4581

Bukan City Pop Indo, Tapi Indo Pop Urban

Ilustrasi @abkadakab

Jika ada satu tren yang diam-diam menjangkit di industri musik Indonesia sepanjang 2010 sampai sekarang sampai hari ini, itu adalah city pop. Musik city pop 80-an Jepang ini populer kembali secara mendunia di jagat dunia maya. Katalog-katalog lama musik pop Jepang era 80an yang kental dengan pengaruh musik funk/disko dan boogie kemudian menemukan popularitasnya kembali dan menjadi begitu seksi sekarang ketika tren 80-an bergema lagi. Terutama ketika subgenre elektronik vaporwave banyak men-sampling lagu-lagu city pop lawas itu.

Saat itu musik city pop muncul karena gaya hidup di Jepang berubah drastis di era 80an. Biang keladinya adalah industri ekonomi Jepang beserta budaya populernya seperti film, televisi, kartun dan komik manga yang berkembang dan menjadi konsumsi masal seluruh dunia. Kota-kota besar terutama Tokyo terkena modernisasi sehingga bermunculan gedung-gedung tinggi perkantoran dan apartemen. Juga jalan layang serta lampu-lampu kota yang indah, kokoh dan dingin.

Warganya yang kemudian menjalani gaya hidup kosmopolitan berimbas kepada munculnya musik pop bernuansa modern dengan pengaruh funk/disko dan boogie sebagai perayaan kehidupan baru mereka yang ‘urban’ di era 80-an tersebut. Silahkan simak playlist city pop di bawah ini yang dibuka dengan lagu “Plastic Love”. Lagu yang mendadak tenar di jagad internet sepanjang 2018 kemarin.

 

Baca juga:  Debut Album ROXX dan Perayaan Metal Indonesia

Di tahun 2010 hingga kini ‘demam city pop’ ini kambuh lagi karena internet dan Youtube. Youtube dibanjiri oleh playlist city pop Jepang buatan netizen termasuk di Indonesia yang kemudian juga mengklaim punya city pop versinya sendiri. Alasannya historis: ada banyak musisi Indonesia era 80-an yang menyelipkan elemen funk/disko dan boogie ke dalam musik pop mereka.

Sehingga muncul irisan antara musik Indonesia pop disko/funk 80an dengan apa yang disebut musik city pop Jepang. Lalu tidak heran bila saat ini tidak sedikit netizen Indonesia membuka katalog lama musik 80-an Indonesia dan berlomba-lomba membuat playlist city pop versi Indonesia di Youtube. Salah satunya adalah di bawah ini yang dibuat oleh entah siapa, tapi sudah dibuat berseri hingga volume 6.

 

Funk, Benang Merah City Pop dan Pop Urban
City pop secara harafiah bisa disamakan artinya dengan pop urban, yaitu (musik) pop perkotaan dengan pengaruh gaya hidup kosmopolitan manusia sekarang. Unsur funk, disko, boogie, jazz dan elektronik bercampur di dalam pop urban ini. Istilah pop urban pernah dipakai jadi salah satu kategori nominasi di AMI Awards 2015 hingga kini dan juga pernah jadi nama kompilasi CD pada 2009. Musisi yang terlibat adalah yang menyelipkan unsur modern dan urban termasuk musik funk pada lagu-lagunya seperti Maliq & D’essentials, RAN, Soulvibe dan Tompi.

Baca juga:  Nasionalisme Seorang Pelaut Handal Bernama Rich Brian
CD Urban Pop. Foto: Istimewa

Sekali lagi elemen funk adalah irisan antara city pop dengan musik Indonesia yang pernah bersinggungan dengan funk. Seperti yang pernah dibahas sebelumnya di dalam tulisan Katalog Funk Indonesia Yang Malu-Malu tentang sejarah panjang funk dalam musik Indonesia. Hal ini membuat city pop Jepang bisa relevan di Indonesia. Penting diingat, funk sebagai ‘eyang’ nya musik disko ini mempunyai ciri-ciri cenderung ceria dan mampu membuat badan bergoyang, baik itu di lagu bertempo cepat ataupun lambat

Musik funk mempunyai ciri ketukan drum dan permainan bass yang dinamis dan tidak mengikuti ketukan normal, kocokan gitar listrik berdecit di nada tinggi ataupun rendah. Seringkali gitar juga hanya memainkan 3 not sama berulang ulang dengan teknik palm muting yang perkusif. Unsur lainnya adalah suara piano elektrik, synthesizer dan brass section yang bersahutan, kadang dipermanis dengan suara strings section yang menimpali dan perkusi yang primitif jadi penguat tubuh untuk bergoyang.

Kesemua itu bisa terjadi pada lagu bertempo cepat atau lambat, dan tetap akan memberikan sensasi yang berbeda dari mendengarkan musik pop biasa. Dari badan bergoyang, atau hanya kepala yang mengangguk pasti. Contohnya ada pada salah satu lagu pop jazz/funk era 80-an bertempo pelan milik almarhum penyanyi Utha Likumahuwa ini. Meskipun bertempo lambat, namun tubuh mustahil bisa diam tidak bergoyang. Oh ya, dulu sebelum urban pop, media menyebutnya dengan pop kreatif.

Baca juga:  Musik Pop di Indonesia dan Kontrol Negara

Dengan ciri-ciri itu sehingga sah saja bila netizen Indonesia berbahagia ketika menemukan benang merah city pop dengan kearifan lokal pada musik 70 dan 80-an, terutama pada karya-karya legendaris seperti karya Chrisye di era 70/80-an dengan Jockie Suryaprayogo, juga Candra Darusman saat dengan band Chaseiro. Dan yang terpenting Transs dengan album satu-satunya Hotel San Vincete (1982)