Rekomendasi: BAP. – MOMO’S MYSTERIOUS SKIN

Dec 6, 2021
BAP.

2006, sejak Cut Chemist mempersenjatai “Kelelawar”- Koes Plus di “What’s the Altitude”, disusul lalu ada A$AP ROCKY membawa aroma manis Rasela dalam tingkatan terbaiknya di “Jukebox Joints”, Apathy memekatkan The Brims dalam “The Spellbook”-nya, makin yakin saya bawa lagu-lagu Indonesia adalah ‘bunga-bunga’ yang bisa dihirup dan dihisap menjadi banyak bentuk, termasuk dalam hip hop. Hari ini, Kareem Soenharjo adalah musisi yang cerdik menangkap pola ini.

2021, lahir MOMO’S MYSTERIOUS SKIN dari tangan cerdik  BAP. moniker dari Kareem. 12 Trek yang kita dengarkan ini menggambarkan bagaimana Kareem sebagai seorang musisi yang punya sudut pandang berbeda dengan kebanyakan musisi hip hop. Album ini menghadirkan kepiawaiannya untuk mengumpulkan, mengolah pusparagam lagu Indonesia lalu diterjemahkannya sebagai karya yang spektakuler.

Album kedua ini adalah hasil proses digging Kareem yang luar biasa telitinya akan lagu-lagu Indonesia. Ia mungkin bukan yang pertama memproses pola ini. Namun yang membedakannya, Kareem sadar bahwa hip hop buat soalan mengambil beat belaka, namun bagaimana mengambil ‘rasa’ dari lagu, diambil saripatinya untuk kemudian dihidangkan dengan plating yang menarik. Saya sendiri bukan penggemar hip hop, namun saya justru bisa merasakan unsur lain dari sekadar hip hop di album ini.

Ada dua karya Sharkmove, band asal Bandung era 70-an yang bisa dijadikan contoh bagaimana pola produksi karya Kareem di album ini bekerja. Saya akan menjelaskan seraya memberikan tautannya.

Pertama adalah “Evil War”, bagaimana kita melihat karya hard/psikedelik rock ini diambil lalu diberi letupan tegas, ditambahkan garis tebal dan warna yang menarik di ‘PAINTING WITH SUWAGE’. Oke, kalau itu masih dianggap itu sarat akan beat, bagaimana dengan “WEI WEI”? Bagaimana lagu hip hop ini lahir dari sebuah respon akan lagu “Madat” dari (masih) karya Sharkmove dan melihat kenyataan lagu ini bukan lagu yang punya beat untuk sekadar di-sampling?

Lalu bagaimana dengan “SAME SHOES, NO COMPANY” yang mengambil secuil gitar Saleh Husein dari potongan “Kisah Dari Selatan Jakarta”, nomor paling laidback White Shoes & The Couples Company menjadi sebuah karya baru. Secerdik menyukil petikan Bin Idris di “Rebahan” dan menghadirkan ulang dalam bentuk “HOMME”.

Selain ketelitian pemilihan lagu, Kareem sadar bahwa lagu-lagu yang dipilihnya ini harus didengarkan secara luas dan komersil. Dibantu La Munai, mereka mengurus perijinan lagu persatu lagu ini dengan baik dan teliti sehingga di akhir, MOMO’S adalah contoh yang baik bagaimana lagu-lagu Indonesia dihadirkan ulang dalam sensasi berbeda, yaitu dalam bentuk album hip hop eksperimental yang utuh.

Sedari tadi, saya bolak balik mendengarkan MOMO’S berulang-ulang sambil merenung betapa nantinya musisi-musisi hip hop Indonesia bisa lebih terbuka kepada gocekan-gocekan baru yang nyata-nyatanya memang telah menjadi dilakukan banyak musisi luar bahkan di tatanan komersil sekalipun. Sudah saatnya musisi hip hop kita lebih sensitif kepada khazanah lagu Indonesia yang ternyata punya unsur magis yang luar biasa.

_____

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Dhira Bongs Untai Ragam Kisah di Album Ketiga

Dhira Bongs, solois pop asal Bandung baru saja merilis album penuh ketiganya di hari Jumat (23/09) lalu. Simak kisahnya berikut ini.

5 Alasan Kenapa Last Child Enggak Bubar

Simak 5 alasan kenapa Last Child tidak memutuskan untuk bubar dan masih bertahan sampai hari ini. Selengkapnya di Pophariini.com.