang ke toko atau jaman dulu pesan via SMS. Begitu posting di Instagram komen yang seringkali muncul pertama kali adalah:

“Berapa harganya, bagaimana cara pesannya?”

Padahal semua keterangan tentang produk sudah dicantumkan di caption-nya. Posting poster acara pun begitu.

“Acaranya tanggal berapa?”

Bahkan, kami penah menerima email pesanan tiket yang acaranya sudah lewat setahun yang lalu. Gila.

Dulu saya sampai membuat posting sayembara dengan judul “Belajar Membaca Caption”. Seru bin ajaib. DM Instagram juga penuh dengan pertanyaan-pertanyaan dan dialog-dialog yang bolak-balik memastikan hal yang sudah pasti. Mungkin memang karena bangsa kita seringkali tidak percaya dengan pengumuman tertulis. Contoh, begitu ditulis “sold out”, DM yang muncul adalah “ini sold out kak?”, dengan lampiran foto barang yang sudah habis tersebut.

Setelah Instagram, muncul marketplace. Prosesnya nyaris sama. Tak terhitung teman-teman pembeli yang langsung bertanya begitu check out di keranjang.

“Kapan barangnya dikirim kak?”

Entah jam 7 pagi, jam 10 malam atau jam 3 subuh. Padahal semua keterangan juga sudah dicantumkan di keterangan produk dan proses pengepakan barang tentu saja dikerjakan ketika toko sudah buka.

Di luar urusan ngobrol, berjualan, edukasi para pembeli rilisan fisik dan merchandise, peristiwa paling mengejutkan datang baru-baru saja. Tetiba notifikasi di salah satu platform mengabarkan kalau rilisan-rilisan fisik resmi dari band disebut bajakan dan dilarang dijual di platform tersebut. Shock. Kami langsung menghubungi pihak marketplace dan prosesnya ternyata cukup panjang. Ngotot. Akhirnya saya mengambil jalan pintas, komplain lewat Twitter. Ramai.

Tetiba notifikasi di salah satu platform mengabarkan kalau rilisan-rilisan fisik resmi dari band disebut bajakan dan dilarang dijual di platform tersebut.

Ternyata yang mengalami tak hanya kami. Banyak yang kemudian mengusulkan untuk pindah platform. Kami menolak karena yang kami ingin perjuangkan adalah platform-nya harus tahu kalau barang yang kami dan teman-teman jual itu adalah rilisan dari band dan atau records label yang resmi. Bahwa ada industri niche dari yang namanya skena musik independen yang mungkin tidak semua orang tahu.

Setelah seharian berkutat di Twitter dan didukung oleh banyaknya teman-teman yang komplain, akhirnya keluhan saya didengar. Keadaan normal, tapi untuk dua hari saja karena besok lusanya, CD-CD yang dipajang di katalog kembali kena tanda “barang terlarang”, diturunkan dari katalog dan kami kena dua poin pinalti.

Kami ingin perjuangkan adalah platform-nya harus tahu kalau barang yang kami dan teman-teman jual itu adalah rilisan dari band dan atau records label yang resmi. Bahwa ada industri niche dari yang namanya skena musik independen yang mungkin tidak semua orang tahu.

Asal tahu saja, kalau poin pinaltinya lebih dari dua, toko kami bisa kena “banned”. Seharian kembali berurusan dengan proses komplain dan kembali saya mengabarkan kondisi terbaru via Twitter. Setelah ramai, entah bagaimana prosesnya, tapi menjelang senja, kami dapat surat resmi yang mengabarkan kalau CD-CD sudah kembali dipajang dan poin pinaltinya dihapus.

Edukasi memang harus terus dilakukan karena kenyataannya, meski nama band, rilisan fisik dan merchandise yang kami akrabi dan geluti setiap hari bisa jadi masih sangat asing untuk sebagian orang termasuk platform besar medium tempat kami berjualan.

Yang pasti ini adalah salah satu alasan kami tetap memakai platform tersebut. Untuk teman-teman agar selalu punya pilihan untuk membeli merchandise yang resmi.

Yang harus dipikirkan juga adalah bagaimana cara menekankan pada platform bahwa yang harus mereka incar dan basmi justru bukan rilisan-rilisan fisik tapi merchandisemerchandise bootleg atau tiruan yang justru jumlah terjualnya kadang jauh melampaui merchandise resmi band lokal. Mungkin karena dirasa lebih menguntungkan secara revenue kemudian platform-platform itu lebih cuek, entahlah. Yang pasti ini adalah salah satu alasan kami tetap memakai platform tersebut. Untuk teman-teman agar selalu punya pilihan untuk membeli merchandise yang resmi.

Berjualan merchandise band juga kadang berhubungan dengan orang-orang tua yang sedang berdinas ke kota Bandung lalu diminta anaknya mampir ke Omuniuum untuk membeli sesuatu yang mereka inginkan. Kalau sudah begitu, kami senyum-senyum saja melihat orang tua yang sibuk video call sambil bertanya, “ini bukan nak? Kaos apa sih ini? Gambarnya kok banyak setannya.” Lalu sambil membayar biasanya sambil berkomentar, “nggak ngerti saya sama selera anak muda”.

Kami senyum-senyum saja melihat orang tua yang sibuk video call sambil bertanya, “ini bukan nak? Kaos apa sih ini? Gambarnya kok banyak setannya.”

Kadang kami juga berhubungan dengan seseorang yang ingin memberi hadiah spesial untuk orang tersayang. Minta diselipkan tulisan selamat ulang tahun, happy anniversary dan lain sebagainya. Paling mutakhir, salah seorang pelanggan yang memesan dalam rangka memberi hadiah perayaan jadian, tetiba mengabarkan kalau mereka putus tepat pada saat barang sampai ke tangan yang diberi. Jadi kami yang ketiban kerjaan untuk konfirmasi pada penerima hadiah. Ya nasib!

Masih ada banyak cerita ajaib yang bisa dibagikan. Tapi yang pasti, adalah suatu kesenangan tersendiri untuk jadi perantara teman-teman mendapatkan merchandise dari band kesukaan, jadi sumber informasi dan pertanyaan meski kadang yang terjadi adalah “A, kaos ini ada? (Sambil menyertakan screen shot foto produk dari akun lain).

Lantas kami menjawab seperti judul film komedi, “coba cek di toko sebelah” karena barangnya memang bukan kami yang jual.


*Omuniuum sudah berjualan merchandise sejak 2007. Bekerjasama dengan banyak band, record label dan supplier, terbantu oleh fanbase dan teman-teman penggemar band yang setia membeli merchandise sampai saat ini. Terletak di Ciumbuleuit 151B lt 2 Bandung, Boit yang memposisikan diri sebagai manajer sosial media sering mengabadikan momen lucu yang terjadi lewat chat DM atau dialog di media sosial Omu dengan #baladaadmin yang menginspirasi tulisan ini.

Penulis
Boit
Ibu dua putri yang katanya senang membaca dan mendengarkan musik. Seringnya ngurusin toko buku, musik dan pernak-pernik musik Omuniuum, kadang juga ngurus Limunas (Liga Musik Nasional).
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

T-Five Reuni di “One in a Million”

“One in a Million” juga menjadi sebuah penghubung menuju konsep terbaru T-Five, yakni TBF (T-Five Big Family) yang menggandeng para personel terdahulu.

Gamaliel dan Lembar Terbaru Perjalanan Bermusiknya

Selain dengan single, lembar terbaru dari perjalanan Gamaliel juga ditandai dengan hadirnya label rekaman bentukannya, Self Records.